PEMELIHARAAN
INDUK
Ikan
Neon Tetra adalah ikan hias air tawar yang berasal dari daerah Amazon, dekat
perbatasan Peru. Di alam aslinya ikan ini bersifat omnivora. Warna tubuhnya
sangat indah dan bercahaya dengan punggung hijau lembut, strip biru terang di
sepanjang tubuh, perutnya putih dan antara pangkal ekor ke atas berwarna merah
menyala serta sirip transparan. Ikan ini berukuran kecil, dengan panjang
maksimal 3 cm, dan hidup berkelompok.
![]() |
| Neon tetra; Ikan eksotis dari Amazon |
Memilih
induk merupakan tahap penting dan turut menentukan keberhasilan pemijahan ikan
neon tetra. Induk jantan dan betina ikan neon tetra mempunyai ciri-ciri yang
berbeda. Ikan Neon Tetra memiliki ciri khas berupa warna biru menyala pada
tubuhnya mulai dari ujung mulut sampai ke pangkal ekor. Neon Tetra jantan
memiliki warna biru menyala lurus mendatar dan tubuh yang lebih ramping,
sedangkan betinanya memiliki warna biru menyala tidak lurus (bengkok) dan perut
besar.
Ukuran
induk Neon Tetra dapat mencapai 3 cm dan sudah mulai bisa dipijahkan pada
ukuran 2,5 cm pada saat berumur 6-7 bulan. Ada beberapa ciri yang perlu
diperhatikan dalam memilih induk yang akan dipelihara yang meliputi gerakan,
kesehatan, warna, bentuk tubuh, garis neon biru, panjang tubuh, berat dan umur
ikan seperti tercantum pada tabel berikut:
Ciri-ciri
induk neon tetra:
No
|
Parameter
|
Jantan
|
Betina
|
1
|
Gerakan
|
Lincah
|
Lambat
|
2
|
Warna
|
Cerah
|
Cerah
|
3
|
Kesehatan
|
Baik (tidak
cacat/ sakit)
|
Baik (tidak
cacat/ sakit)
|
4
|
Bentuk tubuh
|
Ramping
|
Lebih besar
|
5
|
Garis neon
biru
|
Lurus
|
Bengkok
|
6
|
Berat
|
3.5 gram
|
4.4 gram
|
7
|
Umur
|
Lebih dari 4
bulan
|
Lebih dari 4
bulan
|
8
|
Panjang tubuh
|
2.9-3.0 cm
|
2.9-3.0 cm
|
Ikan
yang sehat adalah ikan yang gerakan, perilaku dan morfologi yang normal sesuai
dengan biologi ikan itu sendiri. Induk jantan bergerak lebih lincah
dibandingkan dengan induk betina. Tabel dibawah ini menampilkan ciri-ciri induk
ikan neon tetra jantan dan betina dalam hal gerakan, warna, kesehatan, bentuk
tubuh berikut garis neon biru, berat dan panjang rata-rata, dan umur induk.
Induk-induk
ikan neon tetra perlu dipelihara terlebih dulu agar mencapai matang gonad atau
apabila telah memijah memerlukan waktu untuk pemulihan dan pematangan gonad
kembali. Induk yang sebelumnya telah dipilih dan dipisahkan berdasarkan kelamin
dan kesehatannya kemudian dipelihara secara terpisah antara jantan dan betina
dalam akuarium yang berbeda.
PENYIAPAN
AKUARIUM PEMELIHARAAN
Wadah
yang digunakan untuk pemeliharaan induk ikan neon tetra adalah akuarium
berukuran (p x l x t) 100x50x35 cm. Sebelum digunakan akuarium harus
dibersihkan terlebih dahulu. Membersihkan akuarium ini bertujuan untuk membunuh
kuman-kuman yang berpotensi menjadi agen penyakit ikan yang akan dipelihara dan
menghilangkan kotoran yang dapat mengganggu dalam pemeliharaan ikan.
Akuarium
dibersihkan dengan cara menyikat seluruh dinding dengan sikat dan sabun sampai
bersih lalu dibilas dengan air bersih 2-3 kali, kemudian dilap dengan kain atau
spons kering. Akuarium yang telah bersih dapat segera digunakan untuk
pemeliharaan ikan, tetapi apabila tidak akan segera digunakan akuarium bersih
tersebut disimpan di rak dalam keadaan tengkurap.
