PENDAHULUAN
Salah satu faktor yang sering menyebabkan kegagalan pada budidaya ikan adalah serangan penyakit yang berakibat kematian pada ikan. Pada kasus kematian masal, tentu saja akan menyebabkan kerugian secara ekonomis. Kendala inilah yang menjadi hambatan bagi pembudidaya untuk berkembang, terutama bagi pembudidaya yang masih pemula. Jika serangan penyakit timbul secara ringan dan tidak terlalu parah, biasanya akan menyebabkan kekerdilan, periode/ siklus pemeliharaan yang lebih lama, serta menyebabkan inefisiensi penggunaan pakan (nilai FCR menjadi tinggi).
Penyakit ikan didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat menimbulkan gangguang fungsi atau struktur dari alat tubuh atau sebagian alat tubuh, baik secara langsung maupun tidak langsung. (M. Gufran H. Kordi, 2004). Timbulnya serangan penyakit pada ikan biasanya tidak datang secara tiba-tiba, melainkan melalui proses hubungan yang tidak terpisahkan dari 3 faktor yaitu: kondisi ikan, keberadaan patogen, dan kondisi lingkungan. Timbulnya serangan penyakit merupakan hasil interaksi yang tidak seimbang antara 3 faktor tersebut.
Interaksi yang tidak seimbang antara ikan, pathogen, dan lingkunganakan menyebabkan stress pada ikan yang bermuara pada menurunnya mekanisme imunitas ikan sehingga ikan menjadi lemah dan mudah terserang penyakit. Tingkat serangan penyakit yang terjadi akan sangat tergantung pada umur ikan yang sakit, prosentase populasi ikan yang sakit, serta adanya infeksi sekunder.
Pada umumnya, penyakit yang sering menyerang pada ikan adalah penyakif infeksi yang bisa disebabkan oleh virus, bakteri, ataupun parasit. Faktor pencetus dari timbulnya penyakit infeksi tersebut biasanya berasal dari faktor non-infeksi yaitu sifat ikan itu sendiri yang bersifat poikiloterm. Suhu tubuh ikan akan selalu menyesuaikan dengan suhu lingkungan tepat dia hidup, sifat ini menyebabkan rendahnya tingkat metabolisme ikan jika suhu air mengalami menurunan.
Pengamatan terhadap kesehatan ikan dan lingkungan tempat ikan hidup (kualitas air) merupakan kunci utama dalam upaya pencegahan hama dan penyakit ikan. Menjaga keserasian antara 3 komponen budidaya merupakan suatu keharusan, disini pembudidaya memegang peranan yang penting untuk selalu melakukan pengamatan secara rutin dan konsisten. Jika pengamatan dilakukan secara rutin dan konsisten, maka jika ada perubahan yang terjadi terhadap ketiga faktor tersebut dapat segera di atasi tepat pada waktunya. Penanganan secara cepat akan mengurangi resiko terjadinya serangan penyakit yang dapat menimbulkan kerugian yang lebih besar. Secara umum, faktor-faktor pencetus timbulnya penyakit pada ikan adalah sebagai berikut:
1. Stress
Semua perubahan lingkungan yang menyebabkan ketidaknyamanan bagi ikan dapat dianggap sebagai faktor penyebab stress bagi ikan. Biasanya yang sering terjadi adalah karena perubahan faktor kimia-fisika lingkungan media pemeliharaan. Selain faktor kimia-fisika stress pada ikan dapat dipicu karena transportasi dan penanganan saat tebar benih yang kurang baik.
Secara alami, ikan seringkali mampu beradaptasi terhadap faktor kimia-fisika air tanpa terjadi masalah, akan tatapi jika kondisi ikan sudah tidak prima, maka akan mudah sekali stress. Faktor stressor yang disebabkan karena faktor kimia-fisika air dapat diminimalis dengan cara mengkondisikan air media pemeliharaan berada pada kondisi optimum, dengan kata lain bahwa semua faktor kimia-fisika air harus dimonitor agar selalu pada kondisi yang baik untuk kehidupan ikan.
