Pendahuluan
Ikan Arwana
Super Red (Scleropages formosus) merupakan
ikan hias air tawar asli Indonesia yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Eksploitasi
yang berlebihan terhadap ikan ini menyebabkan ikan ini masuk dalam daftar merah
satwa langka. Mengingat nilai ekonomisnya yang tinggi maka perdagangan ikan ini
masih diperbolehkan asalkan merupakan generasi F3 dari penangkaran. Oleh karena
itu peran budidaya sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan konservasi dan pemanfaatan
Arwana Super Red. Budidaya
![]() |
| Arwana Super Red |
Pada pembenihan
ikan arwana super red membutuhkan keahlian yang memadai dalam persiapan wadah, pemeliharaan
induk, pemanenan larva, pemeliharaan larva dan benih, pengelolaan kualitas air dan
penanganan terhadap penyakit. Dengan wadah pemeliharaan yang baik akan menghasilkan
produk yang berkualitas dan menurunkan tingkat timbulnya penyakit serta kematian
ikan. Selain itu, induk harus dipelihara dengan baik karena akan menentukan keberhasilan
dalam pemijahan dan pengeraman larva.
Ciri-ciri Ikan Arwana Super Red
Ada beberapa
ciri-ciri yang dapat dijadikan pedoman untuk membedakan jantan dan betina yang selengkapnya
tertera pada Tabel berikut:
Tabel Perbedaan
Morfologi Jantan dan Betina Ikan Arwana Super Red
Jantan
|
Betina
|
Mulut lebih lebar
|
Mulut lebih kecil
|
Pipi lebih besar
|
Pipi lebih kecil
|
Badan lebih ramping
|
Badan agak gemuk
|
Tahap-tahap dalam Pembenihan
1. Persiapan kolam
Pertama kolam
dikeringkan terlebih dahulu, kemudian lumpur pada kolam tersebut dibuang dengan
cara menyemprotkan air bertekanan tinggi. Setelah itu konstruksi kolam seperti kaki
lima, tanggul, kelamir inlet dan outlet yang rusak diperbaiki. Kolam yang telah
dirombak diisi dengan pasir sebanyak 0,2 l/m3 untuk meningkatkan alkalinitas yang
berfungsi sebagai penyangga (buffer) pH air. Setelah kolam diisi air kemudian ditambahkan
soda kue sebanyak 48 gram/ m3 untuk meningkatkan pH, dan didiamkan selama 1 tahun
untuk kolam baru dan 1 minggu untuk kolam lama. Setelah itu kolam dikeringkan kembali
dan ditambahkan kapur sebanyak 96 gram/ m3 dan pupuk kandang sebanyak 19,2 gram/m3
dan direndam kembali selama 2 bulan untuk kolam baru dan 1 minggu untuk kolam lama.
2. Penebaran Induk
Sebelum ditebar
ke kolam, induk diaklimatisasi terlebih dahulu agar tidak mengalami stres akibat
kondisi lingkungan yang baru, terutama terhadap parameter suhu dan pH air. Induk
yang ditebar di kolam merupakan induk yang memiliki kriteria yang baik seperti sehat,
tidak cacat, dan berumur lebih dari empat tahun. Proses aklimatisasi dilakukan dengan
cara ikan yang dibungkus dalam plastik packing dimasukkan ke kolam dalam posisi
terapung selama 1-5 menit kemudian sedikit demi sedikit air dari kolam pemeliharaan
dimasukkan ke dalam wadah plastik tersebut agar ikan terbiasa dengan lingkungan
barunya. Selanjutnya ikan dilepas secara perlahan-lahan ke dalam kolam. Induk ditebar
ke kolam dengan padat tebar 7-10 ekor/100 m2. Dalam penebaran perbandingan induk
jantan dan betina yang ideal adalah 1 : 1.
3. Pemeliharaan Induk
Induk Arwana
Super Red dipelihara secara masal dalam satu wadah. Pemeliharaan Arwana Super Red
yang dilakukan meliputi pemberian pakan, pengelolaan kualitas air, dan pemeriksaan
kesehatan ikan
4. Pemberian Pakan Induk
Pemberian pakan
dilakukan 1-2 hari sekali pada sore hari berupa kodok sawah atau udang. Metode yang
digunakan untuk pemberian pakan induk merupakan gabungan dari metode retricted (jumlah
pakan 1,25% dari bobot tubuh ikan) dan ad satiation (pemberian pakan sekenyangnya
ikan). Jumlah pakan yang diberikan harus tepat dengan kebutuhan ikan karena pemberian
pakan yang berlebih akan membuat kualitas air menurun akibat pencemaran bahan organic
dan sisa pakan yang akan menjadi racun bagi ikan dan menjadi tempat berkembangbiaknya
penyakit. Kekurangan jumlah pakan yang diberikan akan menyebabkan proses reproduksi
terganggu atau terhenti bahkan telur yang sedang berkembang dapat diserap kembali
oleh induk sebagai pengganti sumber energi.
