Cara Budidaya Ikan Nilem (Osteochilus vittatus)

PENDAHULUAN

Ikan Nilem merupakan jenis ikan air tawar anggota suku Cyprinidae. Di daerah Purbalingga, ikan nilem dikenal sebagai ikan Melem, di daerah lain ada yang menyebutnya sebagai ikan nilem mangut. Ikan herbivora ini diketahui  hidup di alam dengan habitat air sungai yang berarus sedang dan jernih. Dalam sejarahnya ikan melem diketahui menyebar di Asia Tenggara, termasuk Sumatra dan Jawa.
Ikan Nilem
Ikan nilem atau melem termasuk komoditas ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, bahkan di Purbalingga dan daerah-daerah tertentu di Jawa Tengah Bagian Selatan, ikan melem mendapat tempat tersendiri karena digunakan sebagai menu wajib  dalam upacara adat yang berhubungan dengan kehamilan seseorang.

Selain itu, ikan melem juga dikenal mempunyai citra rasa yang spesifik dan gurih karena dagingnya mengandung sodium glutamat yang terbentuk secara alami. Hal ini menyebabkan ikan melem banyak dicari oleh penggemar kuliner dengan bahan dasar ikan. Ikan nilem dapat diolah menjadi dendeng, abon, pepes dan snack ikan (baby fish) terutama yang mempunyai ukuran 5-7 gram.

Keunggulan lain dari ikan melem/ nilem adalah tahan terhadap penyakit. Selain itu, telur ikan nilem juga terkenal akan kelezatannya, ikan nilem goreng yang disajikan lengkap dengan telur di dalam perutnya juga menjadi buruan pecinta kuliner. Dengan pertimbangan keunggulan tersebut ikan nilem sangat menjanjikan untuk dikembangkan dan dibudidayakan di Purbalingga.

BIOLOGI DAN KEBIASAAN HIDUP IKAN NILEM

Ikan nilem memiliki bentuk tubuh hampir serupa dengan ikan mas, namun bedanya ikan nilem memiliki kepala yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan ikan mas. Pada mulutnya terdapat dua pasang sungut peraba yang berada dekat sungut rahang. Ikan ini memiliki warna tubuh hijau, merah, abu-abu dan putih.

Sirip punggung memiliki 3 Jari-jari keras dan 12-18 Jari-jari lunak. Sirip pada ekor berbentuk cagak dan simetris. Sirip dubur di sokong oleh 1 jari-jari keras dan 13-15 jari-jari Lunak. Jumlah sisik pada gurat sisi ada 33-36 keping. Panjang tubuh ikan nilem dapat mencapai 32 cm.

Ikan nilem dapat dipelihara pada daerah dengan ketinggian 150-800 mdpl, ikan ini tergolong ikan pemakan plankton, dan cenderung pemakan tumbuhan (Herbivora). Di alam, ikan nilem biasa memijah pada akhir musim penghujan didaerah yang berpasir dan berair, sedangkan dalam kegiatan budidaya, ikan nilem dapat dipijahkan sepanjang tahun.

TEKNIK PEMIJAHAN

Pemilihan Induk

Ikan ini termasuk ikan yang produktif, karena dalam setahun ikan ini dapat dipijahkan sebanyak 4-6 kali. Sebelum dilakukan pemijahan pemilihan induk adalah faktor yang penting. Keberhasilan pemijahan sangat ditentukan oleh kualitas induk. Induk nilem yang baik dan siap dipijahkan harus memenuhi persyaratan yaitu:

Betina : Umurnya telah mencapai 1-1,5 tahun, berat badan sekitar 100 gram, bila diurut pelan-pelan ke arah genital ikan mengeluarkan cairan berwarna kekuning-kuningan, perut besar lembek dan alat kelamin bengkak kemerah-merahan.

Jantan : Umurnya minimal telah mencapai 8 bulan dengan berat 100-150 gram. Perut mengembung dan terasa empuk ketika diraba, bila diurut perlahan-lahan ke arah genital induk jantan akan mengeluarkan cairan seperti susu dan kental, warna kulit akan terlihat lebih kusam.

Dengan menejemen induk yang intensif rematurasi induk ikan nilem diperlukan waktu sekitar 3 bulan, dan dengan pakan yang intensif yang mempunyai kandungan protein 30-42% sangat bagus untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas telur dan benih yang dihasilkan.

Persiapan Kolam Pemijahan

Kolam pemijahan dapat disiapkan dengan ukuran 1x2 m2 dengan kedalaman maksimal 70 cm, kolam penetasan telur dibuat sedemikian rupa sehingga berada dibawah kolam pemijahan dengan ukuran 4-10 m2 dan ketinggian maksimal 80 cm.

Pada kolam pemijahan isi air hingga kedalaman 50 cm, sedangkan kolam penetasan telur yang berada di bawahnya di isi air sedalam 40 cm, di antara kedua kolam tersebut di pasang saringan agar induk ikan nilem tidak ikut hanyut ke dalam kolam penetasan.

Saringan dapat berupa bebatuan, rerumputan, ataupun kawat strimin untuk menghalangi lolosnya induk ikan ke dalam kolam penetasan, tetapi saringan tersebut tidak menghalangi air yang membawa telur ke kolam penetasan, adapun debit air air yang masuk ke dalam kolam diperbesar untuk merangsang proses pemijahan ikan nilem.