Media
pemeliharaan ikan Neon Tetra adalah air tawar. Air yang baik untuk pemeliharaan
ikan tersebut adalah air sumur atau air permukaan yang telah diendapkan selama
3 – 5 hari di dalam tandon. Air yang telah diendapkan selama itu selanjutnya
disebut dengan air tendon lama. Akuarium diisi dengan air tandon lama setinggi
25 cm sehingga volume media pemeliharaan sebanyak 125 liter dalam tiap
akuarium.
Pengisian
air ke dalam akuarium dapat menggunakan gayung atau selang. Akuarium yang telah
berisi air siap digunakan untuk memelihara induk setelah diberi aerasi.
Pemasangan aerasi dilakukan dengan memasukkan selang berdiameter 0.5 cm yang
telah diberi batu aerasi, lalu selang dihubungkan dengan instalasi udara yang
tersedia. Selang aerasi biasanya diberi pengatur udara agar gelembung udara
yang keluar dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
PENEBARAN
INDUK
Masing-masing
induk ditebar dengan kepadatan 200 ekor per akuarium. Penebaran ikan dimulai
dengan melakukan aklimatisasi kemudian melepas ikan ke wadah pemeliharaan
induk.
Wadah
penampungan ikan yang digunakan untuk memilih dan memisahkan jantan dan betina mempunyai
kualitas air yang berbeda dengan media pemeliharaan yang telah disiapkan, oleh
karena itu diperlukan aklimatisasi. Aklimatisasi ini dimaksudkan untuk
menyesuaikan ikan dengan kondisi media pemeliharaan, terutama suhu air. Cara
aklimatisasi adalah dengan mengapungkan kantung induk di permukaan media
pemeliharaan induk selama 5 menit atau sampai suhu air pada kantung ikan sama
dengan suhu media pemeliharaan. Kemudian kantung ikan dimiringkan agar ikan
dapat lepas sendiri ke media pemeliharaan.
PEMIJAHAN
Keberhasilan pemijahan ikan neon
tetra diindikasikan oleh banyaknya telur yang dihasilkan dengan kualitas yang baik.
Pemijahan ikan neon tetra berlangsung secara alami. Pada kondisi tersebut
keberhasilan pemijahan lebih banyak ditentukan oleh teknik manipulasi
lingkungan. Oleh karena itu, untuk menghasilkan telur yang baik, selain
penanganan calon induk harus dilakukan dengan hati-hati dan pemberian pakan
yang tepat, juga penanganan kualitas air harus dilakukan dengan baik.
Penyiapan Wadah Pemijahan
Wadah yang diperlukan untuk
pemijahan berupa akuarium yang berukuran 15x15x15 cm atau 25x15x15 cm. Akuarium
terbuat dari kaca dengan ketebalan 5 mm. Akuarium ini selanjutnya juga
digunakan sebagai wadah untuk penetasan telur dan pemeliharaan larva. Sebelum
digunakan akuarium harus dibersihkan.
Akuarium yang berukuran lebih
kecil diisi dengan air tandon lama setinggi 7 cm sehingga volume air dalam
wadah sebanyak 15 liter. Akuarium yang berukuran lebih besar diisi air tandon
lama dengan ketinggian 4 – 5 cm. Maksud pengisian air sebatas 7 cm atau 4-5 cm
ini adalah untuk memberikan tekanan agar induk tidak memakan telur yang telah
dikeluarkannya karena ikan neon tetra termasuk ikan charasin yang tidak merawat
telurnya (non parental care). Wadah yang telah diisi dibiarkan sehari semalam
agar air lebih stabil, sehingga pengisian air dilakukan sehari sebelum
penebaran induk dilakukan.
Proses Pemijahan
Pemijahan ikan Neon Tetra
dilakukan secara alami, yaitu induk betina mengeluarkan telur yang diikuti
dengan induk jantan yang mengeluarkan sperma di dalam akuarium pemijahan yang
telah disiapkan sebelumnya.
Ikan yang telah diseleksi
dimasukkan ke dalam akuarium pemijahan untuk dipijahkan secara berpasangan pada
waktu sore hari. Perbandingan jumlah induk jantan dan betina adalah 1:1 atau
2:1. Induk yang dimasukkan terlebih
dahulu adalah induk jantan, selang satu jam kemudian dimasukkan induk betina.
Apabila menggunakan rasio jantan betina 1:1 dipakai akuarium ukuran 15x15x15
cm, sedangkan untuk rasio 2:1 digunakan akuarium ukuran 25x15x15 cm.
