I. PENDAHULUAN
Ikan lele merupakan salah satu komoditas yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Seiring dengan perkembangan teknologi, saat ini, ikan lele banyak dibudidayakan dengan menggunakan kolam terpal. Banyak referensi dari pada pembudidaya bahwa pembesaran ikan lele dikolam terpal jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan menggunakan kolam konvensional. Hal ini dikarenakan tingkat kelulushidupan (SR) ikan lele yang dibudidayakan di kolam terpal jauh lebih tinggi, waktu produksi yang lebih singkat, hemat air, serta padat tebar yang lebih banyak.
Berbeda dengan kolam tanah/ beton, kolam terpal sangat cocok sebagai solusi untuk daerah yang krisis air atau daerah dengan lahan sempit. Kolam terpal dapat dibuat dihalaman rumah dengan memanfaatkan lahan pekarangan yang kosong, memanfaatkan ruangan/ bangunan bekas pergudangan yang tidak difungsikan, bahkan di atas rumah dengan memanfaatkan ruang terbuka dibalkon rumah bertingkat.
Secara teknis tingkat keberhasilan budidaya di kolam terpal jauh lebih tinggi dikarenakan kemudahan dalam pengawasannya, serta lebih intensif dalam budidayanya. Produksi lele dapat ditingkatkan secara signifikan karena padat tebar dikolam terpal dapat dinaikkan hingga 100-200 ekor/m2. Bahkan saat ini sudah banyak pembudidaya yang berhasil memelihara dengan padat tebar hingga 350 ekor/m2.
Terkait dengan hama dan penyakit yang muncul, budidaya di kolam terpal relatif lebih aman. Hal ini dikarenakan kondisi air dapat dikontrol 100%. Karena air merupakan pintu terbesar bagi masuknya sumber penyakit, dengan mengontrol sumber air, kita dapat melakukan antisipasi dan pencegahan terhadap bibit penyakit yang masuk. Jika sudah terjadi gejala penyakit, maka penanggulangannya juga akan lebih cepat dan terkontrol.
Secara finansial, biaya operasional budidaya lele dikolam terpal dapat ditekan, utamanya dalam hal belanja benih. Benih yang digunakan untuk pembesaran lele dikolam terpal dapat lebih kecil, sehingga harga belinya lebih murah. Adapun secara mutu, ikan lele yang dipelihara di kolam terpal jauh lebih bagus karena lebih bersih dan tidak berbau lumpur.
II. PEMBUATAN KONSTRUKSI KOLAM TERPAL
Pada prinsipnya kolam terpal adalah kolam yang keseluruhan bentuknya, baik bagian dasar, maupun dindingnya terbuat dari terpal. Secara umum kolam terpal bisa dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kolam terpal didalam tanah dan kolam terpal diatas permukaan tanah. Kolam terpal diatas permukaan tanah biasanya dibangun untuk memanfaatkan pekarangan yang ada agar lebih produktif. Pembuatan kolam terpal sebetulnya sangat praktis, pengerjaannya tidak memerlukan waktu yang lama.
2.1. Bahan-bahan untuk membuat kolam terpal
Bahan-bahan yang perlu dipersiapkan untuk membuat terpal antara lain adalah plastik terpal, kerangka dan dinding kolam dari bambu, paralon sebagai saluran outlet maupun inlet, dan bahan pendukung lainnya seperti kawat, paku, dan karet pengikat.
Jenis plastik terpal yang bisa digunakan untuk membuat kolam adalah terpal untuk atap tenda, terpal untuk penutup barang diatas mobil, atau plastic yang bias dipakai oleh patani untuk menjemur padi. Umuran plastic terpal bermacam-macam, tergantung jenisnya. Ada terpal gulung yang berukuran sangat panjang dengan lebar 2 meter, dan ada pula jenis terpal yang telah dipotong-potong dengan ukuran panjang dan lebar yang bervarisasi.
Dipasaran, sudah banyak pilihan ukuran terpal yang dapat digunakan untuk membuat kolam terpal, diantaranya ukuran 3 x 5, 4 x 6, 6 x 12, dan 15 x 11 meter. Ketebalan terpal juga bermacam-macam, semakin tebal maka akan semakin bagus dan awat.
Kerangka/ tonggak kolam terpal dapat dibuat dari bambu yang utuh dengan panjang sekitar 2-2,5 meter. Kerangka ini digunakan untuk menopang dinding kolam dan menahan air. Oleh karena itu, kerangka harus dibuat kokoh dengan menancapkannya kedalam tanah sedalam 1 meter atau lebih. Untuk kolam terpal dengan ukuran 2 x 4 kerangka bambu yang dibutuhkan kurang lebih sebanyak 6-10 batang. Dinding penahan terpal juga dapat dibuat dari bambu yang dibelah dan disusun menyerupai pagar, ukuran dinding dibuat dan menyesuaikan ukuran kolam.