Sedangkan faktor stressor yang disebabkan oleh pengangutan dapat diminimalir dengan mengurangi kepadatan ikan di diwadah pengangkutan. Usahakan untuk tidak memaksakan dengan membawa ikan diwadah dengan kepadatan yang sangat tinggi, apalagi jika jarak yang ditempuh untuk membawa ikan lebih dari 1 jam perjalanan.
2. Kekurangan Gizi
Ikan yang tidak diberi pakan dengan asupan gizi yang seimbang dapat menyebabkan berbagai masalah pada kesehatannya. Kekurangan gizi terutama kandungan protein pakan, akan menyebabkan pertumbuhan ikan terhambat, tidak sempurnanya pembentukan organ reproduksi, serta menjadikan ikan mudah terserang penyakit. Sedangkan defisiensi lemak akan menyebabkan ikan kesulitan bereproduksi dan terjadi perubahan warna kulit yang tidak normal.
Komposisi pakan yang tidak seimbang juga bisa menyebabkan berbagai masalah dalam usaha budidaya. Kelebihan protein dan lemak dapat menyebabkan penumpukan lemak di hati dan ginjal yang menyebabkan ikan tiba-tiba tidak nafsu makan disertai dengan bengkak disekitar perut. Penumpukan lemak di organ dalam lainnya juga menyebabkan kualitas telur pada ikan betina menurun karena telur tertekan dan tertutup timbunan lemak.
Untuk menghindari kerugian karena kekurangan gizi, maka asupan pakan yang diberikan pada ikan harus lengkap dan seimbang. Komposisi dan kandungan gizi pada pakan pellet untuk ikan karnivora, tentu saja akan sangat berbeda dengan ikan yang bersifat herbivora. Oleh karena itu, pilihlah jenis pakan yang tepat sesuai dengan sifat ikan.
3. Kelebihan asupan pakan (overfeeding)
Kondisi overfeeding merupakan kejadian dimana pakan yang diberikan pada ikan terlalu berlebihan dan terjadi secara terus menerus. Overfeeding akan sangat berbahaya karena sisa pakan yang tidak termakan akan menumpuk di dasar kolam/ tambak dan apabila tidak terurai dengan sempurna akan menimbulkan penurunan kualitas air. Penurunan kualitas air terutama terutama pada peningkatan kandungan amoniak yang dapat menimbulkan keracunan pada ikan.
Selain penurunan kualitasa air, pada ikan yang rakus kelebihan pakan juga akan menyebabkan ikan kekenyangan yang berakibat pada pecahnya usus halus atau usus besar sehingga menyebabkan peradangan. Peradangan yang terjadi lama kelamaan akan menyebabkan pecahnya dinding perut pada bagian ventral . Gejala pecahnya usus pada berbagai jenis ikan rakus biasa diistilahkan sebagai RIS (Reptured Intestine Syndrome). (J.H. Boon, 1987)
4. Keracunan
Penyakit pada ikan seringkali menyerang jika kondisi kimia-fisika perairan/ media budidaya sudah melampaui ambang batas toleransi. Keracunan juga dipicu karena kondisi gas-gas dan ion-ion di dalam perairan. Apabila pertukaran gas-gas dan ion-ion terjadi secara efisien, maka proses terjadinya keracunan sangat mudah. Keracunan yang biasa terjadi adalah yang disebabkan karena meningkatnya konsentrasi NH3. Keracunan ammonia bisa terjadi pada kondisi kolam yang mengalami penumpukan bahan organik berlebih. Reaksi berikut adalah reaksi keseimbangan yang terjadi di dalam perairan, Reaksi ini bersifat reversible:
NH_3+ N_2 O ≪=≫ NH_4 OH ≪=≫ NH_4+ + OH-
Kondisi yang diharapkan adalah terjadi reaksi keseimbangan yang bergerak kearah kanan atau kearah produksi ion ammonium dan ion hidroksida. Akan tetapi pada kondisi dimana pH air meningkat cukup signifikan (>8,0) maka reaksi akan bergerak kearah kiri sehingga produksi ammonia meningkat. Proses keracunan ammonia terjadi karena ammonia tidak bisa meninggalkan darah. Karena konsentrasi ammonia di air lebih tinggi dari pada di dalam darah, maka ammonia di air akan mengalir masuk ke dalam darah ikan. Konsentrasi ammonia yang tinggi di dalam darah menyebabkan aseptis penyakit otak yang menyerang sistem syaraf pada ikan.
