Bojongsari, 21 Februari 2017 - Kegiatan hari ini agaknya akan terfokus untuk pendataan pelaku utama perikanan. Sebenarnya, pendataan ini merupakan salah satu tugas yang mulai dilaksanakan oleh tenaga khusus Enumerator yang direkrut secara khusus pula oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Pagi ini, gerimis masih saja membayangi keberangkatan saya berangkat ke kantor. Hujan memang sudah turun sejak semalam. Hingga pagi ini, mataharipun belum mau menampakkan sinarnya. Dikarenakan cuaca tidak memungkinkan, maka pagi ini apel ditiadakan. Setiba dimaskas (Ruangan Khusus KJF Penyuluh Perikanan), saya sempatkan berbincang dengan rekan kerja karena petugas Enumerator yang mengajak saya melakukan pendataan belum hadir.
Selang beberapa menit orang yang ditunggupun datang, basa-basi kemudian sedikit membuat rencana dan strategi dalam rangka pendataan. Sambil menunggu gerimis berhenti, kita masih diskusi maskas. Seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, bahwa tugas pendataan ini sebenarnya sudah menjadi tugas khusus teman-teman Penyuluh Perikanan Bantu (PPB) yang direkrut khusus sebagai tenaga Enumerator. Saya sebagai penyuluh perikanan sifatnya hanya membantu dan memastikan bahwa data yang didapatkan valid dan up to date.
Karena kebetulan petugas enumerator akan mendata pelaku utama yang berada diwilayah binaan saya, dan karena kebetulan yang bersangkutan juga belum menguasai medan, maka jadilah mereka berkoordinasi dengan saya dan sepakat untuk bersama-sama melakukan penelusuran dan pendataan.
Sejurus berlalu, kami akhirnya memulai petualangan. Titik pertama yang kami tuju adalah kantor kepala desa Gembong dimana kami memang telah merencakanan untuk melakukan pendataan di desa bersangkutan. Perjalanan menggunakan motor kurang lebih hanya sekitar 15 menit. Setiba di kantor kepala desa kami pun langsung disambut pak Kades dan dipersilahkan masuk keruangan beliau.
Sambutan yang hangat dari kepala desa yang memang concern terhadap pengembangan perikanan di desanya. Pak Kades yang kebetulan juga adalah seorang penyuluh swadaya, jadilah kami mengobrol dengan intens. Banyak masukan yang disampaikan beliau dalam rangka pembangunan dan pengembangan perikanan di Purbalingga.
Awalnya, kami hanya ingin berkoordinasi dan "kulonuwun" karena mau melakukan pendataan terhadap warga desanya, tetapi kami malah jadi berlama-lama karena berdiskusi panjang lebar tentang perikanan. Karena sudah siang dan jarum jam sudah menunjukkan pukul 10.03 kamipun berpamitan.
Tidak membuang waktu lagi, kami langsung menuju sasaran. Setelah melalui jalan desa dengan rabat beton dan disajikan pemandangan sawah yang telah menguning di kanan jalan dan perkolaman di kiri jalan akhirnya kami tiba di tujuan. Adalah pak Sukiman yang beralamat di RT 12 RW 06 desa Bojongsari. Beliau adalah salah satu rumah tangga perikanan yang membuat olahan somay ikan dengan kapasitas produksi sebanyak 3000 pcs tiap hari.
Produksi sebanyak 3000 pcs merupakan hasil dari adonan sebanyak 40 kg dengan bahan baku utama daging ikan laut sebanyak 5 kg. Selain somay, beliau juga membuat batagor yang dijajakan bersamaan dengan somay ikan dengan cara berkeliling menggunakan gerobak.
Pak sukiman telah memulai usaha berjualan somay sejak tahun 2000, dan kini beliau telah mempunyai 5 gerobak somay yang tiap hari dijajakan masing-masing oleh seorang operator.
Analisa terhadap hasil wawancara, bahwa ternyata pak Sukiman tidak sendiri. Selain beliau, masih ada 5 (lima) rumah tangga lagi yang usahanya seperti pak Sukiman, yaitu sebagai pembuat somay dan batagor ikan. Masing-masing rata-rata mempunyai operator gerobak lebih dari 1 orang. Sebuah potensi yang bagus dan cocok untuk ditumbuhkan menjadi sebuah kelompok pengolah.
Eh, ngomong-ngomong mana nih batagornya, judulnya batagor, tapi kok batagornya ga muncul-muncul? he..he.. sabar pemirsah.. kami sedang menyelesaikan wawancara dulu..... sebentar lagi keluar kok. Eng-ing-eng.... ini dia yang ditungu-tunggu, cuaca gerimis dan perut yang sudah mulai kosong dan datanglah batagor itu, tanpa basa-basi kamipun langsung melahapnya. Enak dan gurih adalah kesan pertama yang saya dapatkan.