Paralon diperlukan untuk pembuangan/ pengeringan air dan juga untuk menjaga ketinggian air. Biasanya untuk kolam dengan ukuran 3 x 4 meter ukuran paralon yang digunakan adalah diameter 2 atau 2,5 inchi.
Kawat digunakan untuk mengikat dinding kolam pada tiang/ tonggak serta menyatukan sudut-sudut dinding kolam. Selain itu, kawat diperlukan untuk mencencang tiang kolam untuk menahan agar dinding kolam lebih kuat. Dikarenakan tekanan air kolam cukup besar, maka sisi tiang/ kerangka kolam yang satu dengan tiang lainnya yang berseberangan harus dicencang dengan kawat sedemikian rupa sehingga bentuk kolam menjadi kokoh serta dinding tidak miring kearah luar karena tekanan air. Karet pengikat digunakan untuk mengikatkan knee pada terpal plastik di lubang pembuangan air. Sedangkan paku digunakan untuk membuat dinding kolam.
2.2. Cara pembuatan kolam terpal
Peralatan yang perlu dipersiapan untuk membuat kolam terpal adalah gergaji, palu, pahat, pisau, gunting, dan golok. Adapun langkah-langkah untuk membuat kolam terpal diatas permukaan tanah adalah sebagai berikut:
III. PERSIAPAN AIR DAN PENEBARAN BENIH
3.1. Persiapan dan Proses Pengisian Air
Sumber air yang digunakan adalah air yang berasal dari saluran irigasi, sumur, atau sumber air lain yang tidak tercemar. Sumber air harus memenuhi persyaratan tertentu agar dapat digunakan untuk proses budidaya lele. Pesyaratan air yang baik untuk budidaya antara lain adalah:
a. Kejernihan air/ transparansi
Kejernihan air diukur dengan menentukan daya tembus sinar matahari ke dalam lapisan air. Patokan angka minimal kecerahan air untuk budidaya lele adalah 40 cm. Kejernihan air dapat diukur menggunakan piringan berdiameter 5-8 inchi yang ditengahnya diberi tangkai sepanjang 1,5-2 m. Piringan sebelumnya harus dicat bersaling dengan warna putih dan hitam, sedangkan tangkai yang digunakan dapat terbuat dari tongkat kayu/ bambu yang telah diberi skala (panjang).
Cara mengukur kejernihan air adalah dengan mencelupkan alat tersebut ke dalam air, sambil diputar-putar lihatlah warna pada piringan, jika warna di piringan sudah tidak terlihat lagi perbedaannya, maka lihatlah skala pada tongkat. Catat skala tersebut sebagai nilai kejernihan air.
b. Suhu air
Suhu air yang optimal untuk pemeliharaan lele dumbo adalah 25-300 C. Penurunan atau kenaikan suhu yang ekstrim dalam waktu yang cepat akan menyebabkan ikan menjadi stess dan mudah terserang penyakit. Jadi usahakan agar suhu air tidak berfluktuatif dan dijaga pada kisaran 270 C. Untuk menghidari fluktuasi suhu yang tinggi, kolam sabaiknya di beri tanaman air guna mereduksi panas saat siang hari.
Suhu yang telalu tinggi atau terlalu rendah akan mempengaruhi proses metabolisme ikan. Jika proses metabolisme ikan terganggu akan berakibat pada berkurangnya nafsu makan ikan yang pada akhirnya akan mengganggu proses pertumbuhan ikan.
Untuk mengukur suhu digunakan thermometer batang air raksa/ alcohol. Caranya adalah dengan memasukkan thermometer ke dalam air dan diamkan selama beberapa saat. Setelah itu sambil tetap berada di dalam air baca skala yang ada pada thermometer, catat skala tersebut sebagai nilai suhu air.
c. pH air
pH/ Derajat Keasaman ditentukan oleh konsentrasi ion H yang digambarkan dengan angka 1-14. Angka kurang dari 7 menggambarkan bahwa air bersuasana asam, sedangkan angka lebih dari 7 menunjukkan bahwa air bersuasana basa. Pengaruh pH terhadap pertumbuhan lele adalah bahwa air dengan pH kurang dari 4 atau lebih dari 11 menyebabkan kematian pada ikan, pH 6-9 baik untuk budidaya lele. Sedangkan pH yang optimal dan memberikan pertumbuhan lele secara maksimal adalah antara 7.5-8.5.
d. DO (Oksigen Terlarut)
DO/ Oksigen terlarut menggambarkan jumlah oksigen yang terlarut di dalam air. Secara umum, kandungan DO yang optimal untuk pertumbuhan ikan adalah 5 ppm. Akan tetapi karena lele mempunyai abborescent yang dapat mengikat oksigen bebas dari udara maka lele dapat hidup pada air dengan kandungan DO 2 ppm.
e. Kandungan Amoniak
Kandungan amoniak dari sumber air untuk budidaya lele harus tidak lebih dari 0,1 ppm. Ikan sangat peka terhadap amoniak dan senyawanya. Daya ikat darah merah terhadap oksigen akan berkurang seiring dengan peningkatan jumlah amoniak, sehingga bila kandungan amoniak di dalam air tinggi maka ikan akan keracunan dan mengalami kematian masal.
