Teknologi Budidaya Belut

KENAPA BELUT?

Belut merupakan binatang air yang termasuk dalam golongan ikan. Akan tetapi, karakteristik belut sedikit berbeda dengan ikan pada umumnya dikarenakan di alam, belut hidup pada habitat yang sebagian besar terdiri dari substrat lumpur dan sedikit air (20%). Belut dapat hidup dan bertahan pada substrat lumpur dengan sedikit air karena mempunyai dua sistem pernafasan.
Belut sawah ukuran konsumsi
Di Indonesia, setidaknya ada dua jenis komoditas belut yang dapat dibudidayakan yaitu belut sawah (Monopterus albus) dan jenis belut rawa (Synbranchus bengalensis). Perbedaan belut sawah dan belut rawa yang paling mencolok adalah pada postur tubuhnya. Belut sawah tubuhnya pendek dan gemuk, sedangkan belut rawa lebih panjang dan ramping.

Secara umum, jenis belut yang paling dikenal dan banyak dibudidayakan di Indonesia adalah belut sawah. Hal ini dikeranakan belut sawah biasa ditemukan dilahan sawah dan hampir bisa ditemukan diseluruh Indonesia. Secara gizi, belut sawah mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi dan lengkap.

Kandungan protein daging belut setara dengan kandungan protein dari daging sapi yaitu 18.4 g/ 100 gram. Selain protein belut juga mengandung leusin, arginin, fosfor, lemak (28 g/ 100 gram), zat besi (20 mg/ 100 gram), dan Vitamin A dan B.

Belut sawah (Monopterus albus) merupakan jenis hewan yang bersifat hermaprodit protogini. Hermaprodit protogini adalah sifat perubahan kelamin dari betina menjadi jantan. Perubahan kelamin biasanya terjadi setelah pemijahan pertama, jaringan ovariumnya mengkerut kemudian jaringan testisnya berkembang.

Belut sawah merupakan salah satu komoditas ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan merupakan salah satu komoditas eksport, sehingga sangat potensial untuk dibudidayakan.  Pasar eksport belut internasional terpusat di Taiwan, Hongkong, Malaysia dan Perancis. Di Indonesia sendiri pasar perikanan belut banyak terdapat di daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan sebagian Sumatera bagian selatan.

BUDIDAYA BELUT SAWAH

Terdapat dua segmen usaha budidaya belut yaitu pembibitan dan pembesaran. Pembibitan bertujuan untuk menghasilkan benih. Sedangkan pembesaran bertujuan untuk menghasilkan belut hingga ukuran siap konsumsi.

Memilih Benih Belut

Benih untuk budidaya belut bisa didapatkan dari hasil tangkapan atau hasil budidaya. Keduanya memiliki kekurangan dan keunggulan masing-masing. Benih hasil tangkapan memiliki beberapa kekurangan, seperti ukuran yang tidak seragam dan adanya kemungkinan trauma karena metode penangkapan. Kelebihan benih hasil tangkapan adalah rasanya lebih gurih sehingga harga jualnya lebih baik.

Adapun, kekurangan benih hasil budidaya adalah pada harga jualnya yang lebih rendah dari belut hasil tangkapan. Sedangkan kelebihannya ukuran benih lebih seragam, bisa tersedia dalam jumlah banyak, dan kontinuitasnya terjamin. Selain itu, benih hasil budidaya memiliki daya tumbuh yang relatif sama karena biasanya berasal dari induk yang seragam. Benih yang baik untuk budidaya belut hendaknya memiliki kriteria berikut:
  • Ukurannya seragam. Ukuran bibit yang seragam dimaksudkan untuk memudahkan pemeliharaan dan menekan risiko kanibalisme atau saling memangsa.
  • Gerakannya aktif dan lincah, tidak loyo.
  • Tidak cacat atau luka secara fisik.
  • Bebas dari penyakit.
Budidaya belut untuk segmen pembesaran biasanya menggunakan benih belut berukuran panjang 10-12 cm. Benih sebesar ini memerlukan waktu pemeliharaan sekitar 3-4 bulan, hingga siap konsumsi. Untuk pasar eksport yang menghendaki ukuran lebih besar, waktu pemeliharaan bisa mencapai 6 bulan.

