Teknologi Pembenihan Ikan Tawes (Puntius javanicus) Secara Alami

PENDAHULUAN

Ikan tawes merupakan ikan air tawar yang telah lama dikenal di Indonesia bahkan di beberapa daerah ikan ini biasa menjad pilihan oleh para pembudiaya sebagai ikan kedua dalam budidaya sistem polikultur. Ikan tawes merupakan ikan asli Indonesia yang habitatnya adalah sungai-sungai dengan arus yang deras.
Ikan Tawes Dewasa
Di Purbalingga, ikan tawes juga telah mendapat tempat tersendiri di kalangan masyarakatnya karena terkenal mempunyai rasa yang lezat dan gurih. Bahkan pada momen-monen tertentu, ikan tawes seringkali dijadikan sebagai masakan wajib untuk dihidangkan. Walaupun ikan tawes biasanya bukan merupakan ikan utama yang dibudidayakan pada sistem polikultur, namun permintaan benih ikan tawes tidak pernah menurun dan cenderung meningkat.

Sementara disisi lain, unit pembenihan rakyat di Purbalingga sudah jarang yang menyediakan benih ikan tawes. Mereka beralih untuk menyediakan benih ikan lainnya yang dianggap lebih menguntungkan. Untuk bisa mempertahankan agar ketersediaan benih ikan tawes dapat kontinyu dan berkelanjutan perlu kiranya dilakukan upaya pengembangan pembenihan tawes secara baik.

Penyediaan benih yang bermutu dalam jumlah cukup dan kontinyu merupakan faktor penting dalam upaya pengembangan budidaya ikan konsumsi. Dengan demikian, pengetahuan serta keterampilan dalam usaha pembenihan ikan tawes merupakan hal yang sangat penting untuk dipelajari dan dikuasai.

MENGENAL IKAN TAWES

Secara morfologis, ikan tawes memiliki bentuk badan sedikit gepeng pipih kesamping dan memanjang dengan bentuk punggung relatif tinggi. Tinggi badannya 2,4 – 2,6 kali panjang standar. Bentuk mulut runcing terletak diujung terminal (tengah) dan memiliki dua pasang sungut yang sangat kecil. Tubuhnya ditutupi oleh sisik yang berwarna putih keperak-perakan dan pada bagian punggung berwarna lebih gelap kehijau-hijauan sedangkan warna sisik dibagian perut lebih putih. Panjang tubuhnya dapat mencapai 55 cm dengan berat kurang lebih 2,5 kg.

Ikan tawes merupakan ikan penghuni sungai yang berarus deras dengan bentuk tubuh langsing dan ekor bercagak. Ikan tawes ini tumbuh dengan baik di daerah yang terletak antara 0 - 800 m dari permukaan laut, akan tetapi yang lebih baik untuk pemeliharaan tawes adalah antara 50 – 500 m di atas permukaan laut, dengan suhu optimum sekitar 25 – 33o C. Selain itu, tawes juga tumbuh baik di rawa-rawa, danau dan perairan yang agak payau dengan kadar garam 7 pro mil.

Ikan tawes termasuk golongan pemakan tumbuh-tumbuhan (herbivora), dengan jenis makanannya terdiri dari daun-daunan seperti daun singkong, rumputan-rumputan serta daun talas. Larva tawes memakan alga bersel satu (uniseluler), plankton, lumut-lumutan, dan ganggang penempel (epiphyton) sedangkan tawes dewasa memakan tanaman air seperti hydrilla dan daun-daunan.

Secara umum ikan tawes mudah berkembang biak di alam aslinya. Pemijahannya terjadi pada awal musim penghujan, karena pada kondisi seperti ini permukaan tanah dipinggir sungai, rawa dan danau yang kering saat musim kemarau akan digenangi air pada saat musim penghujan yang dapat menimbulkan rangsangan berupa bau tanah (petrichor). Telur-telur ikan tawes bersifat demersal (melayang didasar perairan) tanpa perlindungan dari induknya sehingga telur tersebut berserakan di dalam air.

TEKNIK PEMIJAHAN

Persiapan Kolam Pemijahan
Kolam yang diperlukan dalam usaha pembenihan ikan tawes tidak jauh berbeda dengan usaha pembenihan ikan air tawar lainnya. Kolam yang digunakan dibuat sesuai dengan peruntukannya seperti kolam induk, kolam pemijahan, kolam penetasan dan kolam pendederan. Kolam-kolam tersebut dilengkapi dengan pintu pemasukan dan pembuangan agar kontuinitas air dapat terjaga.

Ikan tawes memerlukan kolam yang relatif luas untuk pemijahannya yaitu berkisar antara 200 – 300 m2 hal ini karena kolam pemijahan digunakan pula sebagai tempat penetasan dan perawatan benih. Dasar kolam sebaiknya tidak terlalu berlumpur karena akan menyebabkan air menjadi keruh dan telur-telur ikan tawes tidak menetas jika tertutup lumpur.

