Mengenal Penyakit Parasit Pada Gurami dan Cara Pengendaliannya

PENDAHULUAN

Berbagai penyakit parasit yang seringkali menyerang ikan gurame, baik pada tahap pembenihan maupun pembesaran sering menyebabkan kerugian karena menimbulkan kematian sehingga menurunkan produktifitas. Timbulnya penyakit parasit pada ikan biasanya disebabkan karena kondisi lingkungan budidaya yang jelek, baik kondisi air, pakan, maupun lingkungan sekitar budidaya.
Gurame yang terserang penyakit
Mencegah akan lebih baik daripada mengobati, sehingga hal utama dan pertama yang harus dilakukan dalam penanggulangan penyakit pada ikan, utamanya ikan grami adalah dengan melakukan tindakan-tindakan prefentif yaitu dengan menjaga kondisi lingkungan budidaya supaya dalam kondisi yang optimum. Hal ini tentunya akan terwujud dengan melakukan kegiatan budidaya secara baik sesuai dengan kaidah CPIB ataupun CBIB.

Akan tetapi, jika penyakit sudah datang dan menyerang tentu saja pengendalian dan pengobatan harus segera dilakukan secara cepat dan tepat agar penyakit yang menyerang dapat dilokalisir dan ditanggulangi. Untuk melakukan pengendalian dan penanggulangan penyakit parasit yang sering dijumpai menyerang ikan gurame maka hal mendasar yang perlu diketahui adalah dengan memahami ciri-ciri dan karakteristik penyakit tersebut.

Setelah mengetahui ciri-ciri dan karekteristik penyakit parasit yang menyerang, maka diharapkan tindakan yang dilakukan adalah tindakan yang paling tepat sesuai dengan rekomendasi. Adapun penyakit parasit yang sering menyerang pada ikan gurame dapat dibagi menjadi beberapa golongan diantaranya yaitu: penyakit yang disebabkan oleh jamur, penyakit yang disebabkan oleh protozoa, penyakit yang disebabkan oleh bateri, dan penyakit yang disebabkan oleh cacing.

PENYAKIT IKAN YANG DISEBABKAN OLEH JAMUR

Penyakit jamur yang seringkali menyerang telur dan ikan gurami adalah jamur dari jenis Saprolegniales. Penyakitnya disebut saprolegniasis (Cotton Wool Disease). Jamur ini bersifat saprolitik yaitu mengambil nutrien dari sisa-sisa makhluk hidup dan penyakit oportunistik yang terbiasa ada di lingkungan perairan.

Gejala serangannya, yaitu muncul selaput berwarna putih seperti kapas menjumbai (hifa jamur) yang menutupi daerah terinfeksi (kulit, insang, dan permukaan tubuh ikan). Berikut beberapa cara pencegahan serangan saprolegniasis.

  • Menjaga kualitas air tetap baik, sehingga kondisi lingkungan budi daya selalu terjaga dalam kondisi yang optimum.
  • Hindari kepadatan yang tinggi untuk mencegah terjadi gesekan pada ikan yang mengakibatkan luka. Luka pada ikan akan menyebabkan kulit dan sisik terkelupas dan dapat menjadi pintu masuk bagi jamur saprolegniasis untuk berkembangbiak. Hal ini dikarenakan luka yang terjadi dapat memicu tumbuhnya jamur saprolegniasis.
  • Apabila serangan saprolegniasis ditemukan, segera lakukan evaluasi terhadap kualitas air dan lakukan upaya-upaya untuk mengembalikan kualitas air agar mencapai kondisi yang ideal.
  • Apabila serangan pada ikan sudah parah, maka lakukan pengobatan dengan memberikan fungisida khusus ikan atau dengan perlakuan menggunakan PK dan Providone Iodine (obat merah).

PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH PROTOZOA

Ichtyipthirius multifilis

Parasit Ichtyopthirius multifilis adalah satu-satunya spesies dari genus Ichtyopthirius yang sering ditemukan menyerang gurami. Penyakit yang ditimbulkan disebut Ichtyopthiriasis, bintik putih, white spot atau Ich. Sel I. multifilis berbentuk bulat atau oval disertai silia di seluruh permukaan tubuhnya. Sel Ich membenankan diri di dalam lendir pada lapisan epidermis ikan dan terlihat bintik putih dengan mata telanjang. Berikut gejala yang timbul pada ikan yang terinfeksi parasit Ichtyopthirius multifilis.