3.2. Pembentukan Plankton dan Pakan Alami
Sebelum bibit lele di tebar harus dipastikan bahwa air kolam telah mengandung pakan alami berupa plankton. Pakan alami ini sangat diperlukan pada saat awal pemeliharaan lele. Bibit lele yang baru ditebar biasanya mengalami tress dan memerlukan penyesuaian. Selama masa penyesuaian tersebut biasanya lele tidak mau makan pakan buatan yang kita berikan dan hanya bergantung pada pakan alami yang ada pada kolam. Jika pakan alami yang ada pada kolam tidak mencukupi maka lele akan kekurangan sumber makanan dan mengalami kematian.
Untuk menumbuhkan pakan alami air kolam biasanya didiamkan selama seminggu, sehingga sudah mulai tumbuh plankton. Akan tetapi untuk mempercepat keberadaan dan pertumbuhan plankton air kolam harus dipupuk. Untuk kolam terpal pemupukan bisa dilakukan dengan menggunakan kotoran ayam yang sebelumnya telah dimasukkan ke dalam karung. Karung yang telah berisi kotoran ayam diikat dan kemudian di gantung pada kolom air. Kolam sudah dapat ditebar benih lele jika sudah tumbuh plankton. Ciri-cirinya adalah jika air sudah berwarna kehijauan atau coklat muda.
3.3. Penebaran Benih
a. Pemilihan Benih
Untuk menghasilkan produksi yang maksimal syarat pertama yang harus diperhatikan adalah benihnya. Benih yang baik dan berkualitas tentu saja akan menghasilkan produksi yang berkualitas juga. Salah satu syarat benih yang baik adalah ukurannya yang seragam, hal ini untuk menghindari kanibalisme dan juga agar nantinya lele yang dihasilkan juga seragam. Jika memungkinkan pilihlah benih yang dihasilkan dari induk yang telah diakui dan bersertifikat.
Benih yang akan ditebar adalah benih dengan ukuran 5-7 cm dan berukuran seragam. Sedangkan padat tebar benih adalah 100 ekor/ m2. Jadi jumlah keseluruhan benih yang diperlukan untuk kolam dengan ukuran 3 x 4 m2 adalah sekitar 1200 ekor.
b. Proses Penebaran Benih
Proses pengambilan benih dan penebaran benih dilakukan pada pagi hari. Untuk mengindari stress benih yang akan ditebar harus diaklimatisasi terlebih dahulu, caranya adalah mencelupkan kantong benih ke dalam kolam hingga suhu air di dalam kantong benih dan di kolam menjadi sama, setelah itu buka kantong benih dan masukkan ke dalam kolam secara perlahan-lahan sehingga memungkinkan bibit lele untuk keluar dari kantong dengan sendirinya.
IV. PROSES PEMBESARAN DAN PANEN
4.1. Manajemen Kualitas Air
Menjaga kualitas air kolam agar selalu dalam kondisi yang optimal adalah syarat mutlak agar usaha budidaya bisa berhasil. Faktor-faktor kualitas air yang harus dikontrol selama proses budidaya yaitu:
a. Kejernihan/ Transparansi air
Parameter kualitas air ini mencerminkan kepadatan plankton, yang juga mencerminkan jumlah pakan alami yang ada di dalam kolam. Kontrol terhadap kejernihan air dilakukan agar jumlah plankton sebagai pakan alami cukup tersedia tetapi juga agar pertumbuhan plankton tidak terlalu booming yang akan menimbulkan masalah pada parameter kualitas air yang lainnya.
Jika air terlalu pekat maka perlu segera dilakukan pergantian air kolam. Cara pergantian air kolam adalah dengan membuang air kolam sebanyak 20-30% kemudian mengisinya dengan air yang baru sampai ketinggian maksimal. Pada bulan pertama pemeliharaan biasanya pergantian air tidak diperlukan karena biasanya kondisi air masih dalam keadaan bagus.
