Pengetahuan tentang metode dan teknik menyusun bahan baku
hingga menjadi sebuah pakan yang berkualitas sangat diperlukan dalam membuat
pakan ikan secara mandiri dari bahan baku lokal yang tersedia. Teknik menyusun
formulasi pakan ikan yang benar merupakan kunci sukses agar mendapatkan pakan yang
berkualitas secara efektif dan efisien. Efektif dalam hal ini dimaksudkan agar
pemberian pakan dapat mencapai sasaran untuk meningkatkan pertumbuhan ikan.
![]() |
| Pejemuran pelet ikan setelah dicetak |
Untuk
menyusun formulasi pakan ikan yang baik, perlu pengetahuan tentang kebutuhan
nutrisi pada ikan dan kualitas bahan baku, baik secara kimiawi maupun biologi.
Metoda penyusunan formulasi pakan ikan dapat dilakukan dengan beberapa
pendekatan antara lain Metode empat persegi panjang dan metode persamaan aljabar.
Metode Jajaran Genjang
Menyusun
formulasi pakan ikan adalah cara untuk menentukan jumlah setiap komponen bahan
pakan sesuai prosentase beratnya berdasarkan kadar protein dari ransum pakan
yang telah ditetapkan. Cara sederhana untuk menyusun formulasi pakan tersebut
dapat digunakan metoda empat persegi panjang. Langkah awal dari metoda ini
adalah dengan mengelompokkan bahan pakan menjadi 2 kelompok atas dasar
kandungan proteinnya, yaitu pakan protein bassal (Energy supplemental) dan pakan protein supplemental (Protein Supplemental).
Pakan protein bassal adalah bahan pakan, baik hewani maupun nabati yang kandungan proteinnya di bawah 20%, Sedangkan pakan protein supplemental adalah bahan pakan ikan yang kandungan proteinnya di atas 20%.
Berikut ini
contoh penerapan metode empat persegi panjang dalam menyusun formula pakan
ikan, misalnya untuk membuat pakan ikan dengan kadar protein sekitar 35% yang
disusun dari komponen bahan baku berupa dedak halus (bekatul), tepung ikan,
tepung jagung, dan bungkil kelapa maka jumlah setiap komponen dapat dihitung
dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Lihat
kadar protein dari masing-masing bahan pakan pada daftar nutrisi yang tersedia,
misalnya: Tepung ikan mengandung protein 63%, Dedak halus mengandung protein
13.3%, Tepung jagung mengandung protein 9.5%, Bungkil kelapa mengandung protein
24.0%
2.
Kelompokkan bahan baku pakan menjadi 2 kelompok. Satu kelompok bahan yang mengandung
protein 20% ke atas dan satu kelompok lagi bahan yang mengandung protein kurang
dari 20%. Kemudian tentukan kadar protein rata-rata dari setiap kelompok bahan baku
pakan:
Protein supplemental
(bahan baku pakan yang mengandung protein 20% ke atas) adalah Tepung Ikan 63.0%
dan Bungkil Kelapa 24.0%, sedangkan protein bassal (bahan baku pakan yang
mengandung protein kurang dari 20%) adalah Dedak halus 13.3% dan Tepung Jagung
9.5%
Kadar
protein suplemental = (63.0 + 24.0)/2 = 43.5%
Kadar
protein bassal = (13.3 + 9.5)/2 = 11.4%
3. Tentukan kadar protein pakan yang akan kita buat, misalnya 35%. Untuk memudahkan perhitungan dalan menentukan komposisi masing-masing bahan baku pakan yang akan digunakan buat kotak persegi empat dengan bidang diagonal seperti gambar berikut:
4. Lakukan
perhitungan komposisi setiap bahan baku pakan yang akan digunakan dengan
ketentuan sebagai berikut:
Protein
Bassal : (8.5% : 32.1%) x 100 = 26.48%
Protein
Supplemental: (23.6% : 32.1%) x 100 = 73.52%
Dari hasil
perhitungan tersebut, maka komposisi masing-masing bahan baku yang digunakan untuk
membuat pakan ikan dengan kandungan protein akhir 35% adalah:
Dedak halus = 26.48% : 2 = 13,24%
Tepung
Jagung = 26.48% : 2 = 13,24%
Tepung Ikan = 73.52% : 2 = 36,76%
Tepung bungkil
kelapa = 73.52% : 2 = 36,76%
Jadi, jika
kita akan membuat pakan ikan sebanyak 100 kg maka komposisi bahan baku yang
harus disiapkan adalah sebagai berikut:
Dedak halus = 13,24% x 100 Kg = 13.24 Kg
Tepung
Jagung = 13,24% x 100 Kg = 13.24 Kg
Tepung Ikan = 36,76% x 100 Kg = 36.78 Kg
Tepung bungkil
kelapa = 36,76% x 100 Kg = 36.78 Kg
Formulasi
pakan ikan tidak mutlak disusun sesuai dengan hasil perhitungan diatas, tetapi kmposisinya
bisa dirubah sesuai dengan jumlah ketersediaan bahan baku asalkan komponen penyusunannya
tetap. Misalnya jumlah dedak halus dapat dikurangi, tetapi sebagai
gantinya ditambahkan tepung jagung. Jumlah tepung jagung dikurangi dan sebagai
pengggantinya ditambahkan tepung ikan atau bungkil kelapa dan sebaliknya.
