PENDAHULUAN
Berbagai
penyakit parasit yang seringkali menyerang ikan gurame, baik pada tahap
pembenihan maupun pembesaran sering menyebabkan kerugian karena menimbulkan kematian
sehingga menurunkan produktifitas. Timbulnya penyakit parasit pada ikan
biasanya disebabkan karena kondisi lingkungan budidaya yang jelek, baik kondisi
air, pakan, maupun lingkungan sekitar budidaya.
![]() |
| Gurame yang terserang penyakit |
Akan tetapi, jika penyakit sudah datang dan menyerang tentu saja
pengendalian dan pengobatan harus segera dilakukan secara cepat dan tepat agar
penyakit yang menyerang dapat dilokalisir dan ditanggulangi. Untuk melakukan
pengendalian dan penanggulangan penyakit parasit yang sering dijumpai menyerang
ikan gurame maka hal mendasar yang perlu diketahui adalah dengan memahami
ciri-ciri dan karakteristik penyakit tersebut.
Setelah mengetahui ciri-ciri dan karekteristik
penyakit parasit yang menyerang, maka diharapkan tindakan yang dilakukan adalah
tindakan yang paling tepat sesuai dengan rekomendasi. Adapun penyakit parasit
yang sering menyerang pada ikan gurame dapat dibagi menjadi beberapa golongan diantaranya
yaitu: penyakit yang disebabkan oleh jamur, penyakit yang disebabkan oleh
protozoa, penyakit yang disebabkan oleh bateri, dan penyakit yang disebabkan
oleh cacing.
PENYAKIT IKAN YANG
DISEBABKAN OLEH JAMUR
Penyakit jamur yang seringkali menyerang telur dan ikan gurami adalah
jamur dari jenis Saprolegniales.
Penyakitnya disebut saprolegniasis (Cotton
Wool Disease). Jamur ini bersifat saprolitik yaitu mengambil nutrien dari
sisa-sisa makhluk hidup dan penyakit oportunistik yang terbiasa ada di
lingkungan perairan.
Gejala serangannya, yaitu muncul selaput berwarna putih
seperti kapas menjumbai (hifa jamur) yang menutupi daerah terinfeksi (kulit,
insang, dan permukaan tubuh ikan). Berikut beberapa cara pencegahan serangan
saprolegniasis.
- Menjaga kualitas air tetap baik, sehingga kondisi lingkungan budi daya selalu terjaga dalam kondisi yang optimum.
- Hindari kepadatan yang tinggi untuk mencegah terjadi gesekan pada ikan yang mengakibatkan luka. Luka pada ikan akan menyebabkan kulit dan sisik terkelupas dan dapat menjadi pintu masuk bagi jamur saprolegniasis untuk berkembangbiak. Hal ini dikarenakan luka yang terjadi dapat memicu tumbuhnya jamur saprolegniasis.
- Apabila serangan saprolegniasis ditemukan, segera lakukan evaluasi terhadap kualitas air dan lakukan upaya-upaya untuk mengembalikan kualitas air agar mencapai kondisi yang ideal.
- Apabila serangan pada ikan sudah parah, maka lakukan pengobatan dengan memberikan fungisida khusus ikan atau dengan perlakuan menggunakan PK dan Providone Iodine (obat merah).
PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH PROTOZOA
Ichtyipthirius multifilis
Parasit Ichtyopthirius
multifilis adalah satu-satunya spesies dari genus Ichtyopthirius yang sering ditemukan menyerang gurami. Penyakit
yang ditimbulkan disebut Ichtyopthiriasis,
bintik putih, white spot atau Ich. Sel I. multifilis berbentuk bulat atau oval disertai silia di seluruh
permukaan tubuhnya. Sel Ich
membenankan diri di dalam lendir pada lapisan epidermis ikan dan terlihat bintik
putih dengan mata telanjang. Berikut gejala yang timbul pada ikan yang
terinfeksi parasit Ichtyopthirius
multifilis.
Muncul bintik putih atau abu-abu pada kulit, insang, dan
sirip yang terletak di bawah lapisan lendir.
Dalam beberapa kasus, bintik putih hanya terlihat di insang,
warna tubuh ikan memudar, adanya produksi lendir yang berlebihan, ikan terlihat
lesu, nafsu makan berkurang, sulit bernapas, ikan menggosok-gosokkan badannya
ke dinding kolam, dan berenang tidak normal.