Inilah keuntungan jadi seorang penyuluh, data dapat, perutpun kenyang he..he... Sepiring batagor yang gurih itu akhirnya menutup wawancara kami dengan pak Sukiman. Sekitar 45 menit kami diskusi, dan kamipun pamit dengan perut kenyang!
Pagi ini, gerimis masih saja membayangi keberangkatan saya berangkat ke kantor. Hujan memang sudah turun sejak semalam. Hingga pagi ini, mataharipun belum mau menampakkan sinarnya. Dikarenakan cuaca tidak memungkinkan, maka pagi ini apel ditiadakan. Setiba dimaskas (Ruangan Khusus KJF Penyuluh Perikanan), saya sempatkan berbincang dengan rekan kerja karena petugas Enumerator yang mengajak saya melakukan pendataan belum hadir.
Selang beberapa menit orang yang ditunggupun datang, basa-basi kemudian sedikit membuat rencana dan strategi dalam rangka pendataan. Sambil menunggu gerimis berhenti, kita masih diskusi maskas. Seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, bahwa tugas pendataan ini sebenarnya sudah menjadi tugas khusus teman-teman Penyuluh Perikanan Bantu (PPB) yang direkrut khusus sebagai tenaga Enumerator. Saya sebagai penyuluh perikanan sifatnya hanya membantu dan memastikan bahwa data yang didapatkan valid dan up to date.
Karena kebetulan petugas enumerator akan mendata pelaku utama yang berada diwilayah binaan saya, dan karena kebetulan yang bersangkutan juga belum menguasai medan, maka jadilah mereka berkoordinasi dengan saya dan sepakat untuk bersama-sama melakukan penelusuran dan pendataan.
Sejurus berlalu, kami akhirnya memulai petualangan. Titik pertama yang kami tuju adalah kantor kepala desa Gembong dimana kami memang telah merencakanan untuk melakukan pendataan di desa bersangkutan. Perjalanan menggunakan motor kurang lebih hanya sekitar 15 menit. Setiba di kantor kepala desa kami pun langsung disambut pak Kades dan dipersilahkan masuk keruangan beliau.
![]() |
| Sambutan kepala desa Gembong, kecamatan Bojongsari yang hangat |
Awalnya, kami hanya ingin berkoordinasi dan "kulonuwun" karena mau melakukan pendataan terhadap warga desanya, tetapi kami malah jadi berlama-lama karena berdiskusi panjang lebar tentang perikanan. Karena sudah siang dan jarum jam sudah menunjukkan pukul 10.03 kamipun berpamitan.
Tidak membuang waktu lagi, kami langsung menuju sasaran. Setelah melalui jalan desa dengan rabat beton dan disajikan pemandangan sawah yang telah menguning di kanan jalan dan perkolaman di kiri jalan akhirnya kami tiba di tujuan. Adalah pak Sukiman yang beralamat di RT 12 RW 06 desa Bojongsari. Beliau adalah salah satu rumah tangga perikanan yang membuat olahan somay ikan dengan kapasitas produksi sebanyak 3000 pcs tiap hari.
Produksi sebanyak 3000 pcs merupakan hasil dari adonan sebanyak 40 kg dengan bahan baku utama daging ikan laut sebanyak 5 kg. Selain somay, beliau juga membuat batagor yang dijajakan bersamaan dengan somay ikan dengan cara berkeliling menggunakan gerobak.
![]() |
| Salah satu gerobak somay yang dimiliki oleh bapak Sukiman. Siap untuk dijajakan oleh seorang operator |
Analisa terhadap hasil wawancara, bahwa ternyata pak Sukiman tidak sendiri. Selain beliau, masih ada 5 (lima) rumah tangga lagi yang usahanya seperti pak Sukiman, yaitu sebagai pembuat somay dan batagor ikan. Masing-masing rata-rata mempunyai operator gerobak lebih dari 1 orang. Sebuah potensi yang bagus dan cocok untuk ditumbuhkan menjadi sebuah kelompok pengolah.
Eh, ngomong-ngomong mana nih batagornya, judulnya batagor, tapi kok batagornya ga muncul-muncul? he..he.. sabar pemirsah.. kami sedang menyelesaikan wawancara dulu..... sebentar lagi keluar kok. Eng-ing-eng.... ini dia yang ditungu-tunggu, cuaca gerimis dan perut yang sudah mulai kosong dan datanglah batagor itu, tanpa basa-basi kamipun langsung melahapnya. Enak dan gurih adalah kesan pertama yang saya dapatkan.
Inilah keuntungan jadi seorang penyuluh, data dapat, perutpun kenyang he..he... Sepiring batagor yang gurih itu akhirnya menutup wawancara kami dengan pak Sukiman. Sekitar 45 menit kami diskusi, dan kamipun pamit dengan perut kenyang!


ConversionConversion EmoticonEmoticon