![]() |
| Manfaatkan pekarangan: Kolam lele milik Pak Shobirun, efekif memanfaatkan pekarangan yang ada disekeliling rumahnya. Pekalongan, 11 Maret 2017 |
Kunjungan hari ini, yang paling menarik perhatian adalah ketika saya di desa Pekalongan. Disela membantu teman PPB enumerator melakukan validasi data dan melakukan survey produksi di RTP sampel di Desa Pekalongan, saya sempatkan untuk mampir ke rumah pak Shobirun, Beliau saya anggap sebagai tokoh budidaya di desa Pekalongan yang sangat produktif. Oleh karena itu, walaupun namanya tidak muncul di RTP sampel, saya merasa harus tetap bersilaturahi dengan pak Shobirun.
Pak shobirun telah memulai usaha budidaya lele sejak lebih dari 10 tahun yang lalu, usahanya sempat jaya dan juga pernah merugi. Tetapi, beliau yang pensiunan PNS ini tidak lantas menyerah jika usahanya sudah mulai merugi. Saat ada kendala, beliau tidak segan-segan untuk belajar dan menimba ilmu secara langsung ke tempat-tempat yang dianggapnya berhasil dalam budidaya lele. Awalnya, pak shobirun memulai mebesarkan lele dengan mengunakan terpal plastik dan dinding dari bambu. Kolam terpal dibuat disekeliling rumahnya dengan memafaatkan pekarangan secara masimal. Secara bertahap tapi pasti, kini kolam yang dimilikinya telah berubah menjadi permanen.
Kolamnya kini berjumlah sekitar 15 unit dengan berbagai ukuran disesuaikan dengan luas tanah yang ada. Lokasi kolamnya tidak berubah dan hanya memanfatkan pekarangan disekitar rumahnya. Dengan 15 unit kolam pak Shobirun benar-benar memanfaatkan dan memanagenya dengan baik. Waktu tebar benih disetting sedemikian rupa sehingga beliau mampu panen lele secara rutin setiap 10 hari sekali dengan jumlah sekitar 300-400 kg.
Dari 15 kolam tersebut, jumlah total benih lele yang ditebar adalah sekitar 45000 ekor. Manajemen seperti pak Shobirun biasanya memang dimiliki oleh pemilik usaha budidaya dengan kolam yang banyak dan luas, tetapi ternyata pak Shobiriun ini menurut saya bisa dikatakan sebagai miniaturnya. Walapun terlihat sedikit tapi perputarannya cepat dan bisa menjual secara rutin. Dengan harga jual Rp 14.000 (empat belas ribu rupiah) dan rata-rata panen 350 kg maka akan didapatkan nilai jual sebesar Rp 4.900.000.
Jika FCR 1 dan harga pakan Rp 9.500 dan harga benih Rp 150/ekor (asumsi SR 90%), maka pak Shobirun mampu meraup kentungan sebesar Rp 990.000/ 10 hari atau sekitar Rp 2.970.000/ Bulannya. Bagaimana? Lumayan bukan? Itu dari usaha yang dilakukan di lahan yang terbatas, tidak lebih dari 150 M2 luas kolamnya, tetapi karena dikelola dengan baik dan serius, maka bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Di usianya yang telah lanjut, beliau tetap berkarya, tetap mandiri dan produktif.

ConversionConversion EmoticonEmoticon