Ada Potensi yang Tersembunyi di Dusun Limbuk

Bojongsari, 1 Maret 2017 - Kunjungan saya hari ini adalah ke dusun Limbuk, salah satu dusun yang ada di Desa Banjaran. Saya akan menghadiri pertemaun kelompok yang sudah secara rutin dilakukan pada setiap hari "selapanan" yaitu hari Rabu-Kliwon. Tahukan artinya 'selapanan'? Kalo tidak tahu, ada baiknya anda membaca dan menyimak ulasan teman saya dari Temanggung mas Mahmud Effendi, S.Tr.Pi tentang kearifan lokal: pertemuan selapanan di link ini: penyuluhperikanan.id

Dusun Limbuk, bagi saya adalah daerah yang secara administratif cukup "terisolir". Saya menggunakan istilah terisolir untuk menggambarkan letak Dusun Limbuk yang menurut kebanyakan orang terlihat nyleneh. Dusun ini secara administratif masuk desa Banjaran, Kecamatan Bojongsari, akan tetapi secara geografis letaknya seakan terpisah dengan desa Banjaran karena terpisah dan harus menyebrangi sungai Banjaran yang cukup lebar untuk sampai kesana. Akses jalan menuju dusun Limbuk agak sedikit sulit, harus melewati ruas jalan yang berbatu dan menaiki jembatan gantung.

Kesan mendalam bagi yang baru pertama kali ke dusun Limbuk mungkin akan tertuju pada jembatan gantung tersebut. Jembatan dengan lapisan papan kayu keras yang berjejer selebar sekitar 1 meter dan sepanjang lebih dari 30 meter. Hanya bisa dilewati sepeda motor dan itupun harus bergantian untuk bisa melewatinya. Bagi yang belum biasa pasti akan ada perasaan takut untuk menyeberanginya, apalagi melihat pemandangan sungai dibawahnya yang aliran airnya cukup deras.

Sebetulnya, ada jalan lain yang bisa dilewati untuk sampai ke dusun tersebut sehingga tidak harus melewat jembatan gantung. Tetapi waktu tempuh akan menjadi lebih lama sekitar 2 (dua) kali lipat karena harus berjalan memutar. Karena saat itu jadwal pertemuan sudah mepet, untuk bisa sampai tepat waktu maka tidak ada pilihan lain bagi saya kecuali harus mengambil jalan melewati jembatan gantung.

Femomena nyleneh ternyata tidak berhenti setelah melewati jembatan gantung. Justru jembatan gantung tersebut seakan merupakan titik nol sebelum menuju dusun Limbuk yang seakan berada di tengah hutan. Setelah melewati jembatan gantung dan memutar sedikit, maka didepan saya disuguhkan pemandangan berupa pepohonan rimbun yang terbelah oleh sebuah jalan dengan rabat beton. Jalan inilah satu-satunya akses bagi warga dusun Limbuk menuju ke ibu kota Kecamatan.

Melewati jalan rabat beton yang tidak seberapa lebar dan hanya bisa saling berpapasan untuk kendaraan roda dua. Berkendara pada jalan yang menanjak tajam, berkelok, dan menurun curam serta sesekali diapit tebing yang dalam selama beberapa saat sebelum masuk ke dusun Limbuk.

Kebetulan sekali, perjalanan saya melewati jalan rabat beton tersebut bertepatan dengan anak-anak SD pulang sekolah. Mereka berjalan kaki sambil bergerombol dan sesekali bercanda ria. Saya dibuat tersentak sesaat sebelum melewati gerombolan anak-anak SD tersebut.  Seakan dejavu dan kembali ke masa sekitar 10 tahun silam. Yah... setelah diingat, ternyata sudah sekitar 10 tahun berlalu tradisi itu tak pernah saya temui disini, semenjak saya lulus dari CPB (sssttt.. jangan bilang-bilang kalo saya pernah sekolah disana. he.. he..he..) untuk pertama kali inilah, ingatan saya benar-benar dikebalikan ke masa saat sekolah di CPB.