Pengelolaan Kualitas Air Kolam Induk
Pengelolaan
kualitas air pada pemeliharaan induk dilakukan dengan mempertahankan pH pada kisaran
5,5 sampai 6,5 dengan cara mengganti air secara teratur sebanyak 40-60% dari total
air di kolam setiap tiga sampai tujuh hari sekali atau disesuaikan dengan kualitas
air kolam. Pergantian air juga bergantung pada kualitas air sungai Kapuas, jika
kualitas air sungai memburuk akibat hujan lebat, surut atau kemarau panjang yang
mengakibatkan pH turun dan air keruh maka pergantian air harus ditunda hingga kualitas
air sungai membaik. Jika dalam waktu lama kualitas air sungai tidak membaik sedangkan
kualitas air kolam telah kritis maka dilakukan pergantian air dengan menggunakan
air dari penampungan.
Pemeriksaan Kesehatan Induk
Kesehatan induk
yang ditebar di kolam dipantau setiap hari dengan cara dilihat dari pos pemantauan
atau dari tempat yang agak tinggi di dekat kolam tersebut. Jika ditemukan ikan yang
terlihat sakit maka ikan tersebut harus diambil dari kolam lalu dilakukan karantina
agar penyakit tidak menular pada ikan lain dan dilakukan pengobatan terhadap ikan
tersebut.
Pemijahan Induk
Pemijahan Arwana
dilakukan secara masal yang merupakan turunan dari teknik pemijahan alami dengan
cara menyatukan induk jantan dan betina pada suatu komunitas dalam sebuah kolam
pemijahan dengan perbandingan satu jantan dan satu betina. Arwana merupakan ikan
yang memiliki waktu pematangan telur yang cukup lama yaitu kurang lebih 8 bulan.
Ikan ini juga merupakan jenis ikan mouthbreeder yang mengerami telurnya di mulut
induk jantan sampai menetas dan anaknya mampu berenang dengan sempurna dan berburu
makanan sendiri.
Pemantauan Induk Mengeram
Pemantauan
induk yang mengeram dilakukan pada malam hari dengan bantuan cahaya lampu halogen.
Pada malam hari ikan Arwana cenderung untuk mengapung di permukaan dan ikan ini
memiliki sifat fototaksis positif (menghampiri cahaya). Induk jantan yang mengeram
dapat ditandai dari menggembungnya rahang bagian bawah. Pada umumnya panen larva
dapat dilakukan 40 hari sejak induk ditemukan mengeram. Selama 40 hari tesebut ikan
yang mengeram dipantau terus menerus karena ada kemungkinan ikan membuang telur
yang dierami disebabkan tekanan dari ikan lain, persaingan teritorial atau insting
memelihara anak yang belum berkembang.
Pemanenan Larva
Panen dilakukan
dengan menjaring semua ikan dalam kolam oleh minimal 6 orang. Ikan yang telah dijaring
kemudian dipilih oleh kepala tambak untuk menemukan ikan yang sedang mengerami telur.
Setelah ikan yang mengeram ditemukan maka telur dikeluarkan dari mulut induk oleh
kepala tambak dengan cara memutar-mutarkan ikan agar ikan tersebut tenang, kemudian
mulut ikan dibuka dengan sekali hentakan agar larva keluar dari mulut induk. Ikan
Arwana dewasa merupakan ikan yang agresif, yaitu bila merasa terganggu akan meloncat
kepermukaan. Jika sampai loncatan induk Arwana tersebut mengenai tubuh akan mengakibatkan
luka yang fatal. Oleh karena itu proses pemanenan larva Arwana harus dilakukan dengan
hati-hati dan konsentrasi tinggi.
