PENDAHULUAN
Persaingan
dalam penggunaan lahan dan air menjadi isu penting dewasa ini. Alih fungsi
lahan menjadi bangunan dan hunian tak terhindarkan lagi karena meningkatknya
populasi penduduk. Lahan produktif yang menyediakan sumber air, beralih fungsi
menjadi bangunan untuk tempat tinggal. Akibatnya, ketersediaan lahan dan air
untuk usaha perikanan menjadi berkurang drastis.
![]() |
| Yumina-Bumina Sistem Aliran Atas. Sumber: https://diskanak.bogorkab.go.id/ |
Air
merupakan modal utama dan paling penting dalam usaha budidaya ikan, baik secara
kuantitas maupun kualitas. Dengan semakin banyaknya pemukiman, jumlah dan sumber
air untuk usaha budidaya ikan menjadi berkurang. Tidak itu saja, kualitas air
juga semakin menurun secara drastis.
Kondisi
berkurangnya lahan dan sumber air untuk usaha budidaya ikan tentunya perlu
disikapi dengan inovasi teknologi. Salah satu teknologi yang dirasa tepat untuk
mengatasi kendala tersebut adalah dengan menggunakan sistem aquaponik. Dengan
sistem aquaponik keterbatasan air dan sempitnya lahan dapat diatasi. Hal ini
karena ikan dan sayuran dipelihara dalam satu sistem aliran air secara terus
menerus tanpa adanya pembuangan air dari sistem budidaya.
Teknologi
aquaponik dalam bidang perikanan kemudian disempurnaan dan dikenalkan dengan
nama Yumina-Bumina. Merupakan sistem produksi pangan berkelanjutan yang terdiri
dari dua bagian utama yaitu bagian akuatik untuk pemeliharaan ikan dan bagian
hidroponik untuk tanaman. Sistem ini menghasilkan sisa pakan dari pemeliharaan
ikan sebagai sumber nutrien yang akan menjadi unsur hara bagi tanaman dalam
sistem hidroponik.
Dengan
sistem Yumina-Bumina, air yang digunakan untuk budidaya ikan dialirkan ke media
yang digunakan untuk pemeliharaan tanaman. Air yang dialirkan ini merupakan
limbah sisa pakan dan feses yang ada di kolam dan disirkulasikan ke sistem
hidroponik yang ditanami berbagai jenis sayuran atau buah. Setelah melewati
sistem hidroponik, air akan menjadi bersih dan kaya oksigen yang kemudian
diresirkulasikan ke dalam kolam.
JENIS-JENIS SISTEM BUDIDAYA YUMINA BUMINA
Berdasarkan
pola distribusi air untuk tanaman, sistem budidaya Yumina-Bumina dibedakan
menjadi 4 jenis, yaitu:
1. Sistem Rakit
Sistem ini
merupakan sistem yang paling sederhana. Tanaman diletakkan di atas kolam dengan
menggunakan rakit sebagai pelampung. Tanaman ditanam dan diapungkan diatas kolam
dengan menggunakan rakit dengan area perakaran tanaman menyentuk permukaan air.
Sistem ini cocok digunakan dilokasi yang masih kesulitan sumber listrik karena
tidak menggunkan pompa air.
Dikarenakan
masih sederhana, sistem ini dianggap masih mempunyai kelemahan karena
penyerapan limbah yang terakumulasi di dasar kolam tidak optimal, limbah yang
teserap hanyalah limbah yang berada dipermukaan dan tergantung dari daya
jangkau akar tanaman. Padahal limbah sisa pakan dan feses biasanya mengendap
dan banyak menumpuk di dasar kolam.
2. Sistem Aliran Atas
Pada sistem
ini, suplay air untuk tanaman dilakukan dari atas permukaan media tanam dengan
menggunakan pipa berdiameter ½-1 inchi
yang terhubung dengan pompa air. Dalam budidaya Yumina-Bumina dengan sistem
aliran atas hal yang perlu diperhatikan adalah menjaga aliran air yang keluar
tidak terhambat oleh kotoran. Kebersihan pipa saluran suplay air untuk tanaman
harus selalu dipantau, terutama pada bagian yang menuju wadah media tanam.
Air yang
dialirkan ke dalam sistem budidaya sayuran merupakan air limbah budidaya ikan
yang banyak mengandung pertikel tersuspensi (TSS) sehingga berpotensi untuk
menyumbat lubang suplay air untuk tanaman. Jadi pipa suplay air untuk tanaman
harus rutin dibersihkan, terutama menjelang panen ikan.
3. Sistem Aliran Bawah
Suplay air
untuk tanaman dialirkan melalui bawah tanaman, langsung melewati media tanam
dan perakaran tanaman. Air dari dalam kolam ikan dialirkan melewati dasar media
dan akan langsung menutrisi tanaman.
