Pendahuluan
Ikan lele (Clarias sp) merupakan jenis ikan
yang mudah dibudidayakan. Selain karena lebih tahan terhadap cuaca ekstrim,
ikan lele juga termasuk ikan pertumbuhannya sangat cepat. Dengan alasan seperti itu, banyak pembudidaya memilih ikan lele sebagai
komoditas untuk dibudidayakan.
![]() |
| Kolam terpal untuk kegiatan Pemijahan Lele |
Lele termasuk ikan yang mudah untuk beradaptasi sehingga ikan ini bisa
dipelihara di berbagai media pemeliharaan, salah satunya adalah di kolam
terpal. Kolam terpal adalah kolam yang dasar maupun sisi dindingnya di buat
dari terpal. Dari mulai proses pemijahan sampai pembesaran ikan lele bisa
dilakukan pada kolam terpal.
Ikan lele yang
hidup di alam memijah pada musim penghujan dari bulan Mei sampai Oktober. Ikan
lele juga dapat memijah sewaktu-waktu sepanjang tahun, apabila keadaan air
kolam sering berganti. Pemijahan juga di pengaruhi oleh makanan yang diberikan.
Makanan yang bermutu baik akan meningkatkan vitalitas ikan sehingga ikan lele
lebih sering memijah.
Apabila telah
dewasa, lele betina akan membentuk telur di dalam indung telurnya. Sedangkan
lele jantan membentuk sperma atau mani. Bila telur-telurnya telah berkembang
maksimum yaitu mencapai tingkat yang matang untuk siap dibuahi maka secara
alamiah ikan lele akan memijah atau kawin.
Pemijahan alami pada hakekatnya adalah proses pembuahan sel telur oleh sel
sperma tanpa melalui perantara/ bantuan tangan manusia. Pembuahan dilakukan
secara alami dengan menempatkan pasangan induk dewasa di dalam wadah kolam/
terpal yang telah dimanipulasi. Adapun persiapan untuk melakukan pemijahan lele
secara alami dapat dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu:
Persiapan Kolam
Pemijahan
Kolam pemijahan dibuat
diatas tanah dengan menggunakan terpal serta bambu sebagai dindingnya. Kolam
pemijahan untuk sepasang indukbiasanyaberukuran 2 x 4 m dengan ketinggain
dinding kolam kurang lebih 1 meter. Ketinggian air optimum berada disekitar
25-30 cm. Biasanya kolam dengan ukuran 2 x 4 m, induk yang digunakan dalam
sekali pemijahan adalah 6 ekor, terdiri dari 2 ekor jantan dan 4 ekor betina.
Pembuatan Kakaban
Kakaban dibuat
dengan menggunakan ijuk yang telah dibersihan dari lidi-lidi besarnya.
Pembuatan kakaban dimaksudkan sebagai media untuk menempelnya telur hasil
pemijahan agar mudah dalam pemindahannnya. Selain itu pemasangan ijuk juga
dimaksudkan agar induk tidak mengalami luka saat terjadi kejar-kejaran sebelum
memijah.
Cara membuat
kakaban adalah dengan memotong-motong ijuk kurang lebih sepanjang 30 - 40 cm
kemudian dipaku bersama dua bilah bambu yang sudah diserut halus. Panjang
kakaban dibuat 1,5 m dan untuk kolam ukuran 2m x 4m dibutuhkan 14 - 18 buah
kakaban.
Persiapan Kolam
Penetasan
Kolam penetasan
dibuat dengan ukuran 4m x 3m dengan ketinggian dinding 50cm, kolam ini juga
dibuat dengan menggunakan terpal agar lebih mudah. Untuk satu kali pemijahan
dibutuhkan 5 buah kolam penetasan, ini disebabkan telur yang dihasilkan sangat
banyak sehingga harus dibagi ke beberapa kolam penetasan untuk menghindari
kepadatan yang berlebihan sehingga mengurangi mortalitas.
Persiapan Induk
Induk yang akan
dipijahkan harus dipersiapkan terlabih dahulu dengan cara memberikan pakan
dengan kadar protein tinggi secara rutin minimal 3-5% dari total berat induk
per hari. Pemberian protein tinggi dimaksudkan agar terjadi pematangan gonad
yang sempurna, sehingga akan tercapai tingkat fekunditas yang tinggi.