Perbandingan dimana jantan lebih banyak dimaksudkan untuk memperbesar derajat
pembuahan telur.
Ikan neon tetra memijah pada malam
hari dalam keadaan gelap yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam. Untuk
menyesuaikan dengan habitat asal maka akuarium pemijahan ditutup dengan plastik warna
hitam sampai keadaan benar-benar gelap. Penutupan dengan plastik warna hitam
ini dapat dilakukan juga pada rak pemijahan dengan prinsip sama yaitu
terciptanya suasana gelap. Sedikit cahaya saja yang berhasil menembus masuk ke
dalam akuarium bisa dipastikan bahwa ikan tetra tidak akan memijah. Selama
pemijahan berlangsung induk tidak diberi makan agar proses pemijahan dan telur
yang dihasilkan tidak terganggu oleh sisa-sisa pakan.
PENETASAN
TELUR
Sepasang
induk Neon Tetra dapat menghasilkan rata-rata 180 butir telur dengan jumlah
telur yang dibuahi rata-rata 83 butir (47.74 %). Telur yang dibuahi mempunyai
ciri-ciri berwarna bening (transparan), sedangkan yang tidak dibuahi berwarna
putih keruh (tidak transparan). Telur yang tidak menetas dapat disebabkan tidak
dibuahi oleh sel gamet jantan atau disebabkan adanya penetrasi cahaya ke dalam
akuarium dan mengenai telur.
Pagi
hari dilakukan pengecekan telur dengan cara membuka plastik penutup wadah
pemijahan. Ada tidaknya telur diperiksa dengan menggunakan lampu neon 20 watt
atau senter. Akuarium pemijahan ditandai apabila induknya telah memijah
sehingga dapat dibedakan kelompok ikan yang memijah pada hari yang sama.
Untuk
mengetahui jumlah rata-rata telur yang dihasilkan setiap pasang induk maka
dilakukan penghitungan telur dengan cara mengambil beberapa buah akuarium yang
berisi telur untuk diketahui jumlah telurnya. Semua telur yang dihasilkan
dijumlah dan jumlah total telur dibagi dengan jumlah pasangan yang memijah
merupakan rata-rata telur yang dihasilkan tiap pasangan yang memijah.
Induk
yang telah memijah diangkat dan dimasukkan kembali ke dalam akuarium
pemeliharaam induk untuk pemulihan dan pematangan gonad. Telur yang sudah
dikeluarkan oleh induk didiamkan di akuarium pemijahan dalam keadaan gelap
karena telur ikan tetra bersifat photophobic yakni sangat sensitif terhadap
cahaya.
Akuarium
berisi telur tersebut selanjutnya diberi MB (methylen blue) dengan dosis 0,2 ppm yang berfungsi untuk mencegah
tumbuhnya cendawan. Telur akan menetas setelah 24 jam pada suhu 26-27oC.
Larva yang baru menetas memiliki ciri-ciri berwarna bening, berenang tidak
beraturan, dan berukuran sekitar 5 mm. Larva dipanen dengan cara menuangkan
seluruh air berikut larva dari wadah pemijahan ke baskom sebagai tempat
penampungan. Larva ini siap ditebarkan ke wadah pemeliharaan selanjutnya dengan
menggunakan serok halus.
PEMBERIAN
PAKAN
Ikan
akan tumbuh dan berkembang biak apabila mendapatkan pakan yang cukup jumlah dan
nutrisinya, oleh karena itu ikan yang dipelihara harus diberi makan yang
sesuai. Selama pemeliharaan induk pakan yang diberikan harus sesuai jumlah dan
kandungan nutrisinya dengan kebutuhan ikan. Pakan yang diberikan pada induk
ikan neon tetra adalah pakan hidup. Pakan tersebut dapat berupa kutu air
(Daphnia sp. atau Moina sp.), cacing sutra (Tubifex) dan cu merah atau
jentik nyamuk (larva Chironomus sp). Pakan diberikan secara ad libitum (sampai
kenyang) dengan frekuensi dua kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari.
Sebelum diberikan pakan hidup tersebut harus dicuci dengan menggunakan air
bersih agar kotoran/lumpur maupun bibit penyakit hilang sehingga pakan dapat
diberikan dalam keadaan bersih.
