Teknik Pengangkutan dan Distribusi Ikan dan Hasil Perikanan

Pendahuluan

Pengangkutan dan atau distribusi Ikan adalah kegiatan yang seringkali tidak mendapat perhatian khusus dari para pengusaha perikanan. Pola distribusi sebagian para pengusaha perikanan masih bersifat tradisional dan sangat sederhana. Hal ini menyebabkan hasil perikanan seringkali tiba ke tangan konsumen dalam kondisi yang sudah tidak bagus lagi.

Banyak terekpose di tambak-tambak tradisional baik udang maupun bandeng, setelah diangkat/ dipanen dari tambak kondisi udang dan bandeng kondisinya sudah tidak bagus. Selain dipanen dengan cara yang kurang baik, proses penyiapan dan sarana untuk distribusinya juga asal-asalan. Udang dan bandeng hasil panen di tambak tradisional terlihat rusak dan tidak segar lagi. Hal ini tentu saja sangat mempengaruhi terhadap harga jual di tingkat konsumen yang akan mengakibatkan kerugian.

Setali tiga uang dengan pengangkutan hasil perikanan pada kapal-kapal penangkap ikan tradisional. Hasil tangkapan dari para nelayan tradisional ini seringkali disimpan dalam palka dengan kondisi yang kurang layak sehingga saat mendarat di Pangkalan Pendaratan Ikan, kondisi ikan sudah tidak bagus lagi dan seringkali sudah mengalami pembusukan.

Distribusi hasil perikanan merupakan rangkaian kegiatan penyaluran hasil perikanan dari suatu tempat ke tempat lain sejak produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran. Hal yang paling prinsip dalam proses distribusi hasil perikanan adalah dengan mempertahankan kondisi alat/ wadah/ sarana yang digunakan dalam proses distribusi agar produk yang didistribusikan sampai ke tujuan dengan tetap mempertahankan mutu dan kualitasnya.

Teknik dan cara distribusi produk hasil perikanan sangat dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya; jenis produk, jenis alat angkut, dan kondisi penyimpanan. Proses distribusi untuk produk kering berbeda dengan produk basah. Begitupun dengan jenis alat angkut yang digunakan, bila produk yang didistribusikan berupa produk basah, maka sarana transportasi yang digunakan harus dilengkapi dengan alat pendingin. Jenis produk yang didistribusikan juga akan berpengaruh terhadap kondisi penyimpanan, sehingga kondisi penyimpanan harus disesuaikan dengan jenis produk yang akan didistribusikan.

Cara Distribusi Ikan Yang Baik

Distribusi ikan dan hasil perikanan dapat dilakukan dengan model penerapan sistem rantai dingin. Dalam sistem ini, suhu ikan hasil tangkapan atau panen diupayakan selalu tetap rendah agar terjaga kesegarannya, yaitu dengan mengoptimalkan penggunaan es dalam penyimpanannya.

Semua kendaraan yang digunakan dalam pengangkutan ikan dan hasil perikanan dipersyaratkan harus mampu mempertahankan suhu dingin yang dibutuhkan baik untuk ikan segar maupun mengawetkan produk beku. Pada pengangkutan jarak jauh, kondisi alat angkut harus bisa mempertahankan suhu ruangnya pada -18oC atau lebih rendah. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan pendinginan mekanis, sirkulasi gas cair dingin, ataupun pemakaian es kering. Untuk refrigerasi dan ketelitian dalam pemuatan, operasi dan pemeliharaannya, sewaktu-waktu harus diperiksa dengan mengukur suhu produk pada awal dan akhir perjalanan. Pengangkutan harus dilakukan dengan hati-hati agar produk perikanan tidak terkena suhu tinggi selama pemuatan dan pembongkaran kendaraan pengangkut.

Dalam kondisi segar ataupun beku, ikan dan produk hasil perikanan dapat diangkut dengan model pengembangan sistem rantai dingin. Adapun sarana dan prasarana yang diperlukan dalam pengangkutan sistem rantai dingin adalah sebagai berikut:

1. Truk ber-refrigerasi (refrigerated truck)

Truk berefrigerasi merupakan alternatif alat transportasi produk perikanan yang baik untuk transportasi jarak jauh dan memakan waktu yang cukup lama.