Untuk pergantian air pada bulan kedua dapat dilakukan seminggu sekali, atau menyesuaikan dengan tingkat kejernihan air, jika air terlalu pekat pergantian air dapat ditingkatkan menjadi 2 kali seminggu. Hal ini dilakukan untuk menghindari pnumpukan bahan organic di dalam kolam, karena jika bahan-bahan organik tidak bisa terurai secara sempurna maka akan menimbulkan rancun yang sangat berbahaya bagi kehidupan lele. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi kandungan bahan organik di dalam kolam adalah dengan melakukan pergantian air.
b. Suhu air
Kontrol terhadap suhu sangat penting karena sangat berpengaruh terhadap nafsu makan ikan. Jika suhu air terlalu tinggi maka proses metabolisme di dalam tubuh ikan menjadi tinggi pula. Hal ini akan menyebabkan terlalu banyak energi yang dibutuhkan untuk proses metabolisme, sehingga pertumbuhan ikan tidak optimal. Sebaliknya jika suhu air terlalu rendah, maka proses metabolisme ikan akan terhambat, sehingga ikan tidak mau makan.
c. pH/ Derajat Keasaman
Jika pH perairan terlalu asam, maka harus dinaikkan dengan cara pemberian kapur. Sebaliknya jika pH terlalu tinggi, maka harus diturunkan dengan penggantian air.
4.2. Pakan dan Manajemen Pemberian
Untuk budidaya secara intensif pakan bauatan mutlak diperlukan sebagai satu-satunya cara agar produksi lele dapat optimal. Secara umum, pemberian pakan pada ikan lele dilakukan 2 kali sehari. Sedangkan jumlah pakan yang diberikan semakin hari semakin meningkat sesuai dengan berat badan ikan.
Pada bulan pertama pemeliharaan pakan yang diberikan tiap harinya, antara 3-10% dari total berat lele yang ada di kolam. Perlu diperhatikan bahwa setelah benih ditebar, biarkan ikan tidak diberi pakan sampai 3 hari, setelah itu dihari keempat pakan pellet sudah mulai diberikan.
Pemberian pakan pellet pada bulan kedua dan ketiga adalah sekitar 2-3% dari total berat lele yang ada di kolam. Untuk menambah pertumbuhan lele dan mengurangi biaya produksi, lele dapat diberikan pakan tambahan berupa limbah pemotongan ayam.
4.3. Manajemen Kesehatan Ikan
Kontrol terhadap kesehatan udang dapat dilakukan pada saat sampling. Pada saat sampling dilakukan kita dapat mengamati secara fisik apakah ada kelainan pada tubuh ikan. Jika ada kelainan dan itu dicurigai adalah penyakit maka perlu dilakukan pengobatan dan pencegahan agar penyakit tidak menular ke ikan yang lain.
Khusus untuk penyakit jamur biasanya menyerang lele yang berumur 1-15 hari setelah taber. Ciri-ciri ikan yang terserang penyakit adalah ikan menggantung di permukaan, luka pada mulut, dan punggung berwarna putih. Salah satu pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan mengganti air kolam dengan air yang baru. Akan tetapi yang harus diperhatikan adalah bahwa penggantian air harus dilakukan secara betahap.
4.4. Panen
Setelah melampaui masa pemeliharaan antara 2,5 – 3 bulan dan bobot ikan sudah mencapai 100-120 gram/ ekor maka panen dapat dilakukan. Sebelum ikan dipanen air di dalam kolam harus dikeluarkan hingga tersisa 25%. Setelah air berkurang pemanenan dapat dilakukan dengan menggunakan serok.
Referensi:
Khairuman SP., dkk. Budidaya Lele Dumbo dik Klam Terpal. Agromedia Pustaka. 2008.
Ikan lele merupakan salah satu komoditas yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Seiring dengan perkembangan teknologi, saat ini, ikan lele banyak dibudidayakan dengan menggunakan kolam terpal. Banyak referensi dari pada pembudidaya bahwa pembesaran ikan lele dikolam terpal jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan menggunakan kolam konvensional. Hal ini dikarenakan tingkat kelulushidupan (SR) ikan lele yang dibudidayakan di kolam terpal jauh lebih tinggi, waktu produksi yang lebih singkat, hemat air, serta padat tebar yang lebih banyak.
![]() |
| Contoh kolam terpal di Pokdakan Karya Ikan Desa Pagedangan, Bojongsari-Purbalingga |
Secara teknis tingkat keberhasilan budidaya di kolam terpal jauh lebih tinggi dikarenakan kemudahan dalam pengawasannya, serta lebih intensif dalam budidayanya. Produksi lele dapat ditingkatkan secara signifikan karena padat tebar dikolam terpal dapat dinaikkan hingga 100-200 ekor/m2. Bahkan saat ini sudah banyak pembudidaya yang berhasil memelihara dengan padat tebar hingga 350 ekor/m2.