Setelah
ditentukan berapa jumlah masing-masing bahan yang akan digunakan, maka
dilanjutkan dengan proses pembuatan pakan seperti langkah-langkah berikut ini:
- Lakukan penimbangan bahan sesuai hasil perhitungan
- Sediakan tempat yang bersih atau mixer untuk mencampur bahan
- Aduk semua bahan sampai merata yang dimulai dari bahan yang paling sedikit
- Tambahkan air bersih ± 10% sehingga menjadi adonan yang kering-kering basah
- Kemudian cetak dengan alat/mesin pencetak pelet dengan ukuran diameter yang bervariasi sesuai ukuran bukaan mulut ikan. Sebagai perkiraan yang umumnya berlaku misalnya umur ikan 1-2 bulan diameter pakannya 1 mm berbentuk remah, umur ikan 2-3 bulan diameter pakannya 2 mm, umur ikan 3-4 bulan diameternya 3 mm dan setelah ikan berumur di atas 4 bulan diameter pakannya 4 mm. Umur ikan 2 bulan ke atas pakannya berbentuk batang
- Setelah dicetak kemudian dikeringkan atau bila dijemur di panas matahari selama ± 6 jam. Khusus untuk membuat pelet apung perlu ditambah tepung sagu sebanyak 8-10% kemudian dicetak dengan mesin khusus yang bertekanan tinggi.
Metode Persamaan Aljabar
Metode persamaan
aljabar/ persamaan x – y merupakan pengembangan metode empat persegi panjang.
Metode ini mengatasi kelemahan dari metode segi empat tersebut karena dapat
membuat pakan dengan jumlah bahan makanan dan macam kebutuhan zat-zat makanan ikan
dalam jumlah yang lebih banyak.
Secara garis
besar, prinsip dari metode persamaan aljabar adalah membuat model persamaan
baru kemudian menyamakan seluruh persamaan yang ada secara simultan. Persamaan
ini hanya diselesaikan jika jumlah bilangan yang dicari sama dengan jumlah
persamaan yang dibuat. Jadi, apabila akan mencari sepuluh bilangan, kita harus
membuat sepuluh persamaan. Jika syarat ini tidak terpenuhi, tidak mungkin kita
bisa menyelesaikan persamaan tersebut.
Kelemahan
metode ini adalah hasil perhitungan bisa saja menunjukkan angka negatif. Jika
hal ini terjadi, berarti kita salah membuat model persamaan atau nilai yang
dimasukkan ke dalam persamaan atau mengganti nilai yang ada dalam persamaan
tersebut. Dengan kata lain, kita harus mencoba menghitung ulang hasil
perhitungan yang telah dihasilkan dengan metode konstan kontrol.
Adapun
langkah-langkah menggunakan metode persamaan aljabar adalah sebagai berikut:
1. Kelompokkan
bahan baku yang termasuk ke dalam kelompok sumber
protein supplemental dan kelompok yang bukan sumber protein utama (protein bassal).
