Teknologi Pembenihan Ikan Koi (Cyprinus carpio)

Latar Belakang

Ikan koi (Cyprinus carpio) merupakan salah satu jenis ikan hias yang telah lama dan secara turun-temurun dibudidayakan oleh orang Jepang. Kata koi berasal dari bahasa Jepang yang berarti ikan karper. Lebih spesifik lagi merujuk pada nishikigoi yang kurang lebih bermakna ikan karper yang bersulam emas atau perak.

Di Indonesia, koi merupakan ikan hias favorit dan digemari oleh kalangan masyarakat luas, karena warna tubuhnya yang mempesona dan harganya relatif mahal. Karena ikan koi sangat dekat berkerabat dengan ikan mas, dan oleh karena itu di Indonesia banyak orang menyebutnya sebagai ikan mas koi. Ikan koi sampai saat ini masih menjadi salah satu komoditas perdagangan yang mempnyai nilai ekonomis tinggi dalam dunia perikanan.

Buididaya koi mempunyai peluang yang besar untuk dikembangkan khususnya di Purbalingga, hal ini dikarenakan kondisi sumberdaya air di Pubalingga yang masih bersih dan cukup jernih. Selain itu, secara khusus, pembudidaya ikan koi sendiri memang belum banyak ditemui. Padahal permintaan akan ikan koi di sentra ikan hias di Pasar Ikan Purbalingga cukup besar. Ikan koi di sentra tersebut kebanyakan didatangkan dari luar Kota Purbalingga.

Budidaya koi terutama pada segmen pembenihan memegang peranan penting dalam penyediaan benih yang akan dibesarkan hingga proses pewarnaan mencapai kesempurnaan. Kualitas koi ditentukan oleh pola warna, kesesuaian jenis koi dan kejelasan warna. Pola warna yang simetris dengan batasan jelas antar warna menunjukkan kualitas yang baik.

Klasifikasi Ikan Koi

Ikan Koi termasuk ke dalam golongan ikan carp (karper). Pemuliaan yang dilakukan bertahun-tahun menghasilkan garis keturunan yang menjadi standar penilaian koi. Adapun klasifikasi ikan koi adalah sebaagi berikut:
Filum                     : Chordata
Sub filum             : Vertebrata
Superkelas          : Pisces
Kelas                     : Osteichthyes
Sub kelas             : Actinopterygii
Ordo                      : Cyprinoformes
Sub ordo              : Cyprinoidea
Famili                    : Cyprinidae
Sub Famili            : Cyprininae
Genus                   : Cyprinus
Spesies                 : Cyprinus carpio

Morfologi Ikan Koi

Secara garis besar, badan koi berbentuk seperti torpedo dengan perangkat gerak berupa sirip. Sirip-sirip yang melengkapi bentuk morfologinya adalah sebuah sirip punggung, sepasang sirip dada, sepasang sirip perut, sebuah sirip anus, dan sebuah sirip ekor. Untuk berfungsi sebagai alat gerak, sirip ini terdiri dari jari-jari keras, jari-jari lunak, dan selaput sirip. Sirip dada dan sirip ekor hanya mempunyai jari jari lunak. Sirip punggung mempunyai 3 jari-jari keras dan 20 jari lunak. Sirip perut hanya terdiri dari jari-jari lunak sebanyak 9 buah. Sirip anus mempunyai 3 jari-jari keras dan 5 jari-jari lunak.
Ikan Koi; Dengan berbagai corak dan warna yang cemerlang (sumber: Wikipedia)
Pada sisi badannya, dari pertengahan kepala hingga batang ekor, terdapat gurat sisi (linea lateralis) Garis ini terbentuk dari urat-urat yang ada di sebelah dalam sisik yang membayang hingga sebelah luar. Badan koi tertutup selaput yang terdiri dari 2 lapisan. Lapisan pertama terletak di luar yang disebut dengan epidermis, sedang lapisan dalam disebut sebagai endodermis. Epidermis terdiri dari sel-sel getah yang menghasilkan lendir (mucus) pada permukaan badan koi. Lapisan endodermis terdiri dari serat-serat yang penuh dengan sel. Di lapisan ini juga terdapat sel warna.