Proses Pemijahan

Ikan nilem di berok/ di puasakan terlebih dahulu selama 2-3 hari, untuk membuang kotoran dari dalam perutnya, pemberokan dilakukan di kolam terpisah, supaya tidak terjadi pemijahan yang tidak diharapkan. Jika kolam pemijahan dan kolam penetasan sudah selesai dipersiapkan, maka masukkan 20 pasang induk ke dalam kolam pemijahan.

Pemasukan induk ikan dilakukan pada sore hari karena ikan nilem memijah pada saat malam hari, Menjelang subuh, biasanya ikan nilem akan memijah dibagian dangkal dekat pembuangan air, telur-telur dikeluarkan kemudian dibuahi, telur tersebut akan hanyut terbawa air kemudian masuk kedalam kolam penetasan.

Di pagi harinya, induk-induk ikan tersebut ditangkap kemudian dikembalikan ke kolam pemeliharaan induk.

Selain pemijahan secara alami, ikan ini juga dapat di pijahkan secara semi intensif dan buatan, yaitu dengan cara penyuntikan/ hipofisasi dan menggunakan aquarium, bak dan hapa sebagai tempat pemijahan dan penetasan telur.

Penetasan Telur dan Perawatan benih

Pada kolam penetasan, telur akan menumpuk di dekat pintu pemasukan air, telur tersebut sebaiknya di ratakan dengan lidi, bila dibiarkan menumpuk, akan banyak telur yang tidak menetas.

Kolam penetasan sebaiknya di beri dedaunan pisang/ naungan untuk menggurangi intensitas sinar matahari yang masuk ataupun air hujan, setelah Lima hari kemudian benih ikan nilem bisa di panen, setelah itu benih dapat dijual,ditebar ke sawah, ataupun dipelihara di kolam pendederan.

Cara penangkapan benih ikan ini yaitu dengan menampung ikan di saluran pembuangan yang di pasang kain halus, kemudian memindahkannya secara bertahap dengan menggunakan ember, benih yang di hasilkan dari sepasang ikan nilem berukuran 100-150 gram sebanyak 15.000 – 30.000. Penetasan telur pada budidaya ikan nilem juga dapat di lakukan di bak/aquarium dengan aerasi supaya telur tidak menumpuk.

PENDEDERAN DAN PEMBESARAN

Pendederan

Pendederan ikan nilem dapat di lakukan di bak, sawah maupun kolam tanah, persiapan kolam pendederan meliputi kegiatan sebagai berikut: Perbaikan kontuksi kolam; Pengolahan tanah dasar kolam; Pengeringan; Pemupukan dan Pengapuran.

Pemupukan kolam dilakukan dengan menggunakan Pupuk kandang : 100 – 200 gram /m2; Kapur : 25- 50 gram/m2; Urea dan Tsp masing-masing 10 gram/m2. Pemupukan juga harus disesuaikan dengan tingkat kesuburan lahan, jika kesuburan lahan menurun/ rendah maka dosis pupuk dapat ditingkatkan.
Setelah pemupukan, lakukan perendaman dengan air, dan biarkan selama 4 – 7 hari, supaya pakan alami tumbuh subur dan sempurna, kemudian lakukan penebaran larva / benih ikan nilem, penebaran sebaiknya di lakukan pada pagi atu sore hari.

Padat tebar tergantung pada ukuran ikan yang akan di pelihara, sebagai berikut:
  • Larva 100 – 500 ek/m2
  • 1-3 cm 50 – 100 ek/m2
  • 3-5 cm 25 – 50 ek/m2
  • 5-8 cm 10 – 20 ek/m2
Selama pemeliharaan lakukan pemberian pakan, penganturan air dan lingkungan kolam, lama pemeliharaan tergatung pada kebutuhan pada rencana ukuran hasil panen atau sesuai permintaan pasar (untuk di jual/ di tanam kembali), panen di lakukan pada pagi atau sore hari baik itu panen total maupun panen bertahap.

PEMBESARAN

Dalam Kegiatan budaya ikan nilem pembesaran ikan ini dapat dilakukan di bak, kolam tanah, sawah maupun keramba jaring apung, ukuran benih pembesaran di sesuaikan dengan kondisi jenis dan tempat pembesaran, padat tebar tergantung pada pola budidaya yang di lakukan. Sebagai gambaran padat tebar pembesaran dengan pola radisonal adalah  5 – 10 ek/m2; Semi intensif : 10 – 25 ek/m2; dan Intensif : 25 – 50 ek/m2.

Kegiatan pemeliharaan dalam pembesaran hampir sama dengan pendederan, dan semua kegiatan perencanaan di sesuaikan dengan pemilihan ukuran ikan pada kegiatan tersebut.

Sumber:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Osteoc_hassel_120127-22799_tsm.JPG
http://nuansatani.com/budidaya-ikan-nilem/
http://www.budidayaid.com/2016/01/cara-budidaya-ikan-nilem-air-tawar-yang.html
Previous
Next Post »

MarisaFood

MarisaFood
Produsen Olahan Ikan Air Tawar