Selain keracunan ammonia, keracunan yang sering muncul adalah keracunan yang berasal dari pakan, terutama untuk budidaya dengan sisitem intensif. Keracunan dari pakan bisa disebabkan karena aktifitas mikroorganisme yang mencemari pakan atau karena penurunan kualitas pakan yang disebabkan faktor penyimpanan yang tidak baik. Pakan yang tengik dan mengandung jamur Mycotoksin dan Aspergilus flavus apabila tetap diberikan kepada ikan bisa menyebabkab kerusakan hati.
5. Memar dan Luka
Kondisi tubuh ikan yang memar dan luka dapat menjadi pintu untuk masuknya penyakit. Luka dan memar terjadi pada ikan karena proses penanganan yang kurang baik saat penebaran ataupun pemindahan. Penanganan ikan yang kurang hati-hati, baik saat penanganan ditempat asalnya, saat pengangkutan, dan pada saat sampai ditempat tujuan untuk ditebar dapat menimbulkan stress dan menyebabkan bibit penyakit mudah menyerang. Selama pengangkutan harus diperhatikan dengan seksama agar air media didalam wadah pengangut berada pada kondisi yang tetap baik. Jumlah ikan yang diangkut, jarak tempuh, dan waktu pengangkutan juga perlu diperhatikan.
Dalam pengangkutan, terutama untuk ikan-ikan yang mempunyai sifat kanibal, ukuran ikan dalam satu wadah harus benar-benar seragam. Saling tabrak dan serang yang terjadi selama pengangkutan dapat menimbulkan memar dan luka yang akan sangat merugikan, karena berpotensi terkena penyakit.
Referensi:
M. Gufron, H.Kodi K. Penanggulangan Hama dan Penyakit Ikan. Bina Adiaksara. Jakarta. 2014
Salah satu faktor yang sering menyebabkan kegagalan pada budidaya ikan adalah serangan penyakit yang berakibat kematian pada ikan. Pada kasus kematian masal, tentu saja akan menyebabkan kerugian secara ekonomis. Kendala inilah yang menjadi hambatan bagi pembudidaya untuk berkembang, terutama bagi pembudidaya yang masih pemula. Jika serangan penyakit timbul secara ringan dan tidak terlalu parah, biasanya akan menyebabkan kekerdilan, periode/ siklus pemeliharaan yang lebih lama, serta menyebabkan inefisiensi penggunaan pakan (nilai FCR menjadi tinggi).
Penyakit ikan didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat menimbulkan gangguang fungsi atau struktur dari alat tubuh atau sebagian alat tubuh, baik secara langsung maupun tidak langsung. (M. Gufran H. Kordi, 2004). Timbulnya serangan penyakit pada ikan biasanya tidak datang secara tiba-tiba, melainkan melalui proses hubungan yang tidak terpisahkan dari 3 faktor yaitu: kondisi ikan, keberadaan patogen, dan kondisi lingkungan. Timbulnya serangan penyakit merupakan hasil interaksi yang tidak seimbang antara 3 faktor tersebut.
![]() |
| Gambar interaksi antara 3 komponen budidaya: inang (ikan), pathogen, dan penyakit |
Pada umumnya, penyakit yang sering menyerang pada ikan adalah penyakif infeksi yang bisa disebabkan oleh virus, bakteri, ataupun parasit. Faktor pencetus dari timbulnya penyakit infeksi tersebut biasanya berasal dari faktor non-infeksi yaitu sifat ikan itu sendiri yang bersifat poikiloterm. Suhu tubuh ikan akan selalu menyesuaikan dengan suhu lingkungan tepat dia hidup, sifat ini menyebabkan rendahnya tingkat metabolisme ikan jika suhu air mengalami menurunan.