Menyiapkan Kolam Budidaya Belut

Budidaya belut bisa dilakukan dalam kolam permanen maupun semi permanen. Kolam permanen yang sering dipakai antara lain kolam tanah, sawah, dan kolam tembok. Sedangkan kolam semi permanen antara lain kolam terpal, drum, tong, kontainer plastik dan jaring.

Bentuk dan luas kolam untuk budidaya belut bisa dibuat berbagai macam, disesuaikan dengan keadaan ruang dan kebutuhan. Ketinggian kolam berkisar 1-1.25 meter. Lubang pengeluaran dibuat dengan pipa yang agak besar untuk memudahkan penggantian media tumbuh.

Untuk kolam yang masih baru, sebaiknya dilakukan treatment terlebih dahulu . Jika kolam yang digunkan adalah kolam beton, maka harus dikeringkan terlebih dahulu selama beberapa minggu. Kemudian direndam dengan air dan tambahkan daun pisang, sabut kelapa, atau pelepah pisang. Lakukan pencucian minimal tiga kali atau sampai bau semennya hilang.

Media Tumbuh Untuk Budidaya Belut

Di alam bebas belut sering dijumpai dalam perairan berlumpur. Lumpur merupakan tempat perlindungan bagi belut. Dalam kolam budidaya pun, belut membutuhkan media tumbuh berupa lumpur. Beberapa material yang bisa dijadikan bahan membuat lumpur/media tumbuh antara lain, lumpur sawah, kompos, humus, pupuk kandang, sekam padi, jerami padi, pelepah pisang, dedak, tanaman air, dan mikroba dekomposer.

Komposisi material organik dalam media tumbuh budidaya belut tidak ada patokannya. Sangat tergantung dengan kebiasaan dan pengalaman. Pembudidaya bisa meramu sendiri media tumbuh dari bahan-bahan yang mudah didapatkan. Berikut ini salah satu alternatif langkah-langkah membuat media tumbuh untuk budididaya belut:
  • Bersihkan dan keringkan kolam. Kemudian letakkan jerami padi yang telah dirajang pada dasar kolam setebal kurang lebih 20 cm.
  • Letakkan pelepah pisang yang telah dirajang setebal 6 cm, di atas lapisan jerami.
  • Tambahkan campuran pupuk kandang (kotoran kerbau atau sapi), kompos atau tanah humus setebal 20-25 cm, di atas pelepah pisang. Pupuk organik berguna untuk memicu pertumbuhan biota yang bisa menjadi penyedia makanan alami bagi belut.
  • Siram lapisan media tumbuh tersebut dengan cairan bioaktivator atau mikroba dekomposer.
  • Timbun dengan lumpur sawah atau rawa setebal 10-15 cm. Biarkan media tumbuh selama 1-2 minggu agar terfermentasi sempurna.
  • Alirkan air bersih selama 3-4 hari pada media tumbuh yang telah terfermentasi tersebut untuk membersihkan racun. Setel besar debit air, jangan terlalu deras agar tidak erosi.
  • Langkah terakhir, genangi media tumbuh tersebut dengan air bersih. Kedalaman air 5 cm dari permukaan. Pada kolam tersebut bisa diberikan tanaman air seperti eceng gondok. Jangan terlalu padat.
  • Dari proses di atas didapatkan lapisan media tumbuh/lumpur setebal kurang lebih 60 cm. Setelah semuanya selesai, bibit belut siap untuk ditebar.

Catatan: Dengan metode lain, budidaya belut bisa dipelihara dalam air bersih tanpa menggunakan lumpur.