Sebelum kolam digunakan, dilakukan pengeringan tanah dasar kolam selama 2 – 3 hari, namun perlu dihindari dasar kolam jangan sampai retak-retak yang nantinya menyebabkan sebagian telur jatuh didalamnya dan tertutup lumpur. Pengeringan tanah dasar ini bertujuan untuk membunuh bibit penyakit, menguapkan zat beracun dalam tanah dan yang pokok adalah untuk menimbulkan bau tanah (petrichor) saat kolam pemijahan pertama kali di isi dengan air baru sehingga dapat merangsang ikan tawes untuk memijah.

Sebelum di isi dengan air, kolam dipersiapkan dan di perbaiki pematangnya. Lubang-lubang yang ada ditambal sehingga tidak terjadi kebocoran saat di isi air. Pada dasar kolam, dibuat saluran berupa caren atau kemalir dengan ukuran 40 x 20 cm. Tujuan pembuatan caren ini adalah untuk mempermudah penangkapan induk dan benih hasil pemijahan.

Selanjutnya kolam diisi air pada pagi hari dengan kedalaman 20 cm dan induk dimasukkan kedalamnya. Pintu pemasukan dan pengeluaran air dipasang saringan, pada pintu pemasukan ditempatkan agak ke tengah kolam mengingat ikan tawes ini punya kebiasaan unik mengejar arus, sehingga seringkali melompat keluar kolam.

Pemijahan ikan tawes pada wadah budidaya dapat dilakukan secara alami dengan manipulasi lingkungan. Biasanya kolam pemijahan sekaligus digunakan untuk penetasan dan pendederan larva. Tahapan pemijahannya meliputi antara lain pemilihan induk, persiapan kolam, pelepasan induk, penetasan telur, pemungutan hasil dan pendederan.

Pemilihan Induk
Induk ikan tawes sebaiknya dipelihara pada kolam yang terpisah antara induk jantan dan betina, hal ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam pengontrolan dan penyeleksian induk yang matang gonad. Padat penebaran induk dalam kolam adalah 1 – 2 kg/m2. Pemilihan untuk dijadikan calon induk dilakukan dengan seleksi bertahap berdasarkan kecepatan tumbuhnya, setelah berumur sekitar setengah tahun dilakukan seleksi berdasarkan bentuk morfologi dengan dicirikan sebagai berikut:
  • Kepala agak mengecil dan meruncing.
  • Sisik besar dan teratur.
  • Letak lubang urogenital relatif dekat dengan pangkal ekor
  • Pangkal ekor lebar dan kokoh
Bila dalam pemeliharaan induk kondisi pakan mencukupi, induk betina dapat dipijahkan setiap 3 – 4 bulan, sedangkan untuk induk jantan 1 – 2 bulan sekali. Induk ikan tawes dapat dipijahkan dengan baik selama 5 atau 6 kali setelah lebih dari itu kualitas induk mulai menurun sehingga tidak baik dijadikan induk. Selama masa pemeliharaan, induk ikan tawes diberi makan dedak halus dan dedaunan seperti daun talas, daun singkong dan daun pepaya. Meskipun demikian, induk ikan tawes ini dapat diberikan pakan berupa pelet dengan kandungan protein lebih besar dari 20 %. Pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari dengan dosis 3 – 4 % dari biomasa.

Pemilihan induk dalam proes pemijahan sangat menentukan tingkat keberhasilan dari kegiatan pemijahan itu sendiri. Umumnya ikan tawes dapat dipijahkan mulai umur 10 bulan sampai 1 tahun untuk induk jantan, dan induk betina umur 14 bulan sampai 1,5 tahun.

Induk yang akan dipijahkan adalah induk hasil seleksi dan merupakan stok pemeliharaan induk agar benih yang dihasilkan sesuai dengan yang diharapakan. Perbandingan untuk pemijahan ikan tawes didasarkan atas perbandingan berat yaitu 1 : 1 namun, karena induk jantan berukuran lebih kecil dari betina sehingga jumlah induk jantan yang diperlukan adalah 5-6 ekor dan betina 2 ekor. Induk ikan tawes yang telah matang gonad dan siap untuk dipijahkan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut;

Induk betina:                                                       
  • Perutnya membesar kearah urogenetal (pelepasan)
  • Tubuhnya tidak cacat
  • Gerakannya lamban dan jinak
  • Bila perut diraba terasa lembek
  • Lubang urogenital berwarna kemerah-merahan
  • Pembuluh darah pada sirip tampak kemerah merahan
  • Tutup insang bila diraba lebih licin
  • Sisik besar-besar dan teratur karena mengandung telur.