PENGELOLAAN
AIR
Selama
pemeliharaan ikan, media pemeliharaan akan mengalami penurunan kualitas akibat
menumpuknya sisa-sisa pakan dan feses (kotoran) ikan. Kualitas air dapat
dipertahankan dengan cara penyiponan sisa pakan dan feses ikan yang mengendap
di dasar akuarium setiap hari yang diikuti dengan pergantian air. Metode
penyiponan adalah pengambilan kotoran dan air dengan memanfaatkan gravitasi bumi
dan alat berupa selang plastik. Untuk memfungsikan sistim sipon, masukkan satu
ujung selang ke air dalam wadah yang akan disipon dengan mulut selang tertutup
jari dan ujung lainnya dijatuhkan ke tempat yang lebih rendah dari kedudukan
wadah. Air akan mengalir begitu tutup selang dibuka menarik kotoran yang
terdekat. Untuk memudahkan pembersihan kotoran yang menempel di dasar wadah
ujung selang diberi sikat kecil.
Pergantian
air dilakukan untuk mengembalikan volume air wadah yang berkurang akibat
penyiponan dan menambahkan air baru yang lebih bersih sehingga kualitas air
kembali menjadi layak bagi ikan. Pergantan air dilakukan sebanyak 30% dan 50%
volume media secara bergantian setiap hari. Apabila hari ini dilakukan
pergantian air sebanyak 30% maka esok harinya pergantian air sebanyak 50% dan
seterusnya. Setiap pergantian sebanyak 50% volume air dapat dimasukkan garam
sebanyak 98,5 gram (segenggam tangan orang dewasa) yang bertujuan untuk
mencegah terjadinya penyakit pada ikan yang dipelihara. Air yang ditambahkan ke
dalam wadah pemeliharaan adalah air tandon lama. Untuk menjaga ketersediaan
oksigen di air maka pemberian aerasi harus dilakukan secara terus-menerus.
PENCEGAHAN
HAMA DAN PENYAKIT
Selama
pemeliharaan seringkali induk terserang oleh penyakit. Penyakit tersebut dapat
dibawa oleh ikan itu sendiri, melalui air atau melalui pakan. Untuk mencegah
terjadinya penyakit dapat dilakukan dengan cara monitoring atau pemeriksaan
secara rutin terhadap ikan yang dipelihara setiap hari. Langkah-langkah yang
dilakukan dalam pemeriksaan kesehatan ikan adalah: (1) mengamati bagian ekor
untuk melihat ada tidaknya gejala berupa bintik putih, (2) mengamati warna
tubuh untuk melihat ada tidaknya perubahan warna, (3) mengamati ada atau tidak
adanya kelainan gerakan renang ikan (4) mengamati respons ikan terhadap
pemberian pakan.
Penyakit
yang biasa menyerang induk Neon Tetra adalah bintik putih (white spot), buluk (velvet
disease) dan jamur. Penyakit bintik putih menyerang permukaan tubuh ikan
(eksternal) yaitu pada bagian kulit/ sisik dan sirip.
Penyakit
ini ditandai dengan munculnya bintik-bintik putih pada bagian yang terserang.
Penyakit buluk menyerang permukaan tubuh yaitu pada bagian kulit/ sisik dan
sirip yang ditandai dengan kurang cerahnya warna tubuh ikan. Penyakit jadur
ditandai dengan menonjolnya bagian rahang dan mulut ikan.
Obat-obatan
yang digunakan adalah garam, pura (Furazolidon),
dan blitz icht (atau Raid All untuk Ich). Untuk penyakit bintik putih diatasi
dengan menggunakan 6 tetes blitz icht, untuk pencegahan diberi 4 tetes saja.
Untuk penyakit buluk diatasi dengan garam 98.5 gram dan 2.5 gram pura yang
ditambahkan ke dalam media pemeliharaan induk.
Penyakit
jamur diatasi dengan bubuk kapsul Thiamphenikol sebanyak 1 kapsul. Dalam pengobatan
penyakit, air dalam akuarium dikurangi sebanyak 50% volume air, dan ikan
dipuasakan selama 3 hari. Bila ikan masih sakit beri makan dalam jumlah sedikit
saja.
Referensi:
Bachtiar, Yusuf.2004.Budidaya Ikan Hias Air Tawar untuk Eksport.Jakarta:Agromedia Pustaka
http://www.alamikan.com/2014/05/cara-pembenihan-budidaya-ikan-neon-tetra.html
https://sukaikan.com/cara-budidaya-ikan-neon-tetra/

ConversionConversion EmoticonEmoticon