Pendahuluan
Ikan Sumatra atau Sumatra Barb (Puntius tetrazona) merupakan jenis ikan hias air tawar yang
secara alami hidup dan tersebar di Semenanjung Malaya, termasuk Thailand, Sumatera
dan Kalimantan. Di alam, ikan Sumatra hidup pada sungai-sungai yang berair
dangkal dan berarus sedang. Ikan Sumatra juga didapati dirawa-rawa yang
menandakan bahwa ikan ini mempunyai toleransi yang tinggi terhadap perubahan
kualitas air.
| Ikan Sumatra (Puntius tetrazona): 4 garis hitam kebiruan yang memotong tubuhnya secara vertikal |
Ikan
Sumatra dapat berkebang dan hidup secara optimal pada suhu antara 20-260
C dan dengan pH antara 6-8. Ikan ini termasuk ikan yang tangkas dan cepat dalam
berenang. Dalam jumlah yang kecil ikan ini dapat menjadi agresif dan menganggu
ikan-ikan yang lainnya jika bersama-sama dalam akuarium. Di alam bebas ataupun
dalam pemeliaraan yang baik, ikan Sumatra dapat bertahan hidup dan berumur
hingga 6 tahun dengan ukuran panjang total hingga mencapai maksimal 8 cm.
Dikalangan
penghobi ikan hias, ikan sumatra merupakan salah satu ikan hias yang mempunyai
nilai ekonomis cukup tinggi. Warna dasar tubuh ikan ini kuning muda hingga
putih keperakan. Pada bagian punggungnya, ada semburat warna sawo matang
kehijauan. Warna khas berupa empat buah garis hitam kebiruan yang memotong
tubuhnya secara vertikal merupakan salah satu pemikat bagi penggemar ikan hias.
Garis pertama memotong kepala melewati mata dan tutup insang. Garis kedua
melewati sebelah bawah badan sampai bagian depan sirip punggung. Kemudian garis
ketiga memotong samping sirip punggung hingga jari-jari sirip anal pertama.
Sedangkan garis keempat menghiasi bagian pangkal ekor.
Klasifikasi dan Sistematika Ikan Sumatra
Secara taksonomi, ikan
Sumatra dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Ordo : Ostariophysoidei
Sub-Ordo : Cyprinoidea
Famili : Cyprinidae
Genus : Puntius
Spesies : Puntius Tetrazona (Bleeker) atau Capoeta tetrazona
Asal : Sumatra, Kalimantan
Nama Inggris : Sumatra Barb, Tiger Barb
Sub-Ordo : Cyprinoidea
Famili : Cyprinidae
Genus : Puntius
Spesies : Puntius Tetrazona (Bleeker) atau Capoeta tetrazona
Asal : Sumatra, Kalimantan
Nama Inggris : Sumatra Barb, Tiger Barb
Ciri-Ciri dan Sifat Ikan Sumatra
Bentuk badan memanjang, pipih ke samping compressed. Warna dasar putih keperakan. Pada sebelah atas badannya berwarna agak sawo matang dengan corak hijau, sedangkan sisi badannya berwarna kemerah-merahan.
Saat
masih kecil dan remaja, ikan Sumatra termasuk jenis ikan hias pendamai sehingga
cocok untuk akuarium dan bercampur dengan ikan hias yang lainnya. Namun setelah
dewasa ikan ini menjadi lebih agresif dan suka menggigit ikan-ikan lain,
terutama ikan yang berukuran lebih kecil.
Dalam pemijahan dan perkembangbiakan ikan Sumatra tergolong ikan yang menghamburkan telurnya atau yang lebih dikenal dengan sebutan ikan hias bertelur berserakan. Pemijahan ikan ini dapat mulai dilakukan setelah dewasa dengan ukuran 5 cm. Ikan Sumatra termasuk jenis ikan hias pemakan segala (Omnivora).
Persiapan Sarana Pemijahan
Dalam pemijahan dan perkembangbiakan ikan Sumatra tergolong ikan yang menghamburkan telurnya atau yang lebih dikenal dengan sebutan ikan hias bertelur berserakan. Pemijahan ikan ini dapat mulai dilakukan setelah dewasa dengan ukuran 5 cm. Ikan Sumatra termasuk jenis ikan hias pemakan segala (Omnivora).
Persiapan Sarana Pemijahan
Setelah mencapai ukuran dewasa (sekitar 5-6 cm) ikan Sumatar dapat mulai dipijahkan secara massal pada tempat khusus yang tidak terlalu luas. Tempat pemijahan dapat berupa bak semen atau akuarium yang dilengkapi dengan tanaman air sebagai penempel telur. Akuarium sebagai tempat pemijahan ikan Sumatra dapat dibuat dengan ukuran 80 x 45 x 40 cm. Air dalam akuarium pemijaan sebaiknya mengalir secara terus-menerus dengan ketinggian sekitar 30 cm.
Sebelum
dipijahkan, calon induk sebaiknya dipelihara dalam kolam beton ataupun terpal.
Pakan yang diberikan berupa jentik nyamuk dan pelet dengan frekuensi 2-3 kali
sehari. Sampling kematangan gonad hanya dilakukan saat akan melakukan
pemijahan. Pergantian air dilakukan rutin 2-3 kali sehari atau jika terlihat
kotor sebanyak setengahnya dengan membuka saluran outlet lalu kemudian
dimasukkan air baru dengan membuka saluran inlet dan menutup saluran outlet.
Pemilihan
dan Pemeliharaan Induk
Umur calon induk sebaiknya tidak kurang dari 6 bulan, panjang badan minimal 6 cm. Induk betina bila telah matang kelamin perutnya membulat serta empuk jika diraba, warna tubuhnya biasa saja. Sebaliknya, ikan jantan lebih ramping dan warna tubuhnya agak tua mencolok. Ikan jantan yang telah matang kelamin sering berubah warna, hidungnya menjadi me-merah.
