Teknik Pembenihan Ikan Maanvis di Mina Makmur Farm Desa Bojongsari Kecamatan Bojongsari

Pendahuluan

Secara geografis, sebagian besar daerah Purbalingga merupakan daerah yang bercuaca sejuk. Walaupun cenderung mempunyai ketinggian yang beragam karena letak kabupaten Purbalinga yang memanjang mulai dari yang tertinggi di kaki Gunung Slamet sampai ke daerah dengan ketinggian sedang di bagian bawah dengan ketinggian sekitar 400 dpl.
Pesona ikan Maanvis di dalam aquarium
Kondisi geografis yang dimiliki oleh kabupaten Purbalingga ini, sangat memungkinkan untuk pengembangan ikan hias air tawar. Apalagi sejak dibentuknya asosiasi Paguyuban Pedagang Ikan Hias (PPIH) dan diperkenalkannya berbagai ikan hias air tawar yang potensial dikembangkan kepada para pegiat dan pedagang ikan hias yang tergabung dalam PPIH.

Hasilnya, beberapa tahun belakangan perkembangan budidaya ikan hias mulai terlihat meningkat secara signifikan. Para pedagang yang biasa mengambil ikan hias dari luar daerah sudah mulai melakukan kegiatan pembenihan dan budidaya ikan hias sendiri.

Para pegiat ikan hias yang tergabung dalam PPIH mulai mengembangkan dan membenihkan berbagai macam ikan hias potensial dan beberapa bahkan sudah rutin untuk pengiriman ke luar negeri (ekspor) melalui eksportir. Apalagi sejak digulirkannya jargon “Purbalingga sebagai penghasil ikan hias terbesar tahun 2020”. Para pegiat ikan hias semakin termotivasi untuk memproduksi berbagai macam ikan hias potensial.

Beberapa ikan hias air tawar yang terlihat mempunyai perkembangan signifikan adalah ikan Koki, ikan Rasbora, Diskus, Cupang, Black Ghost, dan ikan Maanvis. Peluang pengembangan ikan hias air tawar ini sangat terbuka lebar dikarenakan permintaan untuk ekspor ikan hias masih sangat tinggi dan jauh diatas produksi ikan hias di Indonesia. Hali ini sekaligus merupakan tantangan bagi para pembudidaya dan pengusaha Indonesia pada umumnya dan di Purbalingga khususnya untuk lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi ikan hias.

Salah satu ikan hias air tawar yang sudah dikembangkan oleh pembudidaya ikan hias di Kecamatan Bojongsari, Purbalingga adalah dari jenis Maanvis. Unit Pembenihan Rakyat “Ali Hanafi” telah mulai membudidayakan dan memijahkan ikan Maanvis sejak tahun 2015 yang lalu. Oleh karena itu, untuk memberikan pembelajaran kepada pelaku utama khususnya yang bergerak di segmen pembenihan ikan hias, dirasa perlu untuk mengetahui secara detail teknik pemijahan ikan hias Maanvis di UPR Ali Hanafi kecamatan Bojongsari, Purbalingga.

Mengenal Maanvis

Kata maanvis sendiri berasal dari bahasa Belanda yang berarti “Ikan Bulan” karena bentuknya yang seperti bulan purnama. Di dunia internasional, ikan ini terkenal dengan nama “Angel fish” karena gerakannya yang lemah gemulai dengan sirip yang panjang, tipis, dan halus serta dapat bergetar seperti selendang bidadari. Ikan ini juga sering dijuluki “The Queen of Aquarium” karena bentuknya yang sangat indah seperti anak panah dan sifatnya yang tenang sehingga sangat digemari sebagai ikan hias akuarium.

Klasifikasi

Sistematika Ikan Maanvis adalah sebagai berikut :
·   Ordo          : Perchomorphidei
·   Subordo     : Percoidea
·   Famili        : Cichlidae
·   Genus        : Pterophyllum
·   Spesies      : Pterophyllum scalare

Morfologi Maanvis

Maanvis memiliki bentuk tubuh pipih (gepeng) seperti bentuk anak panah. Sirip perut dan punggung membentang lebar kearah ekor sehingga nampak membentuk busur berwarna gelap transparan. Di bagian dadanya ada dua buah sirip yang panjangnya menjuntai sampai ke ekor. Dikalangan pembudidaya ikan hias, sirip dada yang berwarna keputihan ini diberi nama selempang alias dasi.