Pada sistem ini,
yang perlu diperhatikan adalah ketinggian lubang air pada talang air yaitu
kurang lebih 1/3 dari tinggi atau diameter talang. Hal ini dilakukan agar air
yang mengalir tidak terlalu tinggi atau tidak terlalu rendah. Air yang
tertampung dalam talang juga berfungsi sebagai cadangan apabila aliran listrik
padam atau pompa mati.
4. Sistem Pasang Surut
Pada sistem
pasang surut, suplay air untuk tanaman dilakukan dengan mekanisme pasang surut
yang diatur menggunakan sifon otomatis. Air secara periodik akan naik dan
turun, jika air pada media tanam telah mencapai ketinggian tertentu, secara
otomatis air akan segera terbuang kembali ke kolam, untuk kemudian naik dan
turun lagi secara periodik. Keunggulan dari sistem ini adalah media tanam di
dalam wadah tidak selalu tergenang air.
PERSIAPAN BUDIDAYA YUMINA BUMINA
1. Lokasi
Kegiatan
budidaya Yumina-Bumina dapat dilakukan pada daerah dengan ketinggian 7-1000 m
diatas permukan laut (DPL), dengan demikian usaha ini dapat dikembangkan di
hampir semua lokasi di Indonesia mulai dari pesisir hingga pegunungan.
Hal-hal yang
perlu diperhatikan dalam menentukan lokasi usaha budidaya secara umum antara
lain adalah bebas dari banjir dan longsor; tanah dasar stabil, terbuka dari
sinar matahari; tersedia akses jalan dan aliran air; ada sumber air tawar;
lingkungan sekitar aman dan kondusif.
Sumber air
yang dibutuhkan untuk pemeliharaan ikan hendaknya memenuhi kriteria khusus
kualitas air yang dibutuhkan oleh ikan agar ikan dapat tumbuh optimal, selain
itu diperlukan juga ketersediaan air sepanjang tahun. Khusus untuk budidaya
Yumina-Bumina persyaratan ketersediaan air dapat sedikit diabaikan karena
metode ini dapat diterapkan pada daerah-daerah yang mempunya keterbatasan air.
2. Fasilitas/ Kelengkapan Budidaya
Kelengkapan
dan fasilitas yang diperlukan untuk budidaya Yumina-Bumina antara lain adalah
Bak pemeliharaan ikan; Rakit; Wadah media tanam; Talang air; Saringan; Wadah
pengendapan; Sifon otomatis; Pompa air; dan Saluran air.
Wadah pemeliharaan ikan. Wadah dapat
berupa bak beton, fiberglass, terpal,
plastik, atau kaca dengan berbagai bentuk dan ukuran yang disesuaikan dengan
luas lahan dengan ketinggian air antara 0,5 – 1 meter. Pada budidaya
Yumina-Bumina bak pemeliharaan perlu dilengkapi dengan saluran outlet untuk
memudahkan pengurasan. Bak harus dalam keadaan baik dan tidak bocor, hal ini
karena pada budidaya ini, tidak dilakukan pergantian air.
Rakit. Berfungsi sebagai pelampung untuk
menopang wadah media tanam agar mengambang dipermukaan air. Rakit dapat dibuat
dari pipa berukuran 3 Inchi yang dirancang saling berhubungan membentuk rongga
kedap air sehingga dapat mengapung dipermukaan air. Ukuran dan panjang rakit
harus disesuaikan dengan wadah media tanam yang akan digunakan.
Wadah media tanam sebagai wadah tepat
tanaman. Wadah ini dapat terbuat dari ember atau pot plastik volume 5-10 liter.
Wadah media tanam yang digunakan pada sistem aliran atas atau sistem pasang
surut harus merupakan wadah yang dapat menampung air dan tidak bocor. Sedangkan
pada sistem rakit dan sistem aliran bawah, wadah media tanam yang dipilih
berupa tempat sampah/ atau wadah lainnya yang bagian sisi-sisinya berlubang,
karena pengunaannya akan dibenamkan di dalam air atau disisipkan dalam talang
air.
Talang air. Fungsi talang air adalah
untuk meletakkan wadah media tanam. Talang air dibuat sedemikian rupa secara
paralel dengan saluran air masuk pada ujung satu dan saluran air keluar pada
ujung lainnya. Posisi saluran air masuk dan keluar pada talang air harus
disesuaikan dengan ketingian air pada talang sehingga tidak meluap atau
kekeringan.
Saringan. Berfungsi untuk menutupi
saluran air pada wadah media tanam agar tidak tersumbat oleh media tanam.
Saringan air dapat dibuat dari mangkuk/ keranjang plastik dengan volume 0,5
liter dan dameter lubang-lubangnya berdiameter 1 cm.