Terkait dengan hama dan penyakit yang muncul, budidaya di kolam terpal relatif lebih aman. Hal ini dikarenakan kondisi air dapat dikontrol 100%. Karena air merupakan pintu terbesar bagi masuknya sumber penyakit, dengan mengontrol sumber air, kita dapat melakukan antisipasi dan pencegahan terhadap bibit penyakit yang masuk. Jika sudah terjadi gejala penyakit, maka penanggulangannya juga akan lebih cepat dan terkontrol.
Secara finansial, biaya operasional budidaya lele dikolam terpal dapat ditekan, utamanya dalam hal belanja benih. Benih yang digunakan untuk pembesaran lele dikolam terpal dapat lebih kecil, sehingga harga belinya lebih murah. Adapun secara mutu, ikan lele yang dipelihara di kolam terpal jauh lebih bagus karena lebih bersih dan tidak berbau lumpur.
II. PEMBUATAN KONSTRUKSI KOLAM TERPAL
Pada prinsipnya kolam terpal adalah kolam yang keseluruhan bentuknya, baik bagian dasar, maupun dindingnya terbuat dari terpal. Secara umum kolam terpal bisa dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kolam terpal didalam tanah dan kolam terpal diatas permukaan tanah. Kolam terpal diatas permukaan tanah biasanya dibangun untuk memanfaatkan pekarangan yang ada agar lebih produktif. Pembuatan kolam terpal sebetulnya sangat praktis, pengerjaannya tidak memerlukan waktu yang lama.
2.1. Bahan-bahan untuk membuat kolam terpal
Bahan-bahan yang perlu dipersiapkan untuk membuat terpal antara lain adalah plastik terpal, kerangka dan dinding kolam dari bambu, paralon sebagai saluran outlet maupun inlet, dan bahan pendukung lainnya seperti kawat, paku, dan karet pengikat.
Jenis plastik terpal yang bisa digunakan untuk membuat kolam adalah terpal untuk atap tenda, terpal untuk penutup barang diatas mobil, atau plastic yang bias dipakai oleh patani untuk menjemur padi. Umuran plastic terpal bermacam-macam, tergantung jenisnya. Ada terpal gulung yang berukuran sangat panjang dengan lebar 2 meter, dan ada pula jenis terpal yang telah dipotong-potong dengan ukuran panjang dan lebar yang bervarisasi.
Dipasaran, sudah banyak pilihan ukuran terpal yang dapat digunakan untuk membuat kolam terpal, diantaranya ukuran 3 x 5, 4 x 6, 6 x 12, dan 15 x 11 meter. Ketebalan terpal juga bermacam-macam, semakin tebal maka akan semakin bagus dan awat.
Kerangka/ tonggak kolam terpal dapat dibuat dari bambu yang utuh dengan panjang sekitar 2-2,5 meter. Kerangka ini digunakan untuk menopang dinding kolam dan menahan air. Oleh karena itu, kerangka harus dibuat kokoh dengan menancapkannya kedalam tanah sedalam 1 meter atau lebih. Untuk kolam terpal dengan ukuran 2 x 4 kerangka bambu yang dibutuhkan kurang lebih sebanyak 6-10 batang. Dinding penahan terpal juga dapat dibuat dari bambu yang dibelah dan disusun menyerupai pagar, ukuran dinding dibuat dan menyesuaikan ukuran kolam.
Paralon diperlukan untuk pembuangan/ pengeringan air dan juga untuk menjaga ketinggian air. Biasanya untuk kolam dengan ukuran 3 x 4 meter ukuran paralon yang digunakan adalah diameter 2 atau 2,5 inchi.
Kawat digunakan untuk mengikat dinding kolam pada tiang/ tonggak serta menyatukan sudut-sudut dinding kolam. Selain itu, kawat diperlukan untuk mencencang tiang kolam untuk menahan agar dinding kolam lebih kuat. Dikarenakan tekanan air kolam cukup besar, maka sisi tiang/ kerangka kolam yang satu dengan tiang lainnya yang berseberangan harus dicencang dengan kawat sedemikian rupa sehingga bentuk kolam menjadi kokoh serta dinding tidak miring kearah luar karena tekanan air. Karet pengikat digunakan untuk mengikatkan knee pada terpal plastik di lubang pembuangan air. Sedangkan paku digunakan untuk membuat dinding kolam.
2.2. Cara pembuatan kolam terpal
Peralatan yang perlu dipersiapan untuk membuat kolam terpal adalah gergaji, palu, pahat, pisau, gunting, dan golok. Adapun langkah-langkah untuk membuat kolam terpal diatas permukaan tanah adalah sebagai berikut:
- Setelah lokasi lahan ditentukan, maka bersihkan lokasi lahan dari benda-benda yang dapat mengganggu, misalnya rumput atau pohon yang terlalu rimbun, sehingga kolam mendapatkan sinar matahari secara langsung.