2. Truk berinsulasi (insulated truck)

Kebutuhan refrigerasi untuk mengangkut ikan dapat ditekan sekecil mungkin dengan cara menginsulasi seluruh bagian sarana angkut sebaik mungkin, yakni atap, dinding, dan lantai. Hal ini dilakukan agar suhu ikan tidak cepat meningkat selama proses distribusi dan agar kapasitas ikan yang diangkut lebih banyak. Penyusunan wadah ikan dalam truk berinsulasi disusun sedemikain rupa dan serapat mungkin sehingga tidak memberikan celah dan ruang agar udara panas tidak dapat masuk diantara wadah tersebut.  Akan lebih baik jika masing-masing tumpukan wadah dilapisi dengan es.

3. Sepeda motor dilengkapi box berinsulasi

Alat ini dirancang dengan harga yang relatif murah tetapi mempunyai daya guna yang maksimal. Alat tersebut berkapasitas 50 kg/ wadah. Setiap motor yang digunakan mempunyai dua wadah. Usia produktif alat ini diperkirakan minimal sampai lima tahun.

4. Cool box

Cool box digunakan terutama sebagai wadah penyimpanan produk hasil perikanan. Untuk keperluan penyimpanan, distribusi dan penjajaannya dilakukan dalam wadah cool box dengan menyelimuti seluruh badan ikan dengan es. Caranya adalah menempatkan es yang lebih tebal dibagian dasar wadah, kemudian menempatkan lapisan ikan dengan ketebalan tertentu diatasnya, selanjutnya ditempatkan lagi lapisan es diatas lapisan ikan, demikian seterusnya berselang-seling dengan yang terakhir (paling atas) adalah lapisan es yang lebih tebal.

Pada ikan yang ukuran kecil, proses seperti ini juga sekaligus merupakan proses mendinginkannya. Efektifitas pendinginannya sangat tergantung kepada ketebalan lapisan ikan, ketebalan lapisan es, dan kekedapan wadah (cool box) terhadap penetrasi panas.

5. Trays/kranjang

Fungsi trays dan keranjang dalam proses distribusi adalah untuk menampung produk olahan ikan sebelum dikemas dan didistribusikan. Untuk produk segar/beku, ikan harus tetap dijaga kesegarannya dengan menambahkan es selama ditampung dalam trays.

6. Sarana sanitasi dan hygiene

Dalam proses distribusi, sarana sanitasi dan hygiene diperukan untuk menjaga kondisi sarana angkutan yang digunakan untuk mengangkut produk-produk perikanan agar tetap bersih, sehingga kesegaran ikan selama proses distribusi tetap terjaga.

Transportasi dan Distribusi Ikan Hidup

Selain dalam bentuk segar dan beku, produk hasil perikanan juga dapat didistribusikan dalam bentuk ikan hidup. Biasanya ikan yang dipasarkan dalam keadaan hidup adalah ikan dari hasil budidaya atau ikan karang yang mempunyai nilai jual cukup tinggi. Pada dasarnya, ada dua metode transportasi ikan hidup, yaitu dengan menggunakan air sebagai media atau sistem basah, dan media tanpa air atau sistem kering. Transportasi sistem basah (menggunakan air sebagai media pengangkutan) terbagi menjadi dua, yaitu sistem terbuka dan sistem tertutup.
Pengangkutan dengan sistem terbuka secara sederhana menggunakan blong dan sepeda motor
Transportasi sistem terbuka pada prinsipnya adalah mengangkut ikan dalam wadah terbuka atau tertutup tetapi secara terus menerus diberikan aerasi untuk mencukupi kebutuhan oksigen selama pengangkutan. Biasanya sistem ini hanya dilakukan dalam waktu pengangkutan yang tidak lama. Berat ikan yang aman diangkut dalam sistem ini tergantung dari efisiensi sistem aerasi, lama pengangkutan, suhu air, ukuran, serta jenis spesies ikan.