Wadah pengendapan. Berfungsi untuk
mengendapkan bahan organik berupa partikel tersuspensi agar air yang
didistribusikan lebih bersih sehingga mengurangi risiko penyumbatan pada setiap
saluran inlet. Wadah pengendapan juga berfungsi untuk memperpanjang masa pakai
media tanam.
UKuran wadah
pengendapan yang ideal adalah 1-5% dari total volume bak pemeliharaan ikan,
terbuat dari bahan plastik yang dilengkapi saluran pengeluaran air dari pipa
PVC ukuran 1 inchi di kedua sisi yang berlawanan dengan posisi setiap lubang 2
cm dari dasar wadah dan dibuat sepanjang 7 cm dari diniding luar wadah.
Sifon Otomatis, berfungsi untuk mengatur
ketinggian air di setiap wadah media tanam. Bila permukaan air dalam wadah
media tanam telah sejajar dengan ketinggian saluran pembuangan di sifon maka
air dari wadah media tanam akan mengalir ke saluran pembuangan sifon otomatis.
Pompa air. Merupakan bagian yang penting
dari budidaya Yumina-Bumina yang berfungsi untuk menghisap air dari dasar bak
atau kolam dan mendistribusikan ke tanaman. Untuk ukuran bak ikan volme 10 ton
hanya dibutuhkan pompa air dengan daya listrik sebesar 35 watt.
3. Bahan-bahan
Bahan yang
digunakan dalam budidaya sistem Yumina-Bumina dapat disesuaikan dengan kondisi
dan potensi daerah setempat. Adapun bahan yang diperlukan untuk kegiatan
Yumina-Bumiana antara lain media tanam; ikan; tanaman; dan pakan.
Media tanam
merupakan meterial alami yang berguna sebagai media tempat melekatnya akar
tanaman sekaligus sebagai filter fisik dan media berkembangnya bakteri
pengurai. Jenis material yang bisa digunakan untuk media tanam adalah yang
tidak cepat busuk, mempunyai rongga dan tidak toksik. Contoh bahan yang dapat
digunakan untuk media tanam adalah batu apung, arang kayu, batu split atau akar
pakis.
Hampir semua
jenis ikan dapat dipelihara pada budidaya sistem Yumina-Bumina. Akan tetapi
ikan air tawar yang dipilih untuk kegiatan Yumina-Bumina sebaiknya dipilih yang
mempunyai nilai ekonomis tinggi, bisa dipelihara dengan padat tebar yang tinggi
dan mempunyai laju pertumbuhan yang cepat. Adapun jenis ikan yang dapat
dipelihara pada budidaya sistem Yumina-Bumina dapat dilihat pada tabel berikut:
NO
|
Jenis
Ikan
|
Ukuran (cm)
|
Padat Tebar (ekor/m3)
|
1
|
Lele
|
9-12
|
500-1000
|
2
|
Nila
|
10-12
|
50-100
|
3
|
Patin
|
9-12
|
20-50
|
4
|
Mas
|
10-12
|
50-75
|
Sebelum di tebar,
ikan diaklimatisasi terlebih dahulu selama 2 jam menggunakan air pemeliharaan
di bak/ kolam yang steril. Ikan yang sehat kemudian dapat dipindahkan ke dalam
bak media pemeliharaan yang telah dipersiapkan untuk Yumina-Bumina. Adapun
ciri-ciri ikan yang sehat antara lain adalah warna tubuh cerah dan mengkilat,
tidak ditumbuhi jamur atau parasit lainnya dipermukaan tubuhnya, bergerak aktif
melawan arus, responsif terhadap stimulan, bagian tubuh lengkap dan tidak
cacat.
Sedangkan
tanaman yang baik untuk budidaya Yumina Bumina adalah tanaman yang berakar
serabut, suka air dan masa produksinya singkat (tanaman semusim). Jenis tanaman
yang dapat digunakan untuk budidaya sistem ini dapat dibedakan menjadi 2 (dua)
kategori yaitu tanaman yang menghasilkan daun/ sayur semisal kangkung darat,
slada, caisim, dan pakcoi dan tanaman yang menghasilkan buah, seperti tomat, cabai
dan terong.
Pakan yang
diberikan kepada kan pada budidaya sistem Yumina Bumina adalah pelet dengan
kandungan protein antara 28-30%. Pakan yang dipilih adalah pakan yang mengapung
yang mempunyai kestabilan tinggi di air sehingg tidak mudah rusak dan tidak
mencemari perairan.
Dosis dan
frekuensi pemberian pakan disesuaikan dengan jenis dan ukuran ikan yang
dipelihara. Kenaikan dosis pakan dilakukan menggunakan estimasi biomas yang
didapatkan dari hasil sampling tiap minggu.
Sumber:
- Anonim. Yumina-Bumina. Pusat Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2015.
- https://diskanak.bogorkab.go.id/yumina-bumina-beternak-ikan-sekaligus-sayuran-dan-buah/

ConversionConversion EmoticonEmoticon