Persyaratan dan Tahapan Budidaya Udang Galah


PENDAHULUAN

Udang galah merupakan salah satu udang air tawar yang banyak ditemukan di Indonesia. Udang galah banyak ditemukan diperairan umum hampir di setiap daerah seperti di Kalimantan, Sumatera, Jawa dan daerah lainnya. Dalam pengembangannya, Pemerintah Indonesia telah mempunyai strain udang galah unggul (GI Marco) sebagai salah satu komoditas yang dikembangkan dan dibudidayakan.

Saat ini, peluang pengembangan udang galah masih sangat terbuka. Cita rasa udang galah yang tinggi telah membentuk pasar udang galah dari golongan kelas menengah ke atas. Permintaan udang galah terutama berasal dari kota-kota besar di Indonesia sebagai salah satu menu favorit di restoran-restoran kenamaan.

Daerah-daerah wisata seperti Bali, Jakarta, Yoyakarta,Surabaya dan Batam adalah pasar potensial bagi udang galah. Sedangkan permintaan udang galah dari luar negeri terutama datang dari negara-negara asia seperti Singapura, Jepang dan Korea. Saat ini, pusat budidaya udang galah disetralkan di Yogyakarta, itu pun masih berskala mikro (skala kecil) sehingga masih bisa dikembangkan di daerah-daerah lainnya.
Foto: Udang galah
Dari sisi ekonomi, usaha budidaya udang galah akan memberikan keuntungan yang berlipat ganda. Karena udang galah bisa dibudidayakan bersama padi di sawah. Jadi para petani lokal bila membudidayakan udang galah selain memperoleh keuntungan dari padi juga secara otomatis akan mendapat tambahan keuntungan dari hasil budidaya udang galah. Selain itu lahan-lahan non produktif bisa digunakan untuk budidaya udang galah sehingga akan memberi keuntungan kepada para pemilik lahan dan para pekerja.

Budidaya udang galah relatif mudah karena bisa dibudidayakan pada lahan kolam, empang air tawar atau tanah persawahan dan cara budidaya bisa dilakukan dengan cara tradisional atau semi intensif dengan skala kecil (mikro), skala menengah maupun skala industry (makro).

MENGENAL UDANG GALAH ( Macrobrachium rosenbergii, de Man )

Klasifikasi Udang Galah

Phyllum              : Arthropoda
Subphyllum        : Mandibulata
Kelas                   : Crustacea
Subkelas              : Malacostraca
Ordo                    : Decapoda
Famili                  : Palamonidae
Subfamil              : Palamoniae
Genus                  : Macrobrachium
Species                : Macrobrachium rosenbergii, de Man

Karakteristik Morfologis

Secara umum, udang galah mempunyai karakteristik morfologis sebagai berikut:
  • Tubuh beruas–ruas sebanyak 5 ruas yang masing-masing dilengkapi sepasang kaki renang; kulit keras dari chitin; pelura ke dua menutupi pleura pertama dan ke tiga;
  • Badan terbagi tiga bagian : kepala+dada (cephalothorax); badan (abdomen); dan ekor (uropoda);
  • Cephalothorax dibungkus karapas (carapace);
  • Tonjolan seperti pedang pada carapace disebut rostrum dengan gigi atas sejumlah 11-15 buah dan gigi bawah 8-14 buah.;
  • Kaki jalan ke dua pada udang dewasa tumbuh sangat panjang dan besar, panjangnya bisa mencapai 1,5 kali panjang badan, sedang pada udang betina pertumbuhan tidak begitu mencolok;