Sel warna ini mempunyai corak yang sangat kompleks yang dengan cara kontraksi memproduksi larutan dengan 4 macam sel warna yang berbeda. Adapun keempat sel tersebut adalahnmelanophore (hitam), xanthophore (kuning), erythrophore (merah), dan guanophore (putih). Organ perasa dan syaraf mempunyai hubungan erat dengan penyusutan dan penyerapan sel warna. Organ-organ ini sangat reaktif sekali dengan cahaya. Tempatnya terletak di antara lapisan epidermis dan urat syaraf pada jaringan lemak, yang terletak di bawah sisik.

Habitat dan Sifat Ikan Koi

Ikan koi menyukai tempat hidup (habitat) di perairan tawar yang tidak terlalu dalam dan alirannya tidak terlalu deras, misalnya di pinggiran sungai atau danau. Ikan ini dapat hidup baik di ketinggian 150-600 m di atas permukaan laut dan pada suhu 25-30 C. Meskipun tergolong ikan air tawar, ikan koi kadang-kadang juga ditemukan di perairan payau atau di muara sungai dengan kadar garam 25-30 ppm.

Koi mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Ikan ini bisa menempati hampir semua tempat. Pada saat pemindahan, jangan sampai koi mengalami perubahan secara mendadak. Masa hidup koi umumnya hingga 70 tahun, namun ada beberapa yang bisa hidup mencapai 200 tahun. Tidak ada bos dalam kelompok koi, dan tidak ada seekor pejantan kasar yang mengganggu koi betina. Sebagai pendatang lama, koi tidak akan menyiksa pendatang baru. Koi sangat lemah lembut

Makan dan Kebiasaan Makan

Ikan koi tergolong jenis omnivora, yaitu ikan yang dapat memangsa berbagai jenis makanan, baik yang berasal dari tumbuhan maupun binatang renik. Namun, makanan utamanya adalah tumbuhan dan binatang yang terdapat di dasar dan di tepi perairan. Koi mau menerima daging, ikan, sayur-sayuran, bahkan roti. Namun untuk mendapatkan koi yang sehat dengan warna memikat, kita perlu memberi koi dengan pakan buatan. Pakan buatan tersebut merupakan campuran berbagai bahan nabati dan hewani yang ditambah vitamin. Pakan buatan ini sangat posiitf untuk pertumbuhan warna badan koi. Selain pakan buatan, koi juga memerlukan pakan alami seperti udang-udangan, cacing tanah, kepiting, dan siput. Perbandingan bahan nabati dan bahan hewani berkisar 6 : 4.

Pemeliharaan Induk

Induk ikan koi dipilih dari garis keturunan yang jelas dan telah berumur lebih dari 2 tahun Induk koidipeliara dalam kolam tanah atau beton dengan kepadatan 3-4 ekor/ M3. Induk jantan dan betina dipelihara dalam kolam terpisah untuk menghindarkan pemijaan liar yang tidak kita inginkan.

Pakan yang diberikan untuk ikan koi ini adalah pakan buatan atau pelet yang berdiameter ± 3 mm. Frekuensi pemberian pakannya adalah 2 kali dalam sehari, yaitu setiap pagi dan sore hari. Dosis pemberian pakan dalam sehari adalah minimal 2% dari total biomass ikan. Air yang digunakan adalah air yang mengalir atau bersirkulasi dengan debit 1 L/menit. Hal ini untuk menjaga agar kadar oksigen terlarutnya stabil dalam pemeliharaan induk.