- Siapkan tonggak/ tiang utama untuk kerangka kolam. Jika ukuran kolam panjang 4 meter dan lebar 3 meter maka tancapkan tiang dimasing-masing sudut kolam. Jika lebih dari 1 petak, maka diatur agar terlihat rapi. Setelah tonggak utama terpasang maka tancapkan juga tonggak pendukung lainnya disisi-sisi kolam dengan jarak antar tonggak minimal 1 meter.
- Untuk pembuatan dinding kolam, pilih bambu yang sudah tua dan sebaiknya gunakan hanya bagian bawah sampai tengah saja. Bambu dipotong-potong sesuai degan ukuran panjang dan lebar kolam, setelah itu dibelah dengan ketebalan 4-5 cm. Setelah dibelah bersihkan dan serut belahan bambu dengan golok/pisau. Bambu-bambu tersebut selanjutnya disusun sedemikian rupa sehingga berbentuk persegi panjang sesuai dengan ukuran sisi-sisi kolam. Jarak antar bambu disusun dengan kerapatan sekitar 4-5 cm.
- Jika kolam sudah terbentuk, misalnya kolam berukuran 4 x 3 x 1m, atur kemiringan dasar kolam ke salah satu sisi kolam, kemudian pada sisi yang paling rendah dibuat kowenan dengan ukuran kurang lebih 25 x 60 x 10 cm. Tujuan dibuat kowenan tersebut adalah untuk memudahkan pada saat pengeringan dan pemanenan lele.
- Letakkan pralon beserta knee pada sisi dinding yang terdapat kowenan. Knee dan paralon tersebut digunakan sebagai bakal pembuangan air.
- Setelah kerangka kolam selesai, langkah berikutnya adalah pemasangan terpal plastik. Jika kolam yang akan kita buat berukuran 4 x 3 x 1 m maka siapkan terpal dengan ukuran 6 x 5 m. Gelar dan letakkan terpal ditengah kerangka kolam dan atur sudut-sudut terpal terletak di masing-masing sudut dinding kolam. Agar rapih dan tidak terjadi kerutan pemasangan dilakukan secara bergantian dari dinding satu ke dinding yang lain. Bagian sudut di lipat telebih dahulu kemudian dinding bak paling atas dijepit dengan bilah bambu.
- Pada bagian pembuangan air yang telah dipasang paralon dan knee, terpal disobek menyilang tepat diatas lubang knee. Setelah itu, masukkan knee ke dalam lubang tersebut dan ikat secara kuat dengan karet.
- Setelah pemasangan plastik terpal selesai dan lubang pembuangan telah terpasang paralon, maka kolam terpal sudah siap untuk diisi dengan air.
- Pompa listrik;
- Slang atau paralon;
- Aerator/ Blower;
- Timbangan;
III. PERSIAPAN AIR DAN PENEBARAN BENIH
3.1. Persiapan dan Proses Pengisian Air
Sumber air yang digunakan adalah air yang berasal dari saluran irigasi, sumur, atau sumber air lain yang tidak tercemar. Sumber air harus memenuhi persyaratan tertentu agar dapat digunakan untuk proses budidaya lele. Pesyaratan air yang baik untuk budidaya antara lain adalah:
a. Kejernihan air/ transparansi
Kejernihan air diukur dengan menentukan daya tembus sinar matahari ke dalam lapisan air. Patokan angka minimal kecerahan air untuk budidaya lele adalah 40 cm. Kejernihan air dapat diukur menggunakan piringan berdiameter 5-8 inchi yang ditengahnya diberi tangkai sepanjang 1,5-2 m. Piringan sebelumnya harus dicat bersaling dengan warna putih dan hitam, sedangkan tangkai yang digunakan dapat terbuat dari tongkat kayu/ bambu yang telah diberi skala (panjang).
Cara mengukur kejernihan air adalah dengan mencelupkan alat tersebut ke dalam air, sambil diputar-putar lihatlah warna pada piringan, jika warna di piringan sudah tidak terlihat lagi perbedaannya, maka lihatlah skala pada tongkat. Catat skala tersebut sebagai nilai kejernihan air.
b. Suhu air
Suhu air yang optimal untuk pemeliharaan lele dumbo adalah 25-300 C. Penurunan atau kenaikan suhu yang ekstrim dalam waktu yang cepat akan menyebabkan ikan menjadi stess dan mudah terserang penyakit. Jadi usahakan agar suhu air tidak berfluktuatif dan dijaga pada kisaran 270 C. Untuk menghidari fluktuasi suhu yang tinggi, kolam sabaiknya di beri tanaman air guna mereduksi panas saat siang hari.
Suhu yang telalu tinggi atau terlalu rendah akan mempengaruhi proses metabolisme ikan. Jika proses metabolisme ikan terganggu akan berakibat pada berkurangnya nafsu makan ikan yang pada akhirnya akan mengganggu proses pertumbuhan ikan.