Pencegahan pertama bisa dilakukan dengan mengkarantina ikan
yang baru datang ke kolam minimum 3 hari di dalam kolam khusus sebelum ditebar
di kolam pemijahan. Selain itu, pastikan pembudidaya menggunakan peralatan budi
daya yang selalu bersih dan steril dengan cara melakukan desinfeksi terhadap
peralatan yang akan digunakan. Pasalnya, penyakit Ich bisa menular melalui jaring dan serok yang telah terpapar oleh
parasit Ichtyopthirius multifilis.
Bagi ikan yang telah terserang penyakit ini bisa diobati
dengan merendam ikan dengan 2—4 ppm KMnO4 selama 30—60 menit, 3% NaCl
selama 1 jam, dan 1,5 ppm Malachyte green
selama 6 jam. Cara tersebut bisa diulang sesuai kebutuhan.
Trichodina
Penyakit ini disebabkan oleh protozoa dari famili Trichodinidae. Penyakit ini sering
disebut trichodiniasis. Ikan gurami yang terinfeksi ringan tidak menunjukkan
gejala klinis terinfeksi. Namun, kondisi bisa berkembang menjadi parah apabila
ada faktor pemicu perkembangan Trichodina,
seperti kandungan bahan organik dan kepadatan yang tinggi. Berikut gejala klinis
ikan yang terinfeksi:
- Kerusakan pada kulit, seperti epitel terkikis dan lepas.
- Luka-luka kecil dan sisik lepas.
- Sirip koyak dan geripis.
- Produksi lendir yang berlebihan.
- Ikan terlihat lesu dan nafsu makannya berkurang.
Henneguya sp.
Parasit lain yang juga menyerang ikan gurami adalah Henneguya sp. yang termasuk protozoa
dari genus Myxosporidia. Penyakit
yang ditimbulkan disebut Henneguyasis.
Gejala klinis yang khas dari henneguyasis
adalah adanya sista putih dengan diameter antara 0,5—1 mm yang terdapat di
dalam dan di antara lamella, sirip
punggung, sirip perut, usus, jantung, ginjal, dan limfa. Pencegahan penyakit
ini bisa dilakukan dengan mengkarantina ikan yang terinfeksi, agar tidak
menularkan ikan yang lainnya. Jika ikan yang terinfeksi sedikit, sista dapat
dipecahkan satu persatu dan olesi lukanya dengan antiseptik. Lakukan pengobatan
di luar wadah budi daya dan air yang digunakan tidak boleh dibuang ke perairan
bebas.
PENYAKIT YANG
DISEBABKAN OLEH CACING
Penyakit parasit yang disebabkan oleh cacing dan seringkali
menyerang gurami, terutama benih gurami, yaitu cacing Monogenea dari spesies Dactylogirus
sp. Bagian tubuh ikan yang ditempeli cacing Monogenea
akan terkikis dan mengalami pembengkakan. Produksi lendir meningkat secara
drastis dan menganggu pernapasan. Warna insang memudar dan membengkak, nafsu
makan berkurang, dan akhirnya mengakibatkan pertumbuhan terhambat.
Timbulnya penyakit ini disebabkan oleh kualitas air yang buruk,
kekurangan pakan, padat tebar terlalu tinggi, dan suhu udara yang rendah.
Penyakit ini dapat menular melalui media air. Cara mengatasinya bisa dilakukan
dengan cara merendam gurami dengan larutan 3% NaCl selama 24 jam.
PENYAKIT YANG
DISEBABKAN OLEH BAKTERI
Aeromonas hydrophylla
Bakteri aeromonas
hydrophylla merupakan bakteri yang menyebabkan penyakit bercak merah (Septicemia Hemorrhagika). Cara penularan
bakteri ini melalui kontak dengan ikan yang sakit atau pun air yang tercemar
bakteri tersebut atau bisa juga melalui ektoparasit. Salah satu pemicunya
adalah stres. Gejala dari serangan ini, diantaranya ikan berwarna lebih gelap
disertai pendaharan yang tidak normal pada permukaan tubuh dan dasar sirip. Terlihat
pula adanya rongga perut yang membesar akibat penumpukan cairan. Permukaan
kulit ikan menjadi lebih kasar karena kekurangan cairan.