Buatlah rencana atau perkiraan yang akan digunakan untuk masing-masing bahan
baku tersebut. Sebagai contoh 1) kelompok sumber protein supplemental
adalah tepung ikan dan tepung kedelai. Rencana proporsi atau perkiraan yang
akan digunakan adalah tepung ikan 3 bagian dan tepung bungkil kelapa 1 bagian,
2) kelompok sumber protein bassal adalah dedak halus dan tepung jagung dengan
rencana atau perkiraan proporsi yang akan digunakan adalah dedak 2 bagian dan tepung
jagung 1 bagian.
2. Hitunglah
berat rata-rata kandungan protein dari tiap kelompok
Sumber
protein spplemental:
Tepung ikan = 3 bagian x 63% = 189%
Tepung bungkil
kelapa = 1 bagian x 24% = 24%
Jumlah = 4
bagian = 213 %
Berat
rata-rata kandungan protein = 213% /4 = 53.25%
Sumber
protein bassal:
Dedak = 2 bagian x 13.3% = 26.6%
Tepung
jagung = 1 bagian x 9.5% = 9.5%
Jumlah = 3 bagian = 36.1%
Berat
rata-rata kandungan protein = 36,1% / 3 = 12,03%
3. Jadikan
variabel untuk masing-masing kelompok bahan baku yang akan digunakan yaitu
X = jumlah
berat (gram) kelompok sumber protein supplemental per 100 gram formulasi pakan
Y = jumlah
berat (gram) kelompok sumber protein bassal per 100 g formulasi pakan
4. Berdasarkan
2 variabel tersebut diperoleh persamaan (1)
X + Y = 100 (persamaan 1)
5. Berdasarkan
nilai kandungan protein setiap kelompok bahan baku dan nilai protein yang
diinginkan diperoleh persamaan (2)
0,5325X +
0,1203Y = 35 (persamaan 2)
0,5325
adalah nilai 53.25% dari kandungan protein kelompok sumber protein supplemental;
0,1203 adalah nilai 12,03 dari kandungan protein kelompok sumber protein bassal;
35 adalah jumlah protein yang diinginkan untuk setiap 100 g formulasi pakan.
6. Untuk
mendapatkan nilai salah satu variabel, dibuat persamaan 3 dengan dasar dari
persamaan 1
0,5325X +
0,5325Y = 53.25 (persamaan 3) (masing-masing dikalikan 0,5325
sehingga akan ada 2 persamaan yang mengandung nilai variabel yang sama yaitu
0,5325X).
Lakukan
pengurangan dari persamaan 3 yang baru diperoleh dengan persamaan 2 sehingga
dapat diperoleh nilai Y yaitu jumlah gram kelompok sumber protein bassal untuk
setiap 100 g formulasi pakan.
0,5325X + 0,5325Y =
53.25 (persamaan 3)
0,5325X +
0,1203Y = 35 (persamaan 2)
0,4122Y = 18.25
Y
= 18.25/0,4122
=
44,27 g
7. Masukkan
nilai Y yang diperoleh ke dalam persamaan 1 sehingga dapat diperoleh nilai X
yaitu jumlah gram kelompok sumber protein supplemental untuk setiap 100 g
formulasi pakan.
X + 44,27 = 100
X
= 100 - 44,27
= 55,73 g
8. Hitunglah
kontribusi setiap bahan baku dalam setiap kelompok yaitu
Kelompok protein
supplemental:
Tepung ikan =
3 bagian
=
3/4 x 55,73 g
=
41,80 g (41,80%)
Tepung bungkil
kelapa = 1 bagian
=
1/4 X 55,73 g
= 13,93 g (13,93%)
Kelompok
sumber protein bassal
Dedak = 2 bagian
=
2/3 x 44,27 g
= 29.51 g (29.51%)
Tepung
jagung = 1 bagian
=
1/3 x 44.27 g
=
14.77 g (14.77%)
Dengan
demikian dapat diketahui bahwa untuk menyusun formulasi pakan yang
mengandung protein 45% atau 40 g protein untuk setiap 100 g formulasi
pakan diperlukan bahan dari tepung ikan sebanyak 41,80 g, tepung bungkil kelapa
13,93 g, dedak 29,51 g, dan tepung jagung 14,77 g.


ConversionConversion EmoticonEmoticon