Karakteristik Biologis dan Sifat-sifatnya

Sedang karakteristik habitat/biologis udang galah adalah:
  • Memiliki dua habitat yaitu air payau salinitas 5-20 ppt (stadia larva-juvenil), dan air tawar (stadia juana-dewasa) (Gambar 3);
  • Matang kelamin umur 5 – 6 bulan (mendekati muara sungai untuk memijah lagi;
  • Mengalami beberapa kali ganti kulit (molting) yang diikuti dengan perubahan struktur morfologisnya, hingga akhirnya bermorfologis menjadi juvenil (juana);
  • Selain morfologi, untuk membudidayakan ikan/udang perlu diketahui sifat-sifatnya; beberapa sifat yang penting diketahui antara lain adalah :
  • Euryhalin, yaitu dapat hidup pada kisaran salinitas yg lebar (0-20 ppt);
  • Omnivora, yaitu pemakan segala (tumbuhan dan hewan);
  • Pada stadia larva, udang galah memakan plankton hewani (zooplankton), seperti rotifera, protozoa, cladocera, dan copepoda;

Daur Hidup Udang Galah

  • Stadia Post larva, juvenil, dan dewasa : memakan cacing, serangga air, udang renik, telur ikan, ganggang, potongan tumbuh – tumbuhan air, potongan hewan, jasad penempel, hancuran biji – bijian dan buah – buahan, siput, dan sebagainya, juga memakan jenisnya sendiri (kanibal, khususnya ketika molting);
  • Nokturnal, yaitu aktif makan malam hari. Jika lingkungan hidupnya dapat dibuat relatif gelap udang akan aktif makan walaupun siang hari;
  • Larva bersifat planktonis, aktif berenang, tertarik oleh cahaya tetapi menjauhi sinar matahari;
  • Pada stadium pertama (I), larva cenderung berkelompok dekat permukaan air dan semakin lanjut umurnya akan semakin menyebar dan individual serta suka mendekati dasar. Di alam larva hidup pada salinitas 5 – 10 0/00.
  • Perkembangan stadia udang galah secara garis besar disajikan pada Gambar 4.

Membedakan Udang Galah Jantan dan Betina

Perbedaan antara udang jantan dan udang betina adalah sebegai berikut:
Bentuk badang udang jantan dibagian perut lebih ramping dan ukuran pleuron lebih pendek, sedang pada betina bagian perut tumbuh melebar dan pleuron agak memanjang. Letak alat kelamin jantan pada pasangan kaki jalan ke lima, pada betina pada pasangan kaki jalan ke tiga. (Gambar 1).
Udang jantan:
  • Relatif lebih besar;
  • Pasangan kaki jalan yang kedua relatif lebih besar dan panjang (bahkan dapat mencapai 1,5 kali panjang total tubuhnya);
  • Bagian perut lebih ramping;
  • Ukuran pleuron lebih pendek;
  • Alat kelamin jantan terdapat pada di antara pasangan kaki jalan kelima;
Udang betina:
  • Tubuh lebih kecil, badan agak melebar, demikian pula kaki renangnya, membentuk ruang untuk mengerami telur (broodchamber);
  • Pleuron memanjang;
  • Pasangan kaki jalan kedua tetap tumbuh lebih besar, tetapi tidak sebesar dan sepanjang udang jantan;
  • Alat kelamin terletak pada pasangan kaki ke tiga, merupakan suatu lubang yang disebut thelicum.
Khusus untuk ukuran kaki jalan pada udang galah yang dikenal berukuran panjang/ besar, telah dihasilkan varietas yang bercapit lebih kecil yaitu yang disebut Gi-Makro, Capit yang lebih kecil ini mempunyai keunggulan tersendiri.

PERSYARATAN LOKASI BUDIDAYA

Beberapa kriteria lokasi/calon lokasi yang baik untuk hatchery adalah :
  • Lokasi hendaknya mempunyai sumber air laut dan air tawar, karena untuk pemijahan dan larva stadia awal udang galah membutuhkan air payau;
  • Lingkungan sekitar bebas dari pencemaran, agar kualitas air pasok memenuhi syarat kebersihan dan bebas bahan pencemar.
  • Lokasi aman dari banjir dan bencana alam lain;
  • Tersedia sumber listrik;
  • Tersedia tenaga kerja;
  • Kebutuhan sarana budidaya terjamin;
  • Aksesibilitas baik;
  • Keamanan terjamin;
  • Pemasaran benih mudah.