Pengamatan terhadap kesehatan ikan dan lingkungan tempat ikan hidup (kualitas air) merupakan kunci utama dalam upaya pencegahan hama dan penyakit ikan. Menjaga keserasian antara 3 komponen budidaya merupakan suatu keharusan, disini pembudidaya memegang peranan yang penting untuk selalu melakukan pengamatan secara rutin dan konsisten. Jika pengamatan dilakukan secara rutin dan konsisten, maka jika ada perubahan yang terjadi terhadap ketiga faktor tersebut dapat segera di atasi tepat pada waktunya. Penanganan secara cepat akan mengurangi resiko terjadinya serangan penyakit yang dapat menimbulkan kerugian yang lebih besar. Secara umum, faktor-faktor pencetus timbulnya penyakit pada ikan adalah sebagai berikut:
1. Stress
Semua perubahan lingkungan yang menyebabkan ketidaknyamanan bagi ikan dapat dianggap sebagai faktor penyebab stress bagi ikan. Biasanya yang sering terjadi adalah karena perubahan faktor kimia-fisika lingkungan media pemeliharaan. Selain faktor kimia-fisika stress pada ikan dapat dipicu karena transportasi dan penanganan saat tebar benih yang kurang baik.
Secara alami, ikan seringkali mampu beradaptasi terhadap faktor kimia-fisika air tanpa terjadi masalah, akan tatapi jika kondisi ikan sudah tidak prima, maka akan mudah sekali stress. Faktor stressor yang disebabkan karena faktor kimia-fisika air dapat diminimalis dengan cara mengkondisikan air media pemeliharaan berada pada kondisi optimum, dengan kata lain bahwa semua faktor kimia-fisika air harus dimonitor agar selalu pada kondisi yang baik untuk kehidupan ikan.
Sedangkan faktor stressor yang disebabkan oleh pengangutan dapat diminimalir dengan mengurangi kepadatan ikan di diwadah pengangkutan. Usahakan untuk tidak memaksakan dengan membawa ikan diwadah dengan kepadatan yang sangat tinggi, apalagi jika jarak yang ditempuh untuk membawa ikan lebih dari 1 jam perjalanan.
2. Kekurangan Gizi
Ikan yang tidak diberi pakan dengan asupan gizi yang seimbang dapat menyebabkan berbagai masalah pada kesehatannya. Kekurangan gizi terutama kandungan protein pakan, akan menyebabkan pertumbuhan ikan terhambat, tidak sempurnanya pembentukan organ reproduksi, serta menjadikan ikan mudah terserang penyakit. Sedangkan defisiensi lemak akan menyebabkan ikan kesulitan bereproduksi dan terjadi perubahan warna kulit yang tidak normal.
Komposisi pakan yang tidak seimbang juga bisa menyebabkan berbagai masalah dalam usaha budidaya. Kelebihan protein dan lemak dapat menyebabkan penumpukan lemak di hati dan ginjal yang menyebabkan ikan tiba-tiba tidak nafsu makan disertai dengan bengkak disekitar perut. Penumpukan lemak di organ dalam lainnya juga menyebabkan kualitas telur pada ikan betina menurun karena telur tertekan dan tertutup timbunan lemak.
Untuk menghindari kerugian karena kekurangan gizi, maka asupan pakan yang diberikan pada ikan harus lengkap dan seimbang. Komposisi dan kandungan gizi pada pakan pellet untuk ikan karnivora, tentu saja akan sangat berbeda dengan ikan yang bersifat herbivora. Oleh karena itu, pilihlah jenis pakan yang tepat sesuai dengan sifat ikan.
3. Kelebihan asupan pakan (overfeeding)
Kondisi overfeeding merupakan kejadian dimana pakan yang diberikan pada ikan terlalu berlebihan dan terjadi secara terus menerus. Overfeeding akan sangat berbahaya karena sisa pakan yang tidak termakan akan menumpuk di dasar kolam/ tambak dan apabila tidak terurai dengan sempurna akan menimbulkan penurunan kualitas air. Penurunan kualitas air terutama terutama pada peningkatan kandungan amoniak yang dapat menimbulkan keracunan pada ikan.
