Pendahuluan
Banyak orang berpikir bahwa memijahkan Gurami harus
dilakukan di kolam tanah yang luas dengan ketersediaan air yang melimpah. Air
harus mengalir ke dalam kolam pemijahan sepanjang hari dengan debit yang
memadai. Cara berpikir seperti ini tidaklah sepenuhnya benar, karena sekarang,
berkat kepiawaian pak Soimum, pembenih Gurami asal desa Pagedangan, kecamatan
Bojongsari, Purbalingga Gurami ternyata bisa dipijahkan di kolam terpal yang
sempit dan dan dangkal tanpa pergantian air sedikitpun.
Jika pembenihan gurami secara konvensional membutuhkan lahan
yang luas dan ketinggian air minimal 80 cm. Tetapi pak Soimun, dengan kolam
terpal ukuran 2x4 meter dan ketinggian air hanya 40 cm sukses memijahkan gurame
tanpa sosog dan anjang-anjang. Bahan sarang berupa ijuk hanya diletakkan saja
di dalam kolam.
Produktifitas dan telur yang dihasilkanpun tidak kalah
dengan pemijahan yang dilakukan secara konvensional, bahkan pemijahan gurami di
kolam terpal air dangkal ala Soimun, tidak mengenal musim. Guram rutin bertelur
sepanjang tahun dengan produktifitas rata-rata 3000-7000 butir telur persarang.
Keunggulan pemihajahan gurami metode kolam terpal air
dangkal selain tidak mengenal musim, juga sangat hemat air. Tidak pernah ada
pergantian air selama tidak ada penguranan air, sehingga air yang digunakan
praktis hanya air yang tergenang.
Persiapan kolam
pemijahan
Kolam pemijahan Gurami dengan metode terpal air dangkal ala
Soimun dapat dibuat diatas permukaan tanah menggunaan papan atau anyaman bambu
sebagai rangka dan dindingnya, atau bisa juga dibuat di dalam tanah dengan
telebih dahulu menggali tanah. Ukuran kolam terpal yang digunakan adalah 2x4 m
dengan ketinggian kolam 50 cm.
![]() |
| Persiapan kolam terpal untuk pemijahan Gurami |
Kolam pemijahan juga sebaiknya dilengkapi dengan penutup
yang berfungsi untuk mencegah masuknya kodok, ataupun hewan pengganggu lainnya
seperti kelelawar, capung dan burung. Penutup kolam dapat berupa waring ataupun
paranet.
Pemilihan Induk dan
Proses Pemijahan
Untuk menghasilkan telur yang baik dengan fekunditas yang
tinggi, seleksi induk harus dilakukan secara cermat dan teliti. Gurami jantan
yang menjadi indukan minimum berumur 4 tahun dengan bobot 2 kg. Sementara itu,
gurami betina minimum berumur 3 tahun dengan bobot 2 kg. Namun, induk dengan
bobot 1,5 kg pun biasanya sudah bisa dipijahkan dan menghasilkan telur yang
relatif bagus.
Induk yang telah dipilih dan diseleksi kemudian di masukan
ke dalam kolam. Setelah induk masuk ke
dalam kolam masukkan juga ijuk sebagai bahan sarang ke dalam kolam. Pemijahan
gurame metode kolam terpal air dangkal ala Soimun ini tidak perlu sosog dan
anjang-anjang.
Proses adaptasi induk di kolam pemijahan biasanya
berlangsung selama 1-2 minggu. Setelah beradaptasi, induk jantan biasanya sudah
mulai membuat sarang dan siap untuk memijah. Bahan sarang akan disusun dengan
rapi oleh induk jantan pada tempat tertentu di sekitar gumpalan ijuk yang telah
disiapkan. Setelah sarang siap, maka induk jantan akan mengajak induk betina
pasangannya untuk memijah.
Sarang yang sudah siap akan terlihat seperti sarang burung
dengan lubang pada posisi sebelah samping yang masih terbuka. Proses pemijahan gurami
biasanya akan dimulai saat sore menjelang malam hingga malam hari antara pukul
15.00-17.00 hingga pukul 19.00, dimana pada saat itu suasana sudah mulai
tenang. Pada proses pemijahan tersebut, induk betina akan menyemprotkan telur
ke dalam sarang dan pada saat yang bersamaan induk jantan juga mengeluarkan
sperma.
Manajemen Pemberian
Pakan Pada Induk
Selama proses pemijahan berlangsung di dalam kolam
pemijahan, induk gurami harus diberikan asupan makanan yang baik sehingga
menghasilkan telur yang optimal. Pakan buatan dalam bentuk pelet dengan protein
yang tinggi dapat diberikan maksimal 1% dari total berat induk/ hari.
Berdasarkan pengalaman, selama ini pak Soimun rutin
memberikan pakan berupa daun sente setiap hari. Sesekali beliau juga memberikan
pakan khusus untuk menjaga kualitas telur gurami yang dihasilkan.
Manajemen Kualiatas
Air
Selama proses pemeliharaan dalam kolam pemijahan, suhu air harus
dijaga agar dalam kondisi yang stabil. Gurami sangat peka terhadap perubahan suhu,
sehingga kolam pembenihan perlu dijaga suhunya agar tetap ideal, yaitu berkisar
25—30o C. Hal ini dikarenakan produktifitas produktivitas gurami juga
sangat terpengaruh oleh suhu.