Air sumber harus memenuhi baik kuantitas maupun kualitasnya.  Semakin tinggi kualitas unsur-unsur tersebut maka akan semakin kuat mendukung keberhasilan usaha.  Kualitas air harus memenuhi syarat baik fisik, kimiawi maupun biologi. Harus dapat menyediakan air dengan salinitas 12 ppt.

Sedangkan untuk kegiatan pembesaran udang galah, perencanaan pembangunan wadah budidaya harus memenuhi persyaratan antara lain; kawasan bebas banjir dan pencemaran, jenis tanah liat berpasir, kolam dibuat pada ketinggian 0-700 meter dpl. Air tersedia sepanjang tahun, bebas polusi, sirkulasi air harus bagus, bebas pencemaran, bebas polusi. Debit air yang dianjurkan 0,5-1 liter per detik untuk luasan kolam 300-1.000 m2.

Sirkulasi air yang baik memegang peranan penting dalam pelaksanaan pembesaran udang galah. Sebaiknya air dikolam harus mengalir. Untuk kolam pemeliharaan dengan media yang tidak mengalir kualitas air cenderung menurun setelah satu bulan masa pemeliharaan. Untuk mengatasinya dapat dilakukan penggantian air sebanyak 30-50% dengan air yang baru.

TAHAPAN BUDIDAYA UDANG GALAH

Tahap pembenihan (Benur)

Teknologi pembenihan merupakan cara-cara menghasilkan dan memilih benih (bibit) unggul, sehat dan mencapai ukuran yang baik untuk budidaya. Benih udang galah berbentuk larva dan pasca larva yang siap dibudidayakan dinamakan benur.

Tahap Pendederan

Tahap pendederan ialah tahap mempersiapkan atau membesarkan benih (benur) menjadi benih udang galah yang siap ditebar di kolam yang disebut tokolan. Jadi sebelum benur di tebar di kolam dibesarkan (didederkan) dulu hingga menjadi tokolan (anakan udang). Tujuan pendederan adalah mempersiapkan tokolan yang siap tebar agar masa pembesaran menjadi udang siap panen menjadi lebih singkat. Pendederan benur dapat dilakukan di kolam indoor (kolam di dalam ruangan atau ruang tertutup) atau di kolam outdoor (kolam tanah, empang, sawah atau karamba). 

Agar menghasilkan tokolan yang berkualitas dan mempunyai pertumbuhan yang cepat, benih yang ditebat harus merupakan benih udang galah yang berkualitas. Ciri-ciri benih berkualitas diantaranya; seluruh benih yang akan ditebar harus dari spesies yang sama (monospecies), memiliki ukuran dan umur yang seragam, sehat (tidak berpenyakit), tidak cacat seperti ada kelainan bentuk, dan bergerak aktif. Setelah dipilih benur yang berkualitas, benur siap di tebar di kolam pendederan.

Sebelum ditebar benur harus diaklimatisasi (proses adaptasi) agar tidak stress karena perbedaan suhu yang mendadak antara suhu air di kantong benur dengan suhu air di kolam pembesaran karena benur sangat peka terhadap perubahan suhu. Toleransi perbedaan suhu antara suhu air kantong benur dengan suhu air kolam yang dianggap cukup aman bagi benur sebesar 1-2°C.

Cara melakukan adaptasi (aklimatisasi) ialah;

  • Rendam kantong benur di kolam pembesaran selama 15 menit
  • Bukalah kantong (tempat membawa) benur dan biarkan terbuka selama 15 menit untuk penyesuaian suhu udara.
  • Selama kantong terbuka perciki kantong benur dengan air kolam sedikit demi sedikit.
  • Masukan kantong yang terbuka tersebut ke dalam kolam dan biarkan benur berenang sendiri keluar dari kantong.