Adapun secara khusus, ciri-ciri induk yang baik adalah:
  • Umur sekitar 1,5 – 3 tahun. Induk tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Jika induk terlalu tua, dikhawatirkan mempengaruhi kualitas telur.
  • Tidak lemas, lincah, dan tubuh ideal.
  • Lubang urogenitalnya berwarna merah.
  • Sisik tersebar teratur dan berukuran agak besar.
  • Sisik tidak terluka dan tidak cacat.
  • Bentuk dan ukuran tubuh seimbang, tidak terlalu gemuk atau terlalu kurus.
  • Tubuh tidak terlalu keras atau terlalu lembek.
  • Perut lebar dan datar.
  • Ukuran tubuh relatif tinggi.
  • Bentuk ekor normal, cepat terbuka, pangkal ekor relatif lebar, dan tebal.
  • Kepala relatuf kecil dan moncongnya lancip, terutama pada induk betina. Sebab, jumlah telur ikan koi yang berkepala kecil, biasanya lebih banyak daripada ikan yang berkepala besar.
  • Jarak lubang dubur relatif dekat dengan pangkal ekor.

 Seleksi Induk Matang Gonad

Induk yang matang gonad sangat mempengaruhi keberhasilan pembenihan ikan koi. Pengetahuan akan induk yang telah matang gonad menjadi penting agar pembenihan yang dilakukan berhasil dan mendapatkan benih dengan kualitas yang bagus.

Adapun ciri – ciri induk matang gonad adalah :
Induk jantan
Induk betina
Umurnya lebih dari 1 tahun
Umurnya lebih dari 2 tahun
Bobot 0,5 – 1,5 kg
Bobot antara 2,0 – 4 kg
Bentuk tubuh pipih, perut tidak lebih besar dari kepala.
Perut lebih besar dari kepala dan punggung.
Jika perut ditekan, akan mengeluarkan cairan sperma
Jika perut ditekan, akan mengeluarkan ovum.
Gerakannya lincah.
Gerakannya tidak terlalu lincah.
Tutup insangnya kasar
Tutup insangnya halus

Proses Pemijahan

Kolam yang digunakan untuk kegiatan pemijahan adalah kolam beton yang berukuran minimal 1,5 m x 6 m dengan edalaman air 50 cm. Sebelum digunakan, bak pemijahan dicuci dan disikat hingga bersih kemudian dijemur hingga kering  Pengeringan ini dimaksudkan agar tercipta bau khas pada kolam yang akan merangsang dan mempercepat proses pemijahan koi.

Setelah dijemur, selanjutnya kolam pemijahan dapat di isi air hingga mencapai kedalaman 50 cm. Pengisian air pada olam pemijahan diusahakan dilakukan pada pagi hari menggunkan air yang bersih dan jernih. Setlah penuh biarkan hingga terkena paparan sinar matahari secara maksimal pada siang harinya, kemudian pada sore harinya induk koi yang sudah diseleksi dapat dimasukkan ke dalam kolam.

Letakkan tumbuhan air ataupun kakaban yang terbuat dari ijuk sebagai tempat mempel telur. Induk ini dimasukkan ke dalam kolam pemijahan dengan perbandingan antara betina dan jantan 1 : 3. Saat kondisi udara mulai sejuk (tidak terlalu panas) induk jantan akan mulai merangsang induk betina dengan cara mengejar-ngejar dan menempelkan badannya pada induk betina.

Induk betina yang memiliki respons baik akan berenang ke arah kakaban sambil melepaskan telurnya, lalu diikuti induk jantan di belakangnya sembari mengeluarkan sperma. Telur yang keluar tadi akan menempel pada kakaban.Proses pemijahan ini akan berlangsung maksimal hingga pukul 4 sampai 5 pagi. Induk yang selesai memijah akan berhenti berkejar-kejaran dan berenang ke tepi kolam. Kolam akan berbau amis hasil dari pemijahan. Perut induk betina juga akan terlihat mengempis.