Naungan perlu dibuat diatas kolam sehingga fluktuasi suhu
tidak terlalu tinggi. Dikarenakan tidak memerlukan pergantian air, maka kontrol
air terutama dilakukan untuk menghindari penumpukan bahan organik berlebih dari
sisa pakan dan feces. Untuk mengurangi penumpukan bahan organik berlebih buang
air bawah kolam secara teratur.
Pemanenan dan
Penetasan Telur
Kondisi permukaan air bisa menjadi indikator keberhasilan
pemijahan gurami. Jika pada permukaan air kolam muncul minyak yang disertai
dengan bau amis, berarti telah terjadi proses pemijahan. Setelah pemijahan
selesai, segera ambil telur pada pagi harinya dan harus dilakukan secara
hati-hati.
![]() |
| Penempatan ijuk sebagai bahan sarang |
Dari pengalaman yang ada, pemijahan satu pasang induk gurami
di kolam terpal air dangkal menghasilkan telur minimum 2 sarang setiap
bulannya. Jika pembudidaya memiliki kolam pemijahan dan induk dengan kualitas
bagus sebanyak 6 pasang, maka dapat dipastikan setiap bulan bisa panen telur
gurami sebanyak 12 sarang. Jika tiap sarang berisi 3.000 butir, maka akan
dihasilkan telur sebanyak 36.000 butir/bulan.
Proses penetasan telur hingga menjadi larva yang siap tebar
dilakukan di dalam bokor. Bokor yang telah berisi telur gurami kemudian
ditempatkan ditempat khusus yang tertutup. Pemantauan dilakukan setiap hari
untuk melihat perkembangan telur dan kualitas air. Jika ada telur yang mati dan
memutih, maka buang dan pisahkan menggunakan pinset. Setelah 24 jam, biasanya
telur sudah mulai menetas dan bergerak. Selanjutnya, dalam kurun waktu 48—72
jam larva sudah mulai terlihat ekornya dan mulai bergerak berputar.
Penanganan dan
pengendalian Hama
Berdasarkan pengalaman, hama pengganggu yang sering muncul
dan diwaspadai pada usaha pembenihan gurami adalah kumbang air, larva capung, kodok,
kelelawar dan ular.
Larva Kumbang Air dan
Capung
Larva kumbang air (Cybister
sp) atau lebih dikenal dengan nama ucrit di daerah Purbalingga merupakan
hama pemangsa yang sangat umum ditemukan dan merupakan musuh utama bagi
pembenih. Terlebih lagi jika air yang digunakan berasal dari saluran irigasi,
ucrit bisa masuk dan berkembang di dalam kolam. Selain ucrit, jenis larva lain
yang bisa berkembangbiak di dalam kolam adalah larva capung. Sifat larva capung
hampir sama dengan ucrit, yaitu sebagai pemangsa larva maupun benih gurami.
Pencegahan untuk kedua hama tersebut bisa dilakukan dengan
memasang saringan air di saluran inlet, jika air yang digunakan adalah air dari
saluran irigasi. Sementara itu, untuk larva capung, cara terbaik yang bisa
dilakukan untuk mencegah perkembangannya adalah menutup kolam menggunakan
waring, sehingga capung tidak bisa masuk dan bertelur di dalam kolam. Jika
larva kumbang air atau capung sudah terlanjur ada di dalam kolam maka harus
dilakuan penangkapan secara manual menggunakan serok atau seser halus.
Penggunakan insektisida harus dihindari apalagi jika kolam telah berisi ikan.
Kodok
Kodok yang berada di kolam pembenihan akan memangsa benih
gurami dan sudah dipastikan akan selalu ada, karena memang habitat hidupnya
yang menyukai air, apalagi pada saat musim kawin dan bertelur. Kodok biasanya
masuk ke dalam kolam pada malam hari dan memangsa benih gurami yang
pergerakannya masih lemah.
Untuk mencegah masuknya kodok ke dalam kolam, tutup rapat
kolam dengan waring. Jangan lupa untuk melakukan kontrol terhadap kolam secara
rutin untuk menghindari kodok bertelur di dalam kolam. Segera ambil dan buang
ke tempat yang jauh kodok yang telah masuk ke dalam kolam. Jika sudah terlihat
adanya telur kodok, maka segera buang atau musnahkan.
Ular
Ular dapat menjadi pemangsa benih gurami ketika sedang
lapar. Tetapi karena siklus makan ular yang lama maka gangguan ular tidak
begitu merisaukan bagi para pembenih, kontrol terhadap kolam sangat diperlukan
untuk mencegah ular masuk ke dalam kolam dan memangsa benih gurami. Kebersihan
lingkungan budidaya juga akan membantu mencegah ular masuk ke dalam areal
budidaya.
Penutup
Pembenihan gurame metode kolam terpal air dangkal ala Soimun
ini merupakan sebuah kearifan lokal yang muncul akibat keterbatasan sumberdaya
yang ada. Keterbatasan lahan dan air
tidak serta merta menyurutkan niat untuk berusaha dan menemukan terobosan.
Dengan berbagai keterbatasan yang ada, pak Soimun yang berasal
Purbalingga ini telah membuktikan bahwa dalam berusaha hal utama yang
diperlukan adalah ketekunan dan kreatifitas. Berkat kreatifitas pak Soimun
ternyata gurami dapat dipijahkan di kolam terpal dangkal dan tanpa aliran air.
Sumber bacaan: Pembenihan Gurame Metode Terpal Air Dangkal,
Agromedia Pustaka, 2017.


ConversionConversion EmoticonEmoticon