Bagi teman-teman yang kebetulan alumni CPB mungkin akan paham dan tidak asing dengan istilah "nebeng". "Pak nebeng pak" teriak berapa anak SD ketika motor saya hendak melalui mereka. Anak-anak tersebut ternyata adalah anak-anak dari warga dusun Limbuk. Mereka bersekolah di SD yang mungkin jaraknya lebih dari 5 km dan sepertinya pulang-pergi terbiasa ditempuh dengan berjalan kaki.

"Nebeng" adalah istilah yang sudah sekian lama tidak saya dengar tetapi terasa tidak asing di telinga. Sehingga, begitu saya mendengar ada anak yang berteriak "pak nebeng pak" saya secara spontan menghentikan sepeda motor saya. Dua orang anak segera saja saya ajak untuk memboceng, jadilah cenglu istilah kerennya. Setelah kedua anak tersebut naik ke sepeda motor, sayapun melanjutkan perjalanan. Tak seberapa lama, deretan perumahan mulai terlihat. Anak yang memboceng saya tiba-tiba berkata sabil setengah berteriak: "pak nanti kalo ada turunan berhenti ya". Benar saja, sejurus kemudian saya melewati jalan menurun yang curam yang menandakan saya harus berhenti untuk menurunkan anak-anak tersebut.

Sekilas memandang, dusun Limbuk bisa saya nilai mempunyai potensi perikanan budidaya yang sangat baik. Air mengalir sepanjang tahun dan banyak lahan tidur yang belum termanfaatkan dan sangat cocok untuk dijadikan kolam. Vegetasi yang ada di dusun tersebut rata-rata adalah tumbuhan kayu keras dan semak belukar. Mempunyai permukaan tanah dengan elevasi yang cukup tinggi dan banyak tebing. Saat ini, rata-rata kolam yang dimiliki oleh warga dusun Limbuk adalah kolam tanah dengan ketinggian air mencapai 70-100 cm. Pergantian air rata-rata sekitar 10-15% per hari.

Saat pertemuan kelompok, kendala budidaya yang mengemuka adalah adanya hama "Lingsang" yang sulit dikendalikan. Linsang selalu menyerang dengan cara bergerombol. Karena sangat banyak, serangannya dapat meludeskan isi satu kolam ikan hanya dalam hitungan menit.
Antusias: Pertemuan kelompok Sumber Agung Dusun Limbuk, Banjaran, peserta nampak antusias dan serius menyimak penjelasan dari Penyuluh Perikanan
Selain Linsang, ada beberapa pembudidaya yang tidak sadar dan belum mengetahui bahwa mereka telah melakukan kesalahan dengan membuat WC diatas kolam. Tradisi seperti itu ternyata telah terbiasa dilakukan dan oleh karena itu sulit untuk ditinggalkan. Harus melakukan pendekatan yang persuasif agar secara bertahap mereka mau meninggalkan tradisi yang salah tersebut.

Fakta lain yang saya dapatkan adalah bagaimana kegiatan budidaya ikan di dusun ini merupakan kegiatan sambilan.  Kegiatan budidaya tidak dikelola secara serius dan dijalankan secara tradisional. Secara aktual banyak warga yang mempunyai kolam luas dengan sumber air memadai. Jika dikelola secara baik dan sungguh-sungguh, maka akan berpotensi menjadi sumber mata pencaharian utama yang akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di dusun Limbuk.

Menyelingi diskusi pada pertemuan kelompok dengan program-program dari pemerintah ternyata ternyata membuat para anggota kelompok antusias dan termotivasi. Suasana menjadi dinamis dan mengalir. Point terpenting bagi saya adalah memang untuk membuat mereka antusias. Karena setelah itu, apapun omongannya pasti akan didengarkan. Bukan begitu teman? He..he...
Previous
Next Post »

MarisaFood

MarisaFood
Produsen Olahan Ikan Air Tawar