Untuk mengukur suhu digunakan thermometer batang air raksa/ alcohol. Caranya adalah dengan memasukkan thermometer ke dalam air dan diamkan selama beberapa saat. Setelah itu sambil tetap berada di dalam air baca skala yang ada pada thermometer, catat skala tersebut sebagai nilai suhu air.
c. pH air
pH/ Derajat Keasaman ditentukan oleh konsentrasi ion H yang digambarkan dengan angka 1-14. Angka kurang dari 7 menggambarkan bahwa air bersuasana asam, sedangkan angka lebih dari 7 menunjukkan bahwa air bersuasana basa. Pengaruh pH terhadap pertumbuhan lele adalah bahwa air dengan pH kurang dari 4 atau lebih dari 11 menyebabkan kematian pada ikan, pH 6-9 baik untuk budidaya lele. Sedangkan pH yang optimal dan memberikan pertumbuhan lele secara maksimal adalah antara 7.5-8.5.
d. DO (Oksigen Terlarut)
DO/ Oksigen terlarut menggambarkan jumlah oksigen yang terlarut di dalam air. Secara umum, kandungan DO yang optimal untuk pertumbuhan ikan adalah 5 ppm. Akan tetapi karena lele mempunyai abborescent yang dapat mengikat oksigen bebas dari udara maka lele dapat hidup pada air dengan kandungan DO 2 ppm.
e. Kandungan Amoniak
Kandungan amoniak dari sumber air untuk budidaya lele harus tidak lebih dari 0,1 ppm. Ikan sangat peka terhadap amoniak dan senyawanya. Daya ikat darah merah terhadap oksigen akan berkurang seiring dengan peningkatan jumlah amoniak, sehingga bila kandungan amoniak di dalam air tinggi maka ikan akan keracunan dan mengalami kematian masal.
3.2. Pembentukan Plankton dan Pakan Alami
Sebelum bibit lele di tebar harus dipastikan bahwa air kolam telah mengandung pakan alami berupa plankton. Pakan alami ini sangat diperlukan pada saat awal pemeliharaan lele. Bibit lele yang baru ditebar biasanya mengalami tress dan memerlukan penyesuaian. Selama masa penyesuaian tersebut biasanya lele tidak mau makan pakan buatan yang kita berikan dan hanya bergantung pada pakan alami yang ada pada kolam. Jika pakan alami yang ada pada kolam tidak mencukupi maka lele akan kekurangan sumber makanan dan mengalami kematian.
Untuk menumbuhkan pakan alami air kolam biasanya didiamkan selama seminggu, sehingga sudah mulai tumbuh plankton. Akan tetapi untuk mempercepat keberadaan dan pertumbuhan plankton air kolam harus dipupuk. Untuk kolam terpal pemupukan bisa dilakukan dengan menggunakan kotoran ayam yang sebelumnya telah dimasukkan ke dalam karung. Karung yang telah berisi kotoran ayam diikat dan kemudian di gantung pada kolom air. Kolam sudah dapat ditebar benih lele jika sudah tumbuh plankton. Ciri-cirinya adalah jika air sudah berwarna kehijauan atau coklat muda.
3.3. Penebaran Benih
a. Pemilihan Benih
Untuk menghasilkan produksi yang maksimal syarat pertama yang harus diperhatikan adalah benihnya. Benih yang baik dan berkualitas tentu saja akan menghasilkan produksi yang berkualitas juga. Salah satu syarat benih yang baik adalah ukurannya yang seragam, hal ini untuk menghindari kanibalisme dan juga agar nantinya lele yang dihasilkan juga seragam. Jika memungkinkan pilihlah benih yang dihasilkan dari induk yang telah diakui dan bersertifikat.
Benih yang akan ditebar adalah benih dengan ukuran 5-7 cm dan berukuran seragam. Sedangkan padat tebar benih adalah 100 ekor/ m2. Jadi jumlah keseluruhan benih yang diperlukan untuk kolam dengan ukuran 3 x 4 m2 adalah sekitar 1200 ekor.
b. Proses Penebaran Benih
Proses pengambilan benih dan penebaran benih dilakukan pada pagi hari. Untuk mengindari stress benih yang akan ditebar harus diaklimatisasi terlebih dahulu, caranya adalah mencelupkan kantong benih ke dalam kolam hingga suhu air di dalam kantong benih dan di kolam menjadi sama, setelah itu buka kantong benih dan masukkan ke dalam kolam secara perlahan-lahan sehingga memungkinkan bibit lele untuk keluar dari kantong dengan sendirinya.