Induk betina yang akan dipijahkan sebaiknya jangan terlalu tua dan terlalu sering dikawinkan, sebagai batas yang ideal induk betina tidak lebih dari 6 kali dikawinkan. Ikan yang sudah terlalu tua biasanya sisiknya berwana kusam dan fekunditas telur menjadi turun.

Induk jantan:
  • Bentuk tubuh lebih langsing
  • Bila perut diurut kearah anus akan keluar sperma berwarna putih
  • Gerakannya lebih lincah, agresif dan sedikit garang
  • Tutup insang bila diraba terasa kasar
  • Induk yang telah diseleksi kemudian ditampung didalam hapa atau bak khusus untuk diberok secara terpisah, pemberokan dilakukan selama 4 – 5 hari.

Pelepasan induk
Induk-induk yang telah diberok dimasukkan kedalam kolam pemijahan pada pukul 10.00 pagi, pemasukan induk tersebut dilakukan pada saat ketinggian air mencapai kurang lebih 20 cm. Ketika menjelang malam atau pukul 16.00 sore, pemasukan air diperbesar untuk memberikan rangsangan alami selama proses pemijahan sehingga ketinggian air kolam menjadi antara 40 cm pada pintu pemasukan dan 70 cm pada pintu pembuangan. Pada saat itulah induk tawes biasanya mulai berkejar-kejaran dan sesekali terlihat rombongan ikan tawes jantan bersama seekor tawes betina muncul di permukaan kolam.

Biasanya ikan tawes akan memulai memijah pada pukul 19.00 sampai dengan pukul 22.00 yang biasanya ditandai dengan adanya suara berdengung seperti kawanan kumbang. Pemijahan itu biasanya terjadi pada bagian tepi kolam yang dangkal atau dekat dengan pintu pemasukan hal ini karena dipicu adanya bunyi gemericik air masuk. Induk tawes tersebut akan memijah sepanjang malam sampai perut induk betina benar-benar kosong. Selanjutnya pada pagi hari induk-induk tawes tetap dibiarkan didalam kolam pemijahan, dan pemasukan air harus diperkecil untuk menghindari hanyutnya telur tawes dan juga menghindari meloncatnya induk tawes melalui saluran pemasukan maupun pembuangan air.

Penetasan telur
Penetasan telur-telur ikan tawes dilakukan didalam kolam pemijahan, kemudian pada pagi hari telur-telur itu diperiksa, telur yang menumpuk disekitar kolam disebar rata agar penetasan terjadi sempurna. Telur-telur tersebut akan menetas dalam waktu yang singkat yaitu sekitar 13 jam pada suhu antara 24-320 C. Penetasan yang relatif singkat ini dimungkinkan karena telur tawes berdinding sangat tipis, namun untuk penetasan total membutuhkan waktu antara (2 – 3) hari.

Selama proses penetasan, induk-induk tawes diberi pakan berupa dedak halus atau dedaunan. Beberapa hari kemudian barulah benih tawes berwarna putih keperakan mulai terlihat dan memakan dedak halus seperti induknya. Benih-benih tawes tersebut dipelihara selama kurang lebih 25 hari dan selanjutnya dapat dilakukan pemanenan untuk dibesarkan menjadi ukuran konsumsi.

Pemanenan hasil
Pemanenan benih tawes dilakukan minimal setelah masa pemeliharaan selama 25 hari. Benih dipanen dengan menggunan waring halus atau dengan mengeringkan kolam secara total. Pemanenan benih harus dilakukan pada saat suhu air masih rendah untuk menghindari stres yang dapat menyebabkan kematian. Waktu yang tepat untuk pemanenan adalah pagi atau sore hari, untuk penangkapan pada pagi hari, pengeringan kolam dilakukan pada tengah malam, sehingga menjelang matahari terbit air akan tersisa pada kemalir. Benih yang terkumpul didalam kemalir kemudian ditangkap menggunakan secoop-net. Sementara itu, induk-induk tawes dikembalikan ke kolam pemeliharaan induk untuk menunggu kematangan telur berikutnya sehingga pada waktu yang diinginkan dapat kembali dipijahkan.

Benih tawes kemudian ditampung didalam hapa dan ditempatkan pada air yang baru atau di depan pintu pemasukan kolam lain. Didalam hapa kemudian dilakukan sortasi, benih yanag pertumbuhannya bagus dengan morfologi lengkap sebagian dijadikan stok untuk calon induk. Benih yang pertumbuhannya kurang bagus, dapat dibesarkan tersendiri dan dilakukan pengontrolan agar pertumbuhannya dapat dikedalikan.

Referensi:
http://bl0g-blitar.blogspot.co.id/2015/10/cara-pembenihan-ikan-tawes.html
http://1001budidaya.com/pembenihan-ikan-tawes/
Susanto, Heru. 2003. Usaha Pembenihan Dan Pembesaran TawesPenebar Swadaya. Jakarta.

Previous
Next Post »

MarisaFood

MarisaFood
Produsen Olahan Ikan Air Tawar