Persiapan Inkubator dan Akuarium
Inkubator digunakan
untuk memelihara larva sampai kuning telurnya habis. Alat ini berupa akuarium berukuran
30x 30 x 20 cm yang keadaannya dikondisikan agar mirip dengan kondisi di dalam mulut
induk. Dalam incubator disediakan arus buatan dengan cara memasang pipa segi empat
berlubang didalam inkubator. Arus tersebut dibuat oleh pompa yang dirangkai bersama
pipa. Air yang digunakan dalam inkubator berasal dari air sungai yang diendapkan
karena baku mutu kualitas airnya mirip dengan kualitas air kolam. Penggunaan air
olahan pada larva ditakutkan akan mengakibatkan iritasi akibat residu klorin. Untuk
mencegah terjadinya perubahan kualitas air yang mendadak dalam inkubator maka air
disimpan dalam akuarium besar yang kemudian inkubator diletakkan di kolam air dalam
akuarium tersebut.
Langkah pertama
yang perlu dilakukan dalam persiapan inkubator adalah dengan menyiapkan dan membersihkan
semua peralatan berupa akuarium besar berukuran 50 x 35 x 20 cm, inkubator , pipa
yang telah dilubangi, pompa (Aquilla P950-1300 L/ jam), aerasi, pemanas air (water heater) dan sistem filter. Setelah
semua bahan siap, maka peralatan tersebut dirakit dengan merakit sistem filter,
kemudian meletakkan pipa berlubang dalam akuarium besar. Selanjutnya inkubator diletakkan
diatas pipa, lalu pompa dipasang pada pipa dalam inkubator. Setelah semua sistem
terpasang maka akuarium besar diisi dengan air kolam sampai inkubator terendam 10
cm. Langkah terakhir adalah memasang aerasi dan heater. Setelah sistem diadaptasi
selama satu hari maka inkubator tersebut siap digunakan untuk pemeliharaan larva.
Penebaran Larva
Sebelum ditebar
larva diaklimatisasi untuk mencegah stres larva akibat perubahan kualitas air yang
mendadak. Aklimatisasi dilakukan dengan cara memasukkan larva ke dalam plastik kemudian
plastik tersebut diapungkan pada permukaan air selama kurang lebih 5 menit atau
sampai embun air dalam plastic menghilang sebagai tanda suhu di akuarium sama dengan
suhu di dalam plastik. Setelah itu plastik dibuka lalu air dari dalam akuarium sedikit
demi sedikit dimasukkan dalam plastik dengan tujuan agar ikan tidak mengalami stres
akibat perubahan sifat kimia air. Langkah terakhir adalah dengan menenggelamkan
plastik dan membiarkan larva keluar dengan sendirinya dari dalam plastik.
Pemeliharaan Larva dan Benih
Larva yang
dipanen dari dalam mulut induk disebut juga dengan larva prematur. Larva tersebut
biasanya masih sangat lemah karena belum mampu berenang bebas dan suplai nutrisinya
masih bergantung pada kuning telur. Oleh karena itu larva yang dikeluarkan tersebut
perlu ditempatkan pada inkubator untuk pemeliharaannya. Setelah larva mampu berenang
atau kurang lebih larva berumur 18-21 hari dari panen, larva dipindahkan ke dalam
akuarium hingga ukurannya mencapai 11-15 cm. Selama pemeliharaan larva dilakukan
pengelolaan kualitas air dan pemberian pakan.
Pengelolaan Kualitas Air Inkubator Larva
Pengelolaan
kualitas air dalam inkubator dan akuarium dilakukan dengan dua cara yaitu menggunakan
filter fisik dan pergantian air secara rutin. Pada sistem inkubator dan akuarium
dilakukan pergantian air setiap hari sebanyak 30- 50% pada pagi hari. Air yang dimasukkan
ke dalam inkubator adalah air sungai yang telah diendapkan dan difilter terus-menerus
minimal selama 3 hari.
Pemberian Pakan Larva
Pemberian pakan
pada larva dilakukan 4 kali dalam sehari yaitu pada pukul 07.00; 10.00; 13.00 dan
16.30. Larva yang mulai kehabisan kuning telur sampai dengan umur 3 minggu diberikan
pakan berupa cacing beku (Chironomus sp.)
dengan metode sekenyangnya (ad satiation).
Untuk ikan yang sudah bias berenang sempurna diberikan pakan berupa kodok biji,
jangkrik, ulat hongkong sesuai dengan bukaan mulut ikan secara ad satiation
(pemberian pakan sekenyangnya).
Sumber:
http://akuariumikanhiasku.blogspot.co.id/2015/02/ikan-arwarna-super-red-yang-ada-di.html
http://mediapenyuluhanperikananpati.blogspot.co.id/2016/12/pembenihan-ikan-arwana-super-red.html

ConversionConversion EmoticonEmoticon