Bojongsari, 22 Februari 2017 - Kali ini saya berkesempatan untuk anjangsana ke tempat Bapak Soimun yang beralamat di desa Pagedangan, RT 11 RW 05. Beliau merupakan ketua pokdakan Karya Ikan yang sudah manded membenihkan gurame dan lele.
Hal yang menjadikan saya senang berkunjung ke tempat pak Soimun adalah karena beliau mempunyai cara yang unik dan ekstrim dalam memijahkan Gurame. Beliau memijahkan gurame dengan cara yang sangat berbeda dan jauh dari teori yang ada di buku-buku. Gurame oleh pak Soimun dipijahkan di kolam terpal dengan 0℅ pergantian air, cara yang sepertinya belum pernah ada dan diluar kebiasaan.
Tapi itulah kenyataannya. Dengan 4 (empat) buah kolam terpal berukuran 2x4 m, beliau memasangkan 1 gurame jantan dan 2 gurame betina untuk dipijahkan. Tidak ada anjang-anjang untuk menempatkan bahan sarang, juga tidak ada sosog untuk tempat bersarang. Hanya ada gumpalan ijuk yang ditempatkan di pojokan kolam. Pakan yang diberikan juga hanya berupa daun sente, tidak menggunakan pelet dengan protein yang bagus.
Dari 4 (empat) unit kolam terpal untuk pemijahan gurame, pak Soimun biasa memanen telur gurame setiap 15 hari sekali dengan jumlah telur rata-rata 7000 butir. Dari beliau saya benar-benar belajar bagaimana pengalaman mengalahkan teori. Tidak terbayang sebelumnya, memijahkan gurame di kolam terpal tanpa penggantian air sedikitpun.
Bagi saya itu adalah ilmu baru yang pantas untuk diapresiasi. Kearifan lokal yang menurut saya patut mendapatkan penghargaan, ditempat kami beliau adalah penemu yang akan terus saya gali ilmunya. Pelajaran yang bisa saya ambil sepintas adalah bahwa bila kita berusaha secara sungguh-sungguh pasti akan menuai hasil.
Pak Soimum belajar memijahkan gurame dengan cara autodidak, membaca buku bagi beliau justru jadi membingungkan. Banyak istilah-istilah yang tidak dia mengerti seperti pH, densitas, kecerahan, dan sebagainya. Beliau pada akhirnya hanya mencoba, dengan imajinasinya dan karena kondisi lahan yang sempit dan berbatu Beliau membuat kolam terpal dan menempatkan induk gurame disana.
Tidak menyangka, dari hasil coba-coba ternyata gurame yang dipijahkan bersarang dan bertelur. Saat pertama kali mencoba, beliau tidak mengunakan ijuk sebagai bahan sarangnya. Beliau hanya meletakkan serasah dari karung beras yang disobek-sobek kecil dan ditebar begitu saja. Yang menjadi lucu adalah ketika beliau bercerita sempat menyangka istrinya membuang minyak di kolam pembenihan karena melihat banyak minyak di permukaan air di sekitar sarang. Karena ketidaktahuannya, minyak yang keluar sebagai akibat bertelurnya gurame disangka minyak yang dibuang kedalam kolam oleh istrinya.
Pak soimun tidak mengenal pH meter ataupun termometer, hanya pengalaman dan insting-nya saja yang bermain. Jadi jangan tanya berapa suhu dan pH yang cocok untuk pemijahan gurame di kolam terpal. Hal ini merupakan permasalahan tersendiri yang harus diperbaiki oleh saya sebagai seorang penyuluh, karena tidak selamanya akan akurat jika hanya mengandalkan insting. Pembudidaya setidaknya punya alat ukur kualitas air dan mencatat perubahan kualitas air setiap hari.
Sembari berdiskusi saya menyarankan pada beliau agar mempunyai buku produksi dan buku khusus untuk mencatat kualitas air (suhu dan pH). Saya berseloroh demikan karena memang beliau tidak mempunyai catatat lengkap mengenai kegiatan produksi benihnya dan ini merupakan kelemahan yang ditemui hampir setiap pembudidaya, mereka lemah dalam hal pencatatan!
Hal yang menjadikan saya senang berkunjung ke tempat pak Soimun adalah karena beliau mempunyai cara yang unik dan ekstrim dalam memijahkan Gurame. Beliau memijahkan gurame dengan cara yang sangat berbeda dan jauh dari teori yang ada di buku-buku. Gurame oleh pak Soimun dipijahkan di kolam terpal dengan 0℅ pergantian air, cara yang sepertinya belum pernah ada dan diluar kebiasaan.
Tapi itulah kenyataannya. Dengan 4 (empat) buah kolam terpal berukuran 2x4 m, beliau memasangkan 1 gurame jantan dan 2 gurame betina untuk dipijahkan. Tidak ada anjang-anjang untuk menempatkan bahan sarang, juga tidak ada sosog untuk tempat bersarang. Hanya ada gumpalan ijuk yang ditempatkan di pojokan kolam. Pakan yang diberikan juga hanya berupa daun sente, tidak menggunakan pelet dengan protein yang bagus.
Dari 4 (empat) unit kolam terpal untuk pemijahan gurame, pak Soimun biasa memanen telur gurame setiap 15 hari sekali dengan jumlah telur rata-rata 7000 butir. Dari beliau saya benar-benar belajar bagaimana pengalaman mengalahkan teori. Tidak terbayang sebelumnya, memijahkan gurame di kolam terpal tanpa penggantian air sedikitpun.
![]() |
| Kolam terpal yang biasa digunakan untuk memijahkan gurame |
Pak Soimum belajar memijahkan gurame dengan cara autodidak, membaca buku bagi beliau justru jadi membingungkan. Banyak istilah-istilah yang tidak dia mengerti seperti pH, densitas, kecerahan, dan sebagainya. Beliau pada akhirnya hanya mencoba, dengan imajinasinya dan karena kondisi lahan yang sempit dan berbatu Beliau membuat kolam terpal dan menempatkan induk gurame disana.
Tidak menyangka, dari hasil coba-coba ternyata gurame yang dipijahkan bersarang dan bertelur. Saat pertama kali mencoba, beliau tidak mengunakan ijuk sebagai bahan sarangnya. Beliau hanya meletakkan serasah dari karung beras yang disobek-sobek kecil dan ditebar begitu saja. Yang menjadi lucu adalah ketika beliau bercerita sempat menyangka istrinya membuang minyak di kolam pembenihan karena melihat banyak minyak di permukaan air di sekitar sarang. Karena ketidaktahuannya, minyak yang keluar sebagai akibat bertelurnya gurame disangka minyak yang dibuang kedalam kolam oleh istrinya.
![]() |
| Hasil panen telur gurame hari ini, Rabu 22 Februari 2017 |
Sembari berdiskusi saya menyarankan pada beliau agar mempunyai buku produksi dan buku khusus untuk mencatat kualitas air (suhu dan pH). Saya berseloroh demikan karena memang beliau tidak mempunyai catatat lengkap mengenai kegiatan produksi benihnya dan ini merupakan kelemahan yang ditemui hampir setiap pembudidaya, mereka lemah dalam hal pencatatan!


ConversionConversion EmoticonEmoticon