Transportasi sistem tertutup mengandung arti bahwa ikan hidup diangkut dalam wadah tertutup dengan suplai oksigen secara terbatas yang telah diperhitungkan sesuai kebutuhan selama pengangkutan. Wadah dapat berupa kantong plastik atau kemasan lain yang tertutup. Faktor-faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan pengangkutan adalah kualitas ikan (harus sehat dan baik), oksigen, suhu (15 – 20oC untuk ikan didaerah tropis), pH (7 – 8), CO2, amoniak, kepadatan dan aktivitas ikan (perbandingan antara volume ikan dengan volume air adalah 1:3 sampai 1:2).

Beberapa permasalahan dalam pengangkutan sistem basah adalah selalu terbentuk buih yang disebabkan banyaknya lendir dan kotoran ikan yang dikeluarkan. Kematian diduga karena pada saat diangkut isi perut masih ada, sehingga pada saat diangkut masih ada kotoran yang mencemari media air yang digunakan untuk transportasi. Oleh karena itu, untuk menghindari terjadinya metabolisme yang sangat tinggi pada saat pengangkutan, maka sebaiknya ikan diberok terlebih dahulu minimal 1 hari sebelum ikan diangkut dengan cara dipuasakan.

Pada transportasi sistem kering, media angkut yang digunkan adalah bukan air, Oleh karena itu ikan harus dikondisikan dalam keadaan aktifitas biologis rendah sehingga konsumsi energi dan oksigen juga rendah. Makin rendah metabolisme ikan, makin rendah pula aktifitas dan konsumsi oksigennya sehingga ketahanan hidup ikan untuk diangkut diluar habitatnya makin besar.

Penggunaan transportasi sistem kering dirasakan merupakan cara yang efektif meskipun resiko mortalitasnya cukup besar. Untuk menurunkan aktivitas biologis ikan (pemingsanan ikan) dapat dilakukan dengan menggunkan suhu rendah, menggunakan bahan metabolik atau anestetik, dan arus listrik.

Pada kemasan tanpa air, suhu diatur sedemikian rupa sehingga kecepatan metabolisme ikan berada dalam taraf metabolisme basal, karena pada taraf tersebut, oksigen yang dikonsumsi ikan sangat sedikit sekedar untuk mempertahankan hidup saja. Secara anatomi, pada saat ikan dalam keadaan tanpa air, tutup insangnya masih mangandung air sehingga melalui lapisan inilah oksigen masih diserap.
Kondisi pingsan merupakan kondisi tidak sadar yang dihasilkan dari sistem saraf pusat yang mengakibatkan turunnya kepekaan terhadap rangsangan dari luar dan rendahnya respon gerak dari rangsangan tersebut. Pingsan atau mati rasa pada ikan berarti sistem saraf kurang berfungsi.

Cara pemingsanan ikan akan berbeda untuk setiap jenis ikan. Namun demikian, secara umum pemingsanan ikan dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu melalui penggunaan suhu rendah, pembiusan menggunakan zat-zat kimia dan penyetruman menggunakan arus listrik.

Pemingsanan dengan menggunakan suhu rendah
Ini dapat dilakukan dengan cara, yakni (a) penurunan suhu secara langsung, dimana ikan langsung dimasukkan dalam air yang bersuhu 10– 15oC , sehingga ikan pingsan; dan (b) penurunan suhu secara bertahap, dimana suhu air sebagai media ikan diturunkan secara bertahap sampai ikan pingsan.

Pemingsanan ikan dengan bahan anestasi (bahan pembius)
Pembiusan dengan menggunakan zat kimia (bahan anastesi) dikatakan berhasil bila memenuhi tiga kriteria, yaitu : (1) Induksi bahan pembius dalam tubuh ikan terjadi dalam waktu tiga menit atau kurang, sehingga ikan lebih mudah ditangani, (2) Kepulihan ikan sampai gerakan renangnya kembali normal membutuhkan waktu kurang dari 10 menit, dan (3) Tidak ditemukan adanya kematian ikan selama 15 menit setelah pembongkaran. Yang harus diperhatikan dalam penggunaan bahan anestasi ini adalah, apakah bahan-bahan tersebut dapat menimbulkan potensi bahaya bagi manusia atau tidak.