Tubuh ikan Maanvis dibalut oleh warna dasar keperakan mengkilat sampai hijau keabuan. Pada kepala bagian atas tersapu warna cokelat kehitaman menyusur sampai ke punggung. Sementara warna kombinasinya adalah hitam kecokelatan yang memotong di tiga bagian yaitu bagian ekor, tengah, dan mata. Panjang tubuh maksimal antara 12-15 cm.

Habitat dan Kebiasaan Hidup

Ikan Maanvis merupakan bukan ikan hias asli Indonesia tetapi berasal dari Amerika Selatan yakni dari dataran Orinocu dan Sungai Amazon. Di habitat aslinya, ikan ini dijumpai pada perairan tenang dan banyak ditumbuhi tanaman air dengan suhu 23-28o C dan pH berkisar antara 6,5-7,0. Maanvis termasuk kedalam golongan ikan pemakan segala (omnivore) serta bersifat pendamai sehingga dapat dipelihara bersama ikan-ikan yang  memiliki gerakan lamban. Seperti umumnya ikan dari famili Cichlidae, Maanvis pun memiliki sifat sayang terhadap keturunannya. Begitu sayangnya, terkadang ia tega menyantap anak-anaknya bila ia merasa ada yang mengganggu keselamatannya.

Persiapan Bak Pemijahan

Bak pemijahan untuk ikan Maanvis  yang ada di UPR Ali Hanafi berupa akuarium dengan ukuran kurang lebih 60 x 40 x 40 cm. Tempat pemijahan berupa sebuah ruangan semi permanen yang terletak pada lokasi yang tenang dan cenderung gelap. Maanvis mempunyai sifat menempelkan telurnya, oleh karena itu di dalam bak pemijahan diletakkan media yang terbuat pipa pralon berukuran 2,5 Inchi yang dipotong sepanjang kurang lebih 15 cm sebagai media untuk menempelkan telur.

Sebelum digunakan untuk memijahkan, akuarium dan media untuk menempelkan telur dicuci dan disterilan terlebih dahulu untuk memastikan terbebas dari paparan penyakit. Setelah dibersihkan, kemudian akuarium pemijahan diisi air setinggi  30 cm  dengan  suhu  air 23-26o C  dan  pH 6,8 -7.  Air sebagai media pemijahan selalu dijaga kebersihannya dan dipantau kualitas airnya.

Pemilihan Induk

Secara kasat mata, perbedaan antara jantan dan betina tidak terlihat secara jelas. Hal termudah yang biasa dilakukan adalah dengan cara memilih induk Maanvis yang sudah berpasangan dari sekumpulan induk yang dipelihara yang kemudian dipisahkan dan ditempatkan pada wadah pemijahan. Akan tetapi ditangan ahlinya, pemilihan induk jantan dan betina mudah saja dilakukan. Dalam satu keturunan, ukuran ikan jantan biasanya akanlebih besar dengan perutnya yang pipih.

 Bagian kepala ikan jantan juga terlihat lebih besar dan mempunyai benjolan kecil (kadang tidak tampak jelas) yang terletak antara ujung mulut dan sirip punggung. Sedangkan Maanvis betina, sekalipun ukurannya lebih kecil tetapi perutnya agak menonjol dengan bentuk kepala yang relatif kecil dan umumnya membentuk garis lurus antara mulut dan sirip punggung.

Ikan Maanvis sudah mulai dapat dipijahkan setelah berumur minimal 7 bulan dengan ukuran tubuh minimal  6 cm. Maanvis yang siap memijah biasanya akan selalu bersama-sama kemanapun pergi dan selalu berkejar-kejaran. 

Proses Pemijahan

Induk maanvis dipijahkan di dalam akuarium dengan perbandingan 1:1. Sepasang induk manfish dimasukan didalam akuarium pemijahan yang telah disiapkan. Sepasang induk maanvis yang akan bertelur biasanya selalu berenang mengelilingi tempat pemijahan. Induk betina dan jantan saling bekerja sama untuk membersihkan permukaan pralon,  setelah bersih jantan akan mendampingi betina berenang dan akhirnya betina menempelkan telur-telur secara beraturan di tempat penempel telur (pralon). Setelah betina sudah menaruh telurnya, induk jantan pun berenang ke atas ke bawah secara bergantian untuk menyemprotkan sperma ke telur yang telah induk betina keluarkan.

Untuk menciptakan suasana tentram pada saat pemijahan, pada dinding akuarium ditempel kertas atau stiker yang berwarna gelap. Hal ini dilakukan sesuai dengan sifat Ikan Maanvis yang gemar hidup ditempat gelap. Proses pemijahan akan berlangsung pada malam hari ketika suasana tenang dan sepi. Induk betina segera akan meletakkan telur pada media yang telah disediakan sehingga keesokan harinya tampak telur yang sudah menempel pada media tersebut.