Muncul bintik putih atau abu-abu pada kulit, insang, dan sirip yang terletak di bawah lapisan lendir.
Dalam beberapa kasus, bintik putih hanya terlihat di insang, warna tubuh ikan memudar, adanya produksi lendir yang berlebihan, ikan terlihat lesu, nafsu makan berkurang, sulit bernapas, ikan menggosok-gosokkan badannya ke dinding kolam, dan berenang tidak normal.

Pencegahan pertama bisa dilakukan dengan mengkarantina ikan yang baru datang ke kolam minimum 3 hari di dalam kolam khusus sebelum ditebar di kolam pemijahan. Selain itu, pastikan pembudidaya menggunakan peralatan budi daya yang selalu bersih dan steril dengan cara melakukan desinfeksi terhadap peralatan yang akan digunakan. Pasalnya, penyakit Ich bisa menular melalui jaring dan serok yang telah terpapar oleh parasit Ichtyopthirius multifilis.

Bagi ikan yang telah terserang penyakit ini bisa diobati dengan merendam ikan dengan 2—4 ppm KMnO4 selama 30—60 menit, 3% NaCl selama 1 jam, dan 1,5 ppm Malachyte green selama 6 jam. Cara tersebut bisa diulang sesuai kebutuhan.

Trichodina

Penyakit ini disebabkan oleh protozoa dari famili Trichodinidae. Penyakit ini sering disebut trichodiniasis. Ikan gurami yang terinfeksi ringan tidak menunjukkan gejala klinis terinfeksi. Namun, kondisi bisa berkembang menjadi parah apabila ada faktor pemicu perkembangan Trichodina, seperti kandungan bahan organik dan kepadatan yang tinggi. Berikut gejala klinis ikan yang terinfeksi:
  • Kerusakan pada kulit, seperti epitel terkikis dan lepas.
  • Luka-luka kecil dan sisik lepas.
  • Sirip koyak dan geripis.
  • Produksi lendir yang berlebihan.
  • Ikan terlihat lesu dan nafsu makannya berkurang.
Pencegahan yang bisa dilakukan adalah menciptakan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi parasit (desifeksi kolam), mencegah kodok masuk ke dalam kolam, dan mengatur kepadatan ikan. Pengobatan dapat dilakukan dengan metode perendaman dalam larutan 2,5% NaCl selama 3 jam dan lakukan berulang selama 3 hari berturut-turut.

Henneguya sp.

Parasit lain yang juga menyerang ikan gurami adalah Henneguya sp. yang termasuk protozoa dari genus Myxosporidia. Penyakit yang ditimbulkan disebut Henneguyasis. Gejala klinis yang khas dari henneguyasis adalah adanya sista putih dengan diameter antara 0,5—1 mm yang terdapat di dalam dan di antara lamella, sirip punggung, sirip perut, usus, jantung, ginjal, dan limfa. Pencegahan penyakit ini bisa dilakukan dengan mengkarantina ikan yang terinfeksi, agar tidak menularkan ikan yang lainnya. Jika ikan yang terinfeksi sedikit, sista dapat dipecahkan satu persatu dan olesi lukanya dengan antiseptik. Lakukan pengobatan di luar wadah budi daya dan air yang digunakan tidak boleh dibuang ke perairan bebas.

PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH CACING

Penyakit parasit yang disebabkan oleh cacing dan seringkali menyerang gurami, terutama benih gurami, yaitu cacing Monogenea dari spesies Dactylogirus sp. Bagian tubuh ikan yang ditempeli cacing Monogenea akan terkikis dan mengalami pembengkakan. Produksi lendir meningkat secara drastis dan menganggu pernapasan. Warna insang memudar dan membengkak, nafsu makan berkurang, dan akhirnya mengakibatkan pertumbuhan terhambat.

Timbulnya penyakit ini disebabkan oleh kualitas air yang buruk, kekurangan pakan, padat tebar terlalu tinggi, dan suhu udara yang rendah. Penyakit ini dapat menular melalui media air. Cara mengatasinya bisa dilakukan dengan cara merendam gurami dengan larutan 3% NaCl selama 24 jam.

PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH BAKTERI

Aeromonas hydrophylla

Bakteri aeromonas hydrophylla merupakan bakteri yang menyebabkan penyakit bercak merah (Septicemia Hemorrhagika). Cara penularan bakteri ini melalui kontak dengan ikan yang sakit atau pun air yang tercemar bakteri tersebut atau bisa juga melalui ektoparasit. Salah satu pemicunya adalah stres. Gejala dari serangan ini, diantaranya ikan berwarna lebih gelap disertai pendaharan yang tidak normal pada permukaan tubuh dan dasar sirip. Terlihat pula adanya rongga perut yang membesar akibat penumpukan cairan. Permukaan kulit ikan menjadi lebih kasar karena kekurangan cairan.