Ciri indukan yang
siap untuk dipijahkan antara lain untuk betina adalah alat kelamin sudah
berwarna merah jambu ataupun kalau itu tidak begitu kelihatan tinggal dipegang
perutnya kalau terasa lembek berarti sudah siap. Untuk yang jantan juga
demikian, bila alat kelaminnya sudah kelihatan berwarna merah muda dan menonjol
atau bisa juga dilihat dari siripnya bagian atas yang berdiri.
Proses Pelaksanaan Pemijahan
Proses pelaksanaan pemijahan
diawali dari pembersihan kolam pemijahan. Setelah kolam pemijahan siap, maka
akan lebih baik jika kakaban dipasang terlebih dahulu di dasar kolam sebelum
diisi dengan air.
Pemasangan Kakaban
Susun
kakaban membujur mengikuti sisi terpanjang kolam pemijahan. Atur kakaban secara
berjejer, rapat dan rapi. Jangan biarkan celah kosong diantara kakaban agar
semua telur dapat menempel di ijuk. Jadi, seluruh dasar kolam harus tertutup
kakaban. Agar tidak mengapung, beri pemberat diatas kakaban dengan batu atau pipa paralon yang diisi
dengan adonan semen.
Pengisian Air
Setelah
kakaban tertata dengan rapi dan rapat maka dilanjutkan dengan mengisi air ke
dalam kolam pemijahan. Sumber air bisa dari sumur maupun saluran irigasi.
Biarkan pengisian ari secara terus menerus hingga ketinggia air sekitar 25-30
cm.
Pemindahan Induk
Pemindahan
induk ke dalam kolam pemijahan dilakukan pada waktu sore hari, sekitar pukul 4.
Induk yang telah diseleksi dan memenuhi syarat untuk dipijahkan dimasukkan ke
dalam kolam pemijahan secara hati-hati dan tidak kasar agar tidak menyebabkan
stres. Cara mengambil indukan yang siap pijah adalah dengan mengambilnya
satu-persatu dari ember atau bak plastik menggunakan seser. Tenggelamkan seser
ke dalam kolam pemijahan dan biarkan induk keluar sendiri dari seser.
Biasanya,
induk lele yang diletakkan dalam kolam pemijahan akan memijah pada malam
harinya. Berdasarkan pengalaman, jika malam harinya induk lele memijah,
keesokan harinya sekitar pukul 4 pagi telur sudah memenuhi kakaban.
Setelah
proses pemijahan selesai, induk lele sangkuriang segera dipindahkan kebali ke
kolam pemeliharaan induk. Namun pemindahan tersebut dilakukan setelah
telur-telur dipindahkan ke kolam pemetasan. Induk yang sudah dipijahkan
akandapat dipijahkan lagi setelah sekitar 20 hari, jika asupan makanannya
terpenuhi.
Penetasan Telur dan Pemeliharaan
Larva
Setelah
induk lele memijah dan menghasilkan telur, langkah berikutnya adalah proses
penetasan telur. Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan pemeliharaan larva hingga
akhirnya menghasilkan benih yang siap jual.
Persiapan Kolam Penetasan Telur
Kolam
untuk kegiatan penetasa telur dianjurkan untuk dipisahkan dengan kolam
pemijahan. Sehari sebelum pemijahan, kolam penetasan telur harus sudah diisi
air. Untuk desinfektan, gunakan garam dapur sebanyak 3 sendok makan yang
sebelumnya sudah dilarutkan dalam lima liter air bersih. Ketinggian air kolam
penetasan di lokasi dengan ketinggian 1200 dpl cukup 10 cm. Semakin rendah dari
permukaan laut, maka ketinggian air harus ditambah.
Penetasan Telur
Untuk
mengetahui apakah induk lele sudah bertelur, dapat dilakukan dengan memeriksa
kakaban yang di pasang di dalam kolam pemijahan. Jika kakaban telah ditempeli
telur, maka induk sudah berhasil memijah, langkan berikutnya adalah memindahkan
kakaban ke kolam penetasan. Waktu yang tepat untuk pemindahan kakaban adalah
pada sore harinya sekitar pukul 4 sore. Selang 15 jam kemudian, atau sekitar
pukul 07.00, telur-telur tersebut biasanya sudah menetas.