Penetasan Telur

Setelah induk maanvis bertelur maka segera pisahkan induk dengan telurnya karena jika tidak langsung dipisahkan induk maanvis akan menelan lagi telur-telurnya. Pada akuarium pemeliharaan larva diberi Methylene Blue agar telur tidak terserang jamur dan diisi air 7-10 cm. Pemberian MB diberikan sampai benih berumur 14 hari.

Telur akan menetas dalam waktu 2 – 3 hari pada suhu 25 – 28 oC. Larvanya akan menggantung pada permukaan daun dengan perantaraan seutas benang halus yang dihasilkannya. Dua atau tiga hari kemudian anak Maanvis terlihat sudah mulai berenang sendiri.

Setelah menetas, biasanya induk Ikan Mannvis akan menjaga dan merawat telurnya dengan cermat secara bergantian. Kelompok telur yang melekat dibersihkan dengan mulut sambil mengkipas-kipaskan siripnya agar telur-telur tersebut memperoleh aliran air yang segar. Pada kondisi ini sebaiknya induk jangan dikagetkan, karena jika itu terjadi bisa jadi induk Maanvis akan memakan telurnya karena sayangnya induk kepada keturunannya.

Pendederan

Persediaan kuning telur pada umur 3 – 4 hari sudah habis dan anakan Maanvis sudah aktif berenang. Keadaan seperti ini merupakan saat-saat yang rawan dalam usaha budidaya Maanvis. Oleh karena itu harus segera mendapat perlakuan sebaik-baiknya dengan cara melakukan pemindahan ke dalam kolam pendederan . Sapun kolam pendederan yang digunakan di UPR Ali Hanafi adalah kolam terpal yang berukuran 2 x 4 m dengan kepadatan 500 ekor.

Semenjak hari pertama hingga hari ke tujuh, benih diberi pakan berupa infusoria atau rotifera. Awal minggu kedua diberi naupli artemia atau kutu air halus hasil saringan, kemudian cacing sutera atau pakan buatan berbentuk tepung halus. Pemberian pakan ini dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak terdapat sisa pakan di dasar wadah yang dapat menyebabkan perubahan kualitas air pada wadah budidaya. Pemeliharaan tahap pertama ini biasanya diakhiri dengan kegiatan seleksi.

Pembesaran

Pembesaran Maanvis di UPR Ali Hanafi dilakukan di kolam terpal ukuran 2 x 4 m dengan kepadatan tergantung pada ukuran ikan. Benih untuk pembesaran ini biasanya sudah berumur 3-4 minggu. Tandanya ialah sirip-siripnya sudah lengkap. Pakan yang diberikan berupa kutu air besar, cacing sutera, ataupun cacing darah.

Biasanya pada usia 2 bulan dan dewasa, ikan ini sudah tahan  terhadap perubahan kualitas air. Namun demikian, pergantian air sebaiknya dilakukan secara rutin. Ini disebabkan sirip dadanya yang panjang seperti dasi sangat mudah rusak bila terserang penyakit. Jika sudah rusak maka nilai jualnya pun hilang (menurun). Pada ukuran 3,5 cm atau berumur sekitar 3 bulan, Maanvis sudah dapat dijual.

Penanggulangan Penyakit

Penyakit yang seringkali menyerang ikan maanvis adalah fin rot. Selain menyerang maanvis penyakit ini banyak juga diujumpai menyerang ikan-ikan yang mempunyai sirip panjang. Penyakit ini dapat disebabkan oleh bakteri Flexibacter collumnaris atau virus yang hadir karena media yang kotor.
Serangan penyakit ini akan semakin parah bila kondisi ikan kurang baik, kurang pakan, cuaca buruk karena suhu turun atau naik, kerusakan fisik karena kesalahan dalam kepadatan ikan yang terlalu tinggi. Tanda dari penyakit ini yaitu sirip pecah-pecah, patah atau geripis, dan bagian tepi sirip menjadi putih.

Pada tingkat lanjut penyakit ini dapat menyebabkan pendarahan pada sirip. Pengobatan dilakukan dengan di beri Acrivalvine dengan dosis 0,3 mg/l, perendaman selama 30 menit. Pengobatan lain adalah dengan melakukan perendaman ikan yang sakit dengan menggunakan garam konsentrasi tingi pada wadah pemeliharan/ aquarium khusus selama beberapa menit.
Previous
Next Post »

MarisaFood

MarisaFood
Produsen Olahan Ikan Air Tawar