Pencegahan terbaik untuk jenis penyakit ini adalah dengan memperbaiki sanitasi lingkungan, terutama pengurangan polutan organik dan penyesuaian temperatur. Seiring dengan perkembangan teknologi, sekarang telah ditemukan vaksin khusus untuk mencegah serangan bakteri aeromonas hydrophylla. Caranya, dengan menyuntikkan vaksin tersebut ke dalam tubuh induk betina. Vaksinasi juga bisa dilakukan melalui mekanisme perendaman untuk larva gurami.

Jika telah terinfeksi, pengobatan bisa dilakukan dengan memberikan antibiotik melalui perendaman yang dilakukan tiga kali berturut-turut, masing-masing selama 24 jam. Untuk ikan yang nampak luka, bisa diobati dengan mengoleskan 1 ml obat merah yang diencerkan dengan 10 ml air.

Flexybacter columnaris

Flexybacter columnaris merupakan bakteri penyebab penyakit columnaris. Gejala yang ditimbulkannya, yaitu ikan menjadi lemas, nafsu makan berkurang, sirip rontok, insang terkelupas, dan gangguan pernapasan yang disertai tutup insang menganga. Penyakit ini bisa menular melalui media air atau kontak langsung antara ikan sehat dengan ikan yang terinfeksi. Pencegahan bisa dilakukan dengan menjaga sanitasi yang baik, selalu membersihkan peralatan, dan mengurangi kandungan bahan organik terlarut di dalam kolam. Sementara itu, pengobatan gurami yang telah terserang penyakit ini bisa dilakukan dengan cara merendam ikan menggunakan 8—10 ppm antibiotik selama 24 jam.

Mycobacterium sp.

Mycobacterium merupakan bakteri penyabab penyakit TBC yang menjadi momok bagi pembudidaya gurami, karena dapat menumbulkan kematian hingga 70%. Mycobacterium menyerang gurami, terutama yang sedang dalam kondisi stres. Stres pada Gurami bisa disebabkan oleh kualitas air yang buruk akibat dari tumpukan limbah organik di dasar kolam.

Perbedaan suhu yang ekstrim antara malam dan siang (10—150C) juga bisa mengakibatkan ikan lemah dan stres. Karena itu, serangan penyakit ini biasanya menjadi ganas ketika terjadi peralihan musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya. Jika suhu air di bawah 26o C, bakteri dengan mudah menembus sistem pertahanan ikan.

Gejala penyakit ini, diantaranya kulit gurami menjadi lebih gelap dan timbul bercak merah hingga pendarahan di sekujur tubuh ikan. Biasanya, bercak merah tersebut ditemukan di pangkal ekor atau di daerah sekitar anus. Jika bakteri masuk ke dalam tubuh gurami, lama kelamaan akan muncul benjolan-benjolan kecil dan bagian perut ikan membengkak. Bahkan, mata gurami akan menonjol seperti hendak jatuh. Jika benjolan tersebut dibedah, akan tampak granuloma berupa bintil-bintil kecil berwarna kemerahan. Granuloma ini merupakan hasil metabolisme bakteri Mycobacterium sp. yang menyebar ke organ lain, seperti ginjal, hati, dan limfa.

Pencegahan penyakit ini bisa dilakukan dengan menjaga lingkungan budi daya agar ikan tidak stres. Selain itu, pembudidaya juga bisa memberikan imunostimulan, berupa vitamin C dosis 150—500 mg/kg bobot tubuh ikan yang diberikan selama 7—10 hari ketika ikan masih berukuran benih.

Penyakit TBC pada ikan bersifat zoonosis, yaitu selain menginfeksi ikan, penyakit ini juga bisa menyerang manusia. Pembudidaya yang menangani ikan terinfeksi bisa tertular penyakit ini jika tidak segera mencuci tangan. Jika terinfeksi, biasanya akan timbul bintik-bintik atau koreng pada kulit pembudidaya.

TBC pada gurami termasuk penyakit yang sulit diobati. Jika seekor gurami terserang bakteri mematikan ini, seisi kolam dapat tertular. Pada kondisi lapangan, biasanya pembudidaya memusnahkan ikan yang terserang TBC.
Previous
Next Post »

MarisaFood

MarisaFood
Produsen Olahan Ikan Air Tawar