Selain penurunan kualitasa air, pada ikan yang rakus kelebihan pakan juga akan menyebabkan ikan kekenyangan yang berakibat pada pecahnya usus halus atau usus besar sehingga menyebabkan peradangan. Peradangan yang terjadi lama kelamaan akan menyebabkan pecahnya dinding perut pada bagian ventral . Gejala pecahnya usus pada berbagai jenis ikan rakus biasa diistilahkan sebagai RIS (Reptured Intestine Syndrome). (J.H. Boon, 1987)
4. Keracunan
Penyakit pada ikan seringkali menyerang jika kondisi kimia-fisika perairan/ media budidaya sudah melampaui ambang batas toleransi. Keracunan juga dipicu karena kondisi gas-gas dan ion-ion di dalam perairan. Apabila pertukaran gas-gas dan ion-ion terjadi secara efisien, maka proses terjadinya keracunan sangat mudah. Keracunan yang biasa terjadi adalah yang disebabkan karena meningkatnya konsentrasi NH3. Keracunan ammonia bisa terjadi pada kondisi kolam yang mengalami penumpukan bahan organik berlebih. Reaksi berikut adalah reaksi keseimbangan yang terjadi di dalam perairan, Reaksi ini bersifat reversible:
NH_3+ N_2 O ≪=≫ NH_4 OH ≪=≫ NH_4+ + OH-
Kondisi yang diharapkan adalah terjadi reaksi keseimbangan yang bergerak kearah kanan atau kearah produksi ion ammonium dan ion hidroksida. Akan tetapi pada kondisi dimana pH air meningkat cukup signifikan (>8,0) maka reaksi akan bergerak kearah kiri sehingga produksi ammonia meningkat. Proses keracunan ammonia terjadi karena ammonia tidak bisa meninggalkan darah. Karena konsentrasi ammonia di air lebih tinggi dari pada di dalam darah, maka ammonia di air akan mengalir masuk ke dalam darah ikan. Konsentrasi ammonia yang tinggi di dalam darah menyebabkan aseptis penyakit otak yang menyerang sistem syaraf pada ikan.
Selain keracunan ammonia, keracunan yang sering muncul adalah keracunan yang berasal dari pakan, terutama untuk budidaya dengan sisitem intensif. Keracunan dari pakan bisa disebabkan karena aktifitas mikroorganisme yang mencemari pakan atau karena penurunan kualitas pakan yang disebabkan faktor penyimpanan yang tidak baik. Pakan yang tengik dan mengandung jamur Mycotoksin dan Aspergilus flavus apabila tetap diberikan kepada ikan bisa menyebabkab kerusakan hati.
5. Memar dan Luka
Kondisi tubuh ikan yang memar dan luka dapat menjadi pintu untuk masuknya penyakit. Luka dan memar terjadi pada ikan karena proses penanganan yang kurang baik saat penebaran ataupun pemindahan. Penanganan ikan yang kurang hati-hati, baik saat penanganan ditempat asalnya, saat pengangkutan, dan pada saat sampai ditempat tujuan untuk ditebar dapat menimbulkan stress dan menyebabkan bibit penyakit mudah menyerang. Selama pengangkutan harus diperhatikan dengan seksama agar air media didalam wadah pengangut berada pada kondisi yang tetap baik. Jumlah ikan yang diangkut, jarak tempuh, dan waktu pengangkutan juga perlu diperhatikan.
Dalam pengangkutan, terutama untuk ikan-ikan yang mempunyai sifat kanibal, ukuran ikan dalam satu wadah harus benar-benar seragam. Saling tabrak dan serang yang terjadi selama pengangkutan dapat menimbulkan memar dan luka yang akan sangat merugikan, karena berpotensi terkena penyakit.
Referensi:
M. Gufron, H.Kodi K. Penanggulangan Hama dan Penyakit Ikan. Bina Adiaksara. Jakarta. 2014

ConversionConversion EmoticonEmoticon