IV. PROSES PEMBESARAN DAN PANEN
4.1. Manajemen Kualitas Air
Menjaga kualitas air kolam agar selalu dalam kondisi yang optimal adalah syarat mutlak agar usaha budidaya bisa berhasil. Faktor-faktor kualitas air yang harus dikontrol selama proses budidaya yaitu:
a. Kejernihan/ Transparansi air
Parameter kualitas air ini mencerminkan kepadatan plankton, yang juga mencerminkan jumlah pakan alami yang ada di dalam kolam. Kontrol terhadap kejernihan air dilakukan agar jumlah plankton sebagai pakan alami cukup tersedia tetapi juga agar pertumbuhan plankton tidak terlalu booming yang akan menimbulkan masalah pada parameter kualitas air yang lainnya.
Jika air terlalu pekat maka perlu segera dilakukan pergantian air kolam. Cara pergantian air kolam adalah dengan membuang air kolam sebanyak 20-30% kemudian mengisinya dengan air yang baru sampai ketinggian maksimal. Pada bulan pertama pemeliharaan biasanya pergantian air tidak diperlukan karena biasanya kondisi air masih dalam keadaan bagus.
Untuk pergantian air pada bulan kedua dapat dilakukan seminggu sekali, atau menyesuaikan dengan tingkat kejernihan air, jika air terlalu pekat pergantian air dapat ditingkatkan menjadi 2 kali seminggu. Hal ini dilakukan untuk menghindari pnumpukan bahan organic di dalam kolam, karena jika bahan-bahan organik tidak bisa terurai secara sempurna maka akan menimbulkan rancun yang sangat berbahaya bagi kehidupan lele. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi kandungan bahan organik di dalam kolam adalah dengan melakukan pergantian air.
b. Suhu air
Kontrol terhadap suhu sangat penting karena sangat berpengaruh terhadap nafsu makan ikan. Jika suhu air terlalu tinggi maka proses metabolisme di dalam tubuh ikan menjadi tinggi pula. Hal ini akan menyebabkan terlalu banyak energi yang dibutuhkan untuk proses metabolisme, sehingga pertumbuhan ikan tidak optimal. Sebaliknya jika suhu air terlalu rendah, maka proses metabolisme ikan akan terhambat, sehingga ikan tidak mau makan.
c. pH/ Derajat Keasaman
Jika pH perairan terlalu asam, maka harus dinaikkan dengan cara pemberian kapur. Sebaliknya jika pH terlalu tinggi, maka harus diturunkan dengan penggantian air.
4.2. Pakan dan Manajemen Pemberian
Untuk budidaya secara intensif pakan bauatan mutlak diperlukan sebagai satu-satunya cara agar produksi lele dapat optimal. Secara umum, pemberian pakan pada ikan lele dilakukan 2 kali sehari. Sedangkan jumlah pakan yang diberikan semakin hari semakin meningkat sesuai dengan berat badan ikan.
Pada bulan pertama pemeliharaan pakan yang diberikan tiap harinya, antara 3-10% dari total berat lele yang ada di kolam. Perlu diperhatikan bahwa setelah benih ditebar, biarkan ikan tidak diberi pakan sampai 3 hari, setelah itu dihari keempat pakan pellet sudah mulai diberikan.
Pemberian pakan pellet pada bulan kedua dan ketiga adalah sekitar 2-3% dari total berat lele yang ada di kolam. Untuk menambah pertumbuhan lele dan mengurangi biaya produksi, lele dapat diberikan pakan tambahan berupa limbah pemotongan ayam.
4.3. Manajemen Kesehatan Ikan
Kontrol terhadap kesehatan udang dapat dilakukan pada saat sampling. Pada saat sampling dilakukan kita dapat mengamati secara fisik apakah ada kelainan pada tubuh ikan. Jika ada kelainan dan itu dicurigai adalah penyakit maka perlu dilakukan pengobatan dan pencegahan agar penyakit tidak menular ke ikan yang lain.
Khusus untuk penyakit jamur biasanya menyerang lele yang berumur 1-15 hari setelah taber. Ciri-ciri ikan yang terserang penyakit adalah ikan menggantung di permukaan, luka pada mulut, dan punggung berwarna putih. Salah satu pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan mengganti air kolam dengan air yang baru. Akan tetapi yang harus diperhatikan adalah bahwa penggantian air harus dilakukan secara betahap.
4.4. Panen
Setelah melampaui masa pemeliharaan antara 2,5 – 3 bulan dan bobot ikan sudah mencapai 100-120 gram/ ekor maka panen dapat dilakukan. Sebelum ikan dipanen air di dalam kolam harus dikeluarkan hingga tersisa 25%. Setelah air berkurang pemanenan dapat dilakukan dengan menggunakan serok.
Referensi:
Khairuman SP., dkk. Budidaya Lele Dumbo dik Klam Terpal. Agromedia Pustaka. 2008.

ConversionConversion EmoticonEmoticon