Penebaran Bibit dan Pengaturan Air

Belut merupakan hewan yang bisa dibudidayakan dengan kepadatan tinggi. Kepadatan tebar untuk benih belut berukuran panjang 10-12 cm berkisar 50-100 ekor/m2. Lakukan penebaran benih pada pagi atau sore hari, agar belut tidak stres. Bibit yang berasal dari tangkapan alam sebaiknya dikarantina terlebih dahulu selama 1-2 hari. Proses karantina dilakukan dengan meletakkan bibit dalam air bersih yang mengalir. Berikan pakan berupa kocokan telur selama dalam proses karantina.

Aturlah sirkulasi air dengan seksama. Jangan terlalu deras (air seperti genangan sawah) yang penting terjadi sirkulasi air. Atur juga kedalaman air, hal ini berpengaruh pada postur tubuh belut. Air yang terlalu dalam akan membuat belut banyak bergerak untuk mengambil oksigen dari permukaan, sehingga belut akan lebih kurus.

Pemberian Pakan

Belut merupakan hewan yang rakus. Keterlambatan dalam memberikan pakan bisa berakibat fatal. Terutama pada belut yang baru ditebar. Takaran pakan harus disesuaikan dengan berat populasi belut. Secara umum belut membutuhkan jumlah pakan sebanyak 5-20% dari bobot tubuhnya setiap hari.
Berikut kebutuhan pakan harian untuk bobot populasi belut 10 kg:
  • Umur 0-1 bulan: 0,5 kg
  • Umur 1-2 bulan: 1 kg
  • Umur 2-3 bulan: 1,5 kg
  • Umur 3-4 bulan: 2 kg

Pakan budidaya belut bisa berupa pakan hidup atau pakan mati. Pakan hidup bagi belut yang masih kecil (larva) antara lain zooplankton, cacing, kutu air (daphnia/moina), kecebong, larva ikan, dan larva serangga. Sedangkan belut yang telah dewasa bisa diberi makanan berupa ikan, katak, serangga, kepiting (yuyu), bekicot, belatung, dan keong. Frekuensi pemberian pakan hidup dapat dilakukan 3 hari sekali.

Untuk pakan mati bisa diberikan bangkai ayam, cincangan bekicot, ikan rucah, cincangan kepiting, atau pelet. Pakan mati untuk budidaya belut sebaiknya diberikan setelah direbus terlebih dahulu. Frekuensi pemberian pakan mati bisa 1-2 kali setiap hari. Karena belut binatang nokturnal, pemberian pakan akan lebih efektif pada sore atau malam hari. Kecuali pada tempat budidaya yang ternaungi, pemberian pakan bisa dilakukan sepanjang hari.

Pemanenan

Tidak ada patokan seberapa besar ukuran belut dikatakan siap konsumsi. Tapi secara umum pasar domestik biasanya menghendaki belut berukuran lebih kecil, sedangkan pasar ekspor menghendaki ukuran yang lebih besar. Untuk pasar domestik, lama pemeliharaan pembesaran berkisar 3-4 bulan, sedangkan untuk pasar ekspor 3-6 bulan, bahkan bisa lebih, terhitung sejak bibit ditebar.

Terdapat dua cara memanen budidaya belut, panen sebagian dan panen total. Panen sebagian dilakukan dengan cara memanen semua populasi belut, kemudian belut yang masih kecil dipisahkan untuk dipelihara kembali. Sedangkan pemanenan total biasanya dilakukan pada budidaya belut intensif, dimana pemberian pakan dan metode budidaya dilakukan secara cermat. Sehingga belut yang dihasilkan memiliki ukuran yang lebih seragam.

Sumber:
https://alamtani.com/budidaya-belut/
https://www.deherba.com/tahukah-anda-berbagai-khasiat-daging-belut.html
http://zainudinakbar-ulm14.blogspot.co.id/2016/09/pengertian-hermaprodit-protogini.html
Previous
Next Post »

MarisaFood

MarisaFood
Produsen Olahan Ikan Air Tawar