Tahap Pembesaran

Langkah selanjutnya dari budidaya udang galah ialah tahap pembesaran yang merupakan proses pembesaran tokolan (anak udang) menjadi udang berukuran siap panen. Teknologi untuk pembesaran tokolan (anak udang) bisa dilakukan dengan dua cara:

  • Sistem Monokultur, yaitu teknologi pembesaran satu jenis, yakni di dalam satu kolam hanya dilakukan pembesaran jenis udang saja.
  • Sistem Polikultur, yaitu teknologi pembesaran lebih dari satu jenis, misalnya dalam sebuah kolam pembesaran terdapat udang dan ikan yang dibudidayakan sekaligus (seperti udang dengan ikan bandeng dan tawes di tambak darat/air pasang surut atau udang bersama tawes atau ikan lain di kolam air tawar atau di sawah).
Teknologi pembesaran udang galah dapat dilakukan dibeberapa tempat yang memiliki karakteristik berbeda diantaranya:

  • Pembesaran udang di kolam air tawar atau empang.
  • Pembesaran udang galah di sawah, dapat dibudidayakan secara polikultur dengan membudidayakan udang galah bersama-sama dengan ikan lain misalnya tawes.
  • Pembesaran udang galah di tambak darat yang berair payau (dengan kadar garam kurang dari 10 permil).
Langkah akhir dari budidaya udang galah adalah panen yang menghasilkan udang konsumsi dengan ukuran 30 ekor per Kg (ukuran medium), dalam masa pemeliharaan selama 60 – 75 hari. Ukuran udang galah hasil panen akan mempengaruhi harga jual. Ukuran super biasanya 10-15 ekor /Kg, ukuran biasa 20-25 ekor /Kg, ukuran medium 30-40 ekor/ Kg, dan ukuran kecil sebanyak 40-60 ekor /Kg.

Berikut ini kriteria udang galah hasil panen yang baik:

  • Kondisi fisik segar dan utuh (tidak cacat).
  • Berwarna biru gelap (badannya berwarna kehijauan);
  • Berkulit keras dan bersih;
  • Tidak berbau lumpur;
PENCEGAHAN HAMA DAN PENYAKIT

Adanya hama dan penyakit ditentukan dengan pemeriksaan yang dilakukan secara visual terhadap organisme pengganggu baik yang bersifat predator maupun kompetitor. Hama yang sering mengganggu dikolam pemeliharaan adalah ikan-ikan liar yang masuk tanpa sengaja seperti ikan gabus, lele dan lain-lain. Untuk mencegah masuknya hama pemangsa tersebut perlu dibuat saringan pada pintu pemasukan dan pengeluaran air kolam berupa hapa yang terbuat dari jaring dengan mesh size 0,2 mm.

Dalam proses pembesaran diperlukan pemeriksaan kesehatan yang dilakukan sebagai berikut :
Pengambilan contoh untuk pengujian kesehatan udang galah (Macrobrachium rosenbergii) dilakukan secara acak dengan jumlah udang sesuai dengan kebutuhan untuk pengamatan visual maupun mikroskopik.

Pengamatan visual dilakukan untuk pemeriksaan adanya gejala penyakit dan kesempurnaan morfologi udang galah (Macrobrachium rosenbergii)  Pengamatan mikroskopik dilakukan untuk pemeriksaan jasad pathogen (parasit, jamur, virus dan bakteri) di laboratorium.

Penyakit yang sering menyerang adalah udang berlumut yang disebabkan kedalaman air di kolam kurang memadai dengan sirkulasi yang kurang baik, untuk mengatasi masalah dengan sirkulasi air bisa dipasang kincir angin.

Sumber:
https://budidayaudang.com/cara-budidaya-udang-galah-air-tawar/
http://www.bibitikan.net/cara-praktis-budidaya-udang-galah-yang-menguntungkan/
https://www.inspirasipertanian.com/2016/12/cara-budidaya-udang-galah-di-kolam.html

Previous
Next Post »

MarisaFood

MarisaFood
Produsen Olahan Ikan Air Tawar