Pemingsanan ikan dengan arus listrik
Arus listrik yang aman digunakan untuk pemingsanan ikan adalah yang mempunyai daya 12 volt, karena pada 12 Volt ikan mengalami keadaan pingsan lebih cepat dan tingkat kesadaran setelah pingsan juga cepat.

Setelah ikan pingsan selanjutnya adalah pengemasan. Pada pengangkutan ikan hidup dengan system kering diperlukan media pengisi sebagai pengganti air. Yang dimaksud dengan bahan pengisi dalam pengangkutan ikan hidup adalah bahan yang dapat ditempatkan diantara ikan hidup dalam kemasan untuk menahan ikan dalam posisinya. Bahan pengisi memiliki fungsi antara lain mampu manahan ikan agar tidak bergeser dalam kemasan, menjaga lingkungan suhu rendah agar ikan tetap hidup serta memberi lingkungan udara dan kelembaban memadai untuk kelangsungan hidupnya.

Media pengisi yang sering digunakan dalam pengemasan adalah serbuk gergaji, serutan kayu, serta kertas koran atau bahan karung goni. Jenis serbuk gergaji atau serutan kayu yang digunakan tidak spesifik, tergantung bahan yang tersedia. Diantara beberapa jenis bahan pengisi, sekam padi dan serbuk gergaji merupakan bahan pengisi terbaik karena memiliki karakteristik, yaitu : berongga, mempunyai kapasitas dingin yang memadai, dan tidak beracun. Media serbuk gergaji memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan jenis media lainnya. Keunggulan tersebut terutama pada suhu. Serbuk gergaji mampu mempertahankan suhu rendah lebih lama yaitu 9 jam tanpa bantuan es dan tanpa beban di dalamnya.

Adapun cara pengemasannya adalah sama dengan cara pengemasan produk ikan segar yang ditransportasikan dengan menggunakan coolbox, dimana ikan disusun berlapis dengan serbuk gergaji. Wadah yang digunakan dalam proses pengangkutan ikan hidup dengan sistem kering dapat berupa sterefoam.

Setelah dikemas, selanjutnya ikan siap didistribusikan. Boks-boks sterefoam yang berisi ikan dimasukkan kedalam alat angkut (mobil) yang telah dimodifikasi dengan menambahkan lapisan insulasi pada sekeliling dindingnya. Hal ini untuk menghambat udara panas dari luar yang akan masuk kedalam ruang penyimpanan. Selama dalam transportasi, pengontrolan suhu ruang perlu dilakukan secara rutin dan diupayakan untuk tetap stabil.

Pada saat tiba ditempat tujuan, ikan segera disadarkan. Proses penyadaran adalah dengan mengembalikan ikan sesuai dengan suhu pada habitatnya. Caranya adalah sebagai berikut:
  • Siapkan wadah (bak) yang telah dilengkapi dengan aerasi sehingga oksigen dalam air tercukupi dan sirkulasi dapat berjalan dengan baik.
  • Cuci ikan dengan bersih untuk menghilangkan lendir dan sisa-sisa serbuk gergaji yang masih menempel pada tubuh ikan.
  • Kemudian masukkan ikan kedalam bak.
  • Untuk mempercepat proses penyadaran perlu adanya sedikit rangsangan dengan cara menggerak-gerakkan badan ikan pada buih aerator.
  • Umumnya ikan akan sadar dalam waktu ±10 menit.

Referensi:
http://teknologipascapanen.blogspot.co.id/2012/02/transportasi-ikan-hidup.html
Anonim, 2007. Juknis Penerapan Sistem Rantai Dingin dan Sanitasi Higiene di Unit Pengolahan Ikan. Direktorat Pengolahan Hasil. Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan. Departemen Kelautan dan Perikanan, Jakarta.
Previous
Next Post »

MarisaFood

MarisaFood
Produsen Olahan Ikan Air Tawar