Pemeliharaan Larva
Proses
pemeliharaan larva dimulai semenjak telur menetas hingga menghasilkan lele
dengan ukuran siap tebar. Pemeliharaan benih dan larva dilakukan di kolam
penetasan telur, larva yang baru menetas tidak perlu diberi makan selama 3
hari, kemudian pada hari keempat, setelah persediaan cadangan makanan berupa
kuning telur habis, pemberian makan untuk larva dapat dimulai. Pakan yang
sesuai untuk larva adalah cacing sutra/ rambut yang diberikan dalam keadaan
hidup. Pemberian cacing sutra dilakukan kurang lebih selama 11 hari. Setelah
itu, jenis pakan yang diberikan disesuaikan dengan ukuran benih.
Penyortiran Benih
Penyortiran benih merupakan
kegiatan menyeleksi benih sesuai dengan ukuran yang diharapkan. Penyortiran
benih bertujuan untuk mendapatkan keseragaman ukuran benih. Lele termasuk jenis
ikan yang memiliki sifat kanibal, sehingga diusahakan agar dalam satu kolam
ukuran benih yang dipelihara seragam untuk menghindari lele yang lebih besar
memakan temannya sendiri saat sedang lapar.
| Kegiatan Sortir Benih di UPR Harry's Farm |
Penyortiran benih umumnya
dilakukan 2 kali, Penyortiran pertama dilakukan saat benih berumur 20 hari.
Pada penyortiran pertama, biasanya akan terdapat 3 ukuran benih, yaitu ukuran
2-3 cm, 3-4 cm, dan 5-6 cm. Karena itu digunakan 3 ukuran baskom sortir.
Untuk menghemat waktu, penyortiran
bisa dilakukan dengan cara bertumpuk. Yaitu dengan menyusun baskom sortir
secara bertumpuk dari ukuran terkecil hingga ukuran terbesar. Dimana ukuran
terbesar diletakkan dibagian paling atas. Beri ganjalan diantara baskom sortir
agar terdapat ruang antar baskom sehingga benih bisa turun.
Penyortiran dapat dilakukan
untuk 2 kolam terlebih dahulu. Angkat semua benih, sehingga kedua buah kolam
tersebut kosong. Benih hasil sortir biasanya ditampung terlebih dahulu di dalam
bokor hingga proses penyortiran selesai.
Usahakan air dalam kedua buah
kolam tidak diganti sama sekali, setelah proses penyortiran selesai maka akan
didapat benih dengan ukuran 2-3 cm, 3-4 cm, dan 5-6 cm. Benih ukuran 2-3 cm dan
3-4 cm dapat dimasukkan kembali kedalam kedua kolam tersebut. Sedangkan untuk
benih dengan ukuran 5-6 cm dapat dimasukkan ke dalam kolam tersendiri yang sehari
atau 3 hari sebelumnya sudah dipersiapkan dan diisi dengan air bersih.
Untuk penyortiran kedua dapat
dilakukan pada saat benih berumur sekitar 30 hari. Atau sekitar 10 hari sejak
penyortiran pertama. Teknis penyortiran kedua hampir sama dengan cara
penyortiran pertama, penyortiran kedua difokuskan untuk mendapatkan benih dengan
ukuran 3-4 cm dan 5-6 cm.
Untuk mendapatkan benih dengan
ukuran yang lebih besar dari 5-6 cm maka penyortiran harus dilakukan kembali,
akan tetapi pada umumnya benih dengan ukuran 5-6 cm sudah ditunggu oleh pasar,
kecuali kalau ada permintaan untuk benih dengan ukuran besar dari pembeli maka
penyortiran ketiga dapat dilakukan.
Sumber:
Khairuman dkk., Budidaya Lele Dumbo di Kolam Terpal. Agromedia Pustaka. Jakarta: 2008
Nasrudin, Jurus Sukses Beternak Lele Sangkuriang. Agromedia Pustaka. Jakarta: 2010
Sumber:
Khairuman dkk., Budidaya Lele Dumbo di Kolam Terpal. Agromedia Pustaka. Jakarta: 2008
Nasrudin, Jurus Sukses Beternak Lele Sangkuriang. Agromedia Pustaka. Jakarta: 2010

ConversionConversion EmoticonEmoticon