Ikan
jantan dan betina yang sudah dewasa dapat dibedakan dengan cara melihat tingkat
kecerahan warna yang dimiliki dan bentuk tubuhnya. Pada ikan Sumatera jantan
warna tampak lebih menyala. Ikan betina memiliki tubuh yang lebih berisi, padat
dengan bagian perutnya yang mengembung.
Pemijahan
Ikan Sumatra
Tanaman air hydrilla yang telah dicuci bersih dimasukan hingga memenuhi seperempat sampai setengah bagian dari akuarium pemijahan. Induk hasil seleksi dilepaskan pagi hari dengan perbandingan jantan dan betina 1 : 1. Akuarium dengan ukuran 80 x 45 x 40 cm dapat diisi dengan 6-7 pasang induk atau sekitar 14 ekor induk.
Proses
pemijahan biasanya akan dimulai pada sore hingga malam hari. Tanaman air
sebagai tempat menempel telur harus dikontrol untuk mengetahui ikan sudah
bertelur atau belum. Tindakan tersebut sangat penting karena telur sangat kecil
dan berwarna bening sehingga sepintas tidak kelihatan.
Pemijahan
biasanya diawali dengan saling kejar-kejaran antara ikan jantan dan betina
diantara tanaman air. Untuk pemijahan ini sebaiknya ukuran ikan betina tidak
melebihi ukuran jantannya. Pemijahan akan berlangsung dalam waktu singkat,
terutama bila pasangan yang akan dipijahkan mendapatkan air baru dan tempat
pemijahan yang dilengkapi dengan tanaman air berdaun lebar.
Setelah induk
ikan Sumatra dipastikan memijah, maka segera induk tersebut diambil dan dipindahkan
ke akuarium khusus dengan sirkulasi air yang memadai. Hal ini dilakukan agar
induk dapat segera melakukan recovery
dan juga dimaksudkan agar telur yang dihasilkan tidak diganggu dan dimakan oleh
induknya.
Dalam
sekali memijah, seekor induk betina mampu menghasilkan telur berjumlah 150-200
butir dan biaasnya menempel secara berkelompok pada tanaman. Telur-telur tersebut
akan menetas dalam waktu 24-48 jam. Setelah menetas, paling lambat 7 hari kemudian
benih sudah harus ditangkap untuk dipelihara dalam bak pendederan.
Pemeliharaan
dan Pendederan Larva
Pemeliharaan
larva dilakukan di dalam akuarium hingga berumur 7 hari. Kegiatan rutin yang
dilakukan adalah pemberian pakan hidup berupa infosoria atau jika susah
didapatkan, dapat diganti dengan kuning telur masak yang telah diencerkan
dengan air dengan frekuensi pemberian 2 kali sehari.
Penyiponan
dilakukan 2 kali sehari atau saat air terlihat kotor dengan menggunakan selang
plastik berdiameter 0,5 cm dan sekaligus pergantian air dengan menyurutkan
setengah bagian total air dalam akuarium dan menggantinya dengan air baru yang
telah lebih dahulu telah diendapkan. Setelah berumur satu minggu larva dapat dipindahkan
ke kolam pemeliharan larva.
Larva ikan Sumatra yang telah berumur 7 hari, biasanya dipindahkan ke dalam kolam pendederan yang telah dipersiapkan sehingga tersedia pakan alami berupa plankton yang cukup untuk menjadi makanan dari larva. Kolam pendederan dapat menggunakan bak beton ataupun terpal dengan ukuran 2 x 2 x 0,5 m. Kegiatan persiapan kolam dimulai dengan membersihkan kolam dan mengeringkan kolam serta dibiarkan selama 2 hari. Setelah itu kolam diisi air setinggi 30 cm.
Kegiatan
pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk kandang sebanyak 2 kg, Urea dengan
dosis 50 gr dan TSP dengan dosis 20 gr yang dimasukkan ke dalam karung dan
diletakkan dibawah kucuran air masuk. Debit air yang masuk diatur sebesar 0,5
lt/dtk.
Dikarenakan
ukurannya yang kecil, maka dalam proses pemindahanya dari akuarium pemijahan ke
dalam kolam pendederan harus dilakukan secara hati-hati. Gunakan serok yang
halus, tangkap larva dan tampung terlebih dahulu dalam baskom plastik. Penebaran
larva dilakukan pada pagi hari dan diaklimatisasi terlebih dahulu dengan cara
merendam wadah yang berisi larva selama 15 menit, setelah suhu di dalam wadah
dan air kolam sama, maka larva biasanya akan keluar dengan sendirinya.
Untuk
melindungi larva dari sinar matahari, kolam pemeliharaan diberikan enceng
gondok secukupnya. Pengelolaan kualitas air dengan pembuangan enceng gondok dan
pembersihan sampah-sampah dan sisa metabolisme dengan menggunakan serokan (scoop net).
Larva ikan
Sumatra yang telah dipindahkan dalam kolam pendederan dapat diberi makanan
tambahan berupa tepung pelet dan cacing sutra sampai akhir pemeliharaan selama
sebulan atau sebulan setengah. Pakan diberikan secara adlibitum atau sampai
kenyang dengan frekuensi 2-3 kali sehari.
Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_sumatera
http://www.infoikan.com/2017/02/budidaya-ikan-hias-sumatra-sumatra-barb.html
https://zonaikan.wordpress.com/2012/07/18/budidaya-ikan-sumatra/
http://nirwanaaquarium.blogspot.co.id/2011/03/ikan-sumatera-barbus-tetrazona.html
ConversionConversion EmoticonEmoticon