Penetasan Telur

Setelah memijah pada malam harinya, esok harinya induk segera dipindahkan kembali ke kolam pemeliharaan induk. Hal ini agar telur-telur yang telah dihasilkan tidak dirusak oleh induk koi. Untuk menghasilakn telur dengan fekundias yang tinggi, suhu kolam pemetasan telur harus dijaga agar dalam kondisi yang stabil.Cuacanya tidak mendukung dengan fluktuasi suhu yang tinggi menyeabkan telur-telur tidak menetas optimal.

Telur akan menetas pada hari ke-3 setelah proses pemijahan. Agar menetas dengan baik, telur harus selalu terendam di dalam air. Jika suhu terlalu dingin, penetasan akan berlangsung lama. Selain itu, aerasi diperlukan untuk menjaga kadar oksigen terlarut dalam hari. Telur yang dibuahi sempurna adalah telur yang berwarna putih bening, sedangkan apabila telur itu berwarna putih susu, telur tersebut tidak dibuahi dan tidak akan menetas.

Pemeliharaan Larva

Larva yang baru menetas umumnya tidak diberi pakan hingga 3 hari. Sesudahnya, larva ikan koi dapat mulai diberi pakan pada hari ke-4. Pakan dapat berupa kuning telur bebek yang telah direbus kemudian diencerkan dan dilarutkan ke dalam air. Pemberian pakan telur bebek ini dilakukan selama 3 hari pertama saja, selanjutnya koi dapat diberi pakan berupa cacing sutra selama 7-8 hari berikutnya.

Larva koi dipelihara di kolam penetasan telur selama 2 minggu sebelum dipindah ke kolam pendederan. Selama masa pemeliharaan larva, kontrol terhadap kualitas air harus dilakukan secara cermat dan teliti, kebersihan kolam harus selalu terjaga, pakan juga harus selalu diperhatikan. Larva yang berumur hingga 7 hari masih rentan dan oleh karena itu perlu dirawat secara baik.

Aerasi pada kolam pemeliharaan larva sebaiknya diberikan terutama pada malam hari untuk menjamin suplai oksigen secara optimal. Pengukuran kualitas air sebaiknya juga dilakukan selama masa pemeliharan larva terutama suhu dan pH. Setelah pemeliharan larva koi selama 2-3 minggu, maka larva dapat segera dipindahkan ke kolam pendederan.

Pendederan

Pendederan larva koi yang sudah berumur 2-3 minggu dengan ukuran 2-3 cm dapat dilakukan di kolam sawah, baik berupa kolam tanah ataupun beton. Kolam pendederan sebaiknya dipersiapkan terlebih dahulu dengan cara melakukan pengeringan, pembalikan/ pembajakan, pemupukan dan pemberian probiotik. Setelah kolam pendederan diisi air, sebaiknya dibiarkan terlehih dahulu selama 3-7 hari agar pakan alami bisa tumbuh secara optimal. Setalah itu larva ikan koi dapat di tebar.

Setelah larva koi ditebar pada kolam pendederan, selama 1 minggu benih tidak diberi pakan. Hal ini dilakukan untuk penyesuaian benih terhadap lingkungan sekitar. Selama satu minggu tersebut, benih ikan koi mendapat asupan makanan dari paka alami berupa plakton yang telah ditumbuhkan ketika persiapan kolam pendederan. Setelah 1 minggu, benih baru diberikan pakan berupa tepung udang atau pelet khusus untuk pemeliharaan larva.

Setelah masa pemeliharaan 1,5 bulan, benih koi sudah mulai dapat diseleksi dan dipanen yang akan menghasilkan benih dengan ukuran 4-6 cm.

Referensi:

Effendy, Hersanto. 1993. Mengenal Beberapa Jenis Koi. Kanisius. Yogyakarta
Khairruman, dkk. 2000. Budidaya Ikan Mas Secara Intensif. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Prihartono, Eko. 2004. Permasalahan Ikan Koi dan Solusinya. Penebar Swadaya. Jakarta.

Previous
Next Post »

MarisaFood

MarisaFood
Produsen Olahan Ikan Air Tawar