Pencegahan terbaik untuk jenis penyakit ini adalah dengan memperbaiki
sanitasi lingkungan, terutama pengurangan polutan organik dan penyesuaian
temperatur. Seiring dengan perkembangan teknologi, sekarang telah ditemukan
vaksin khusus untuk mencegah serangan bakteri aeromonas hydrophylla. Caranya, dengan menyuntikkan vaksin tersebut
ke dalam tubuh induk betina. Vaksinasi juga bisa dilakukan melalui mekanisme
perendaman untuk larva gurami.
Jika telah terinfeksi, pengobatan bisa dilakukan dengan memberikan
antibiotik melalui perendaman yang dilakukan tiga kali berturut-turut,
masing-masing selama 24 jam. Untuk ikan yang nampak luka, bisa diobati dengan mengoleskan
1 ml obat merah yang diencerkan dengan 10 ml air.
Flexybacter columnaris
Flexybacter columnaris
merupakan bakteri penyebab penyakit columnaris.
Gejala yang ditimbulkannya, yaitu ikan menjadi lemas, nafsu makan berkurang,
sirip rontok, insang terkelupas, dan gangguan pernapasan yang disertai tutup
insang menganga. Penyakit ini bisa menular melalui media air atau kontak
langsung antara ikan sehat dengan ikan yang terinfeksi. Pencegahan bisa
dilakukan dengan menjaga sanitasi yang baik, selalu membersihkan peralatan, dan
mengurangi kandungan bahan organik terlarut di dalam kolam. Sementara itu,
pengobatan gurami yang telah terserang penyakit ini bisa dilakukan dengan cara merendam
ikan menggunakan 8—10 ppm antibiotik selama 24 jam.
Mycobacterium sp.
Mycobacterium merupakan
bakteri penyabab penyakit TBC yang menjadi momok bagi pembudidaya gurami, karena
dapat menumbulkan kematian hingga 70%. Mycobacterium
menyerang gurami, terutama yang sedang dalam kondisi stres. Stres pada Gurami bisa
disebabkan oleh kualitas air yang buruk akibat dari tumpukan limbah organik di
dasar kolam.
Perbedaan suhu yang ekstrim antara malam dan siang (10—150C)
juga bisa mengakibatkan ikan lemah dan stres. Karena itu, serangan penyakit ini
biasanya menjadi ganas ketika terjadi peralihan musim hujan ke musim kemarau
atau sebaliknya. Jika suhu air di bawah 26o C, bakteri dengan mudah
menembus sistem pertahanan ikan.
Gejala penyakit ini, diantaranya kulit gurami menjadi lebih
gelap dan timbul bercak merah hingga pendarahan di sekujur tubuh ikan. Biasanya,
bercak merah tersebut ditemukan di pangkal ekor atau di daerah sekitar anus.
Jika bakteri masuk ke dalam tubuh gurami, lama kelamaan akan muncul
benjolan-benjolan kecil dan bagian perut ikan membengkak. Bahkan, mata gurami
akan menonjol seperti hendak jatuh. Jika benjolan tersebut dibedah, akan tampak
granuloma berupa bintil-bintil kecil
berwarna kemerahan. Granuloma ini
merupakan hasil metabolisme bakteri Mycobacterium
sp. yang menyebar ke organ lain, seperti ginjal, hati, dan limfa.
Pencegahan penyakit ini bisa dilakukan dengan menjaga
lingkungan budi daya agar ikan tidak stres. Selain itu, pembudidaya juga bisa
memberikan imunostimulan, berupa vitamin
C dosis 150—500 mg/kg bobot tubuh ikan yang diberikan selama 7—10 hari ketika
ikan masih berukuran benih.
Penyakit TBC pada ikan bersifat zoonosis, yaitu selain menginfeksi ikan, penyakit ini juga bisa
menyerang manusia. Pembudidaya yang menangani ikan terinfeksi bisa tertular
penyakit ini jika tidak segera mencuci tangan. Jika terinfeksi, biasanya akan
timbul bintik-bintik atau koreng pada kulit pembudidaya.
TBC pada gurami termasuk penyakit yang sulit diobati. Jika
seekor gurami terserang bakteri mematikan ini, seisi kolam dapat tertular. Pada
kondisi lapangan, biasanya pembudidaya memusnahkan ikan yang terserang TBC.

ConversionConversion EmoticonEmoticon