Endoparasit: Infeksi Cacing Anisakis sp


Pendahuluan

Belakangan ini, pemberitaan tentang cacing Anisakis sp yang terdapat pada daging ikan makarel dalam kaleng beredar luas dan menjadi trending di Indonesia. Terakhir, BPOM dan pihak terkait bahkan telah melakukan sidak terhadap berbagai merek makanan kaleng yang berisi ikan makarel dan menemukan cacing Anisakis sp pada berbagai merek ikan makarel kalengan yang beredar dipasaran tersebut. Masyarakatpun akhirnya dihimbau untuk berhati-hati dalam mengkonsumsi ikan makarel dalam bentuk kalengan.
Gambar Anisakis sp
Perlu diketahui bahwa cacing Anisakis sp merupakan parasit penyebab penyakit infeksi yang paling umum dijumpai di ikan laut liar terutama yang bersifat karnivor dan omnivora. Anisakis sp merupakan salah satu endoparasit adalah dari golongan Nematoda, cacing ini menginfeksi usus, lambung dan daging ikan. Masuknya cacing ini ke tubuh ikan adalah melalui makanan seperti udang, siput, ikan-ikan kecil yang semuanya merupakan inang perantara dalam siklus hidup cacing ini. Oleh sebab itu, ikan yang bersifat karnivora dan omnivora mempunyai kemungkinan terinfeksi cacing Nematoda yang jauh lebih besar dibanding ikan herbivora. Cacing Anisakis sp sering dijumpai menginfeksi ikan kakap putih, ikan kakap merah, ikan cakalang, ikan tongkol dan ikan kembung .

Anisakis sp. merupakan endoparasit yang bersifat zoonosis (penyakit pada ikan yang dapat ditularkan ke manusia) dan menyebabkan penyakit Anisakidosis. Di Indonesia kasus Anisakiasis pernah dilaporkan di Sidoarjo Jawa Timur pada tahun 1996. Infeksi Anisakis sp dapat berdampak terhadap kesehatan manusia dan menyebabkan beberapa gejala seperti nyeri perut, mual, muntah, reaksi alergi dan gingivostomatiti.

Penularan Anisakis sp pada manusia terjadi apabila manusia memakan ikan laut yang kurang matang atau mentah yang mengandung larva stadium III (L3) aniasakid dalam dagingnya, yang mengakibatkan granuloma eosinofilik yang parah pada usus manusia. Larva Anisakis sp yang termakan, kemudian masuk melalui saluran pencernaan manusia dan menembus dinding lambung atau usus sehingga mengakibatkan granuloma eosinofilik yang parah.

Sistematika dan Morfologi Anisakis sp

Adapun klasifikasi cacing Anisakis sp adalah sebagai berikut:
Kingdom              : Animalia
Phylum                 : Nematoda
Klass                     : Secernentea
Ordo                     : Ascaridida
Genus                   : Anisakis
Spesies                 : Anisakis sp

Berdasarkan morfologi, Anisakis sp dikelompokkan menjadi Anisakis Type I dan Anisakis Type II. Perbedaan didasarkan pada ukuran ventrikulus dan keberadaan mukron pada ujung posterior. Anisakis Type I memiliki ventrikulus yang lebih panjang dan terdapat mukron pada ujung posterior. Sedangkan Anisakis Type II ventrikulus lebih pendek dan tidak memiliki mukron.

Anisakis sp, berbagi fitur-fitur umum dari semua nematoda; yang berbentuk tubuh seperti ulat, bundar dan bersegmen. Dengan rongga sempit seperti pseudocoel. Mulut terletak pada anterior, dengan anus terletak posterior. Epitel skuamosa mengeluarkan cairan kutikula yang berlapis yang melindungi tubuh dari cairan pencernaan. Seperti semua parasit dengan siklus hidup kompleks yang melibatkan sejumlah inang, rincian morfologi bervariasi tergantung pada inang dan tahap siklus hidup parasit yang masuk pada saat menginfeksi ikan. Panjang parasit ini pada saat dewasa kira-kira 2 cm. Ketika di inang target, Anisakis lebih panjang, lebih tebal dan lebih kokoh, untuk beradaptasi dengan lingkungan berbahaya dari usus mamalia.

Siklus Hidup Anisakis sp

Anisakis sp, memiliki siklus hidup yang kompleks melewati beberapa inang melalui perjalanan hidupnya. Telur menetas dalam air laut dan larva yang dimakan oleh krustasea, biasanya Euphausids. Krustasea terinfeksi kemudian dimakan oleh ikan atau cumi-cumi. Nematoda masuk ke dalam dinding usus dan encysts dalam mantel pelindung, biasanya di bagian luar visceral organ, tetapi kadang-kadang di otot atau di bawah kulit. Siklus hidup selesai ketika ikan terinfeksi dimakan oleh mamalia laut, seperti ikan paus, anjing laut, atau lumba-lumba.

Anisakidae memiliki siklus hidup yang kompleks. Anisakis sp, dewasa ditemukan di dalam perut mamalia laut, dimana mereka melekat dalam mucosa secara berkelompok. Produksi telur parasit dewasa dilepaskan keluar melalui fases mamalia. Perkembangan telur secara embryonasi terjadi di dalam air, dan larva L1 dibentuk dalam perut. Larva mengalami molting, menjadi L2 yang berenang bebas di badan air setelah mereka lepas dari telur. Larva tersebut termakan oleh krustacea. Larva yang termakan akan berkembang menjadi L3 yang menginfeksi ikan dan cumi-cumi. Setelah inang mati, larva migrasi ke jaringan otot, dan melalui predator larva berpindah dari ikan ke ikan. Ketika ikan atau cumi-cumi yang terkandung larva L3 Anisakis termakan oleh mamalia laut, larva akan mengalami molting kedua dan berkembang menjadi cacing dewasa.

Telur Anisakis sp yang dikeluarkan bersamaan dengan feces hospes akan menetas di air. Larva stadium kedua yang keluar dari telur akan ditelan oleh hospes pertama lalu berkembang menjadi larva stadium ketiga awal. Hospes perantara pertamanya adalah udang Thysanoesaa dan Euphausia. Bila hospes pertama ini dimakan oleh hospes perantara kedua, didalam tubuhnya berkembang menjadi larva stadia ketiga lanjutan. Hospes perantara kedua dan hospes parateniknya berupa ikan laut, cumi-cumi dari berbagai jenis, dan membentuk rantai penularan satu dengan yang lainnya sedemikian kompleksnya.

Laporan menyebutkan bahwa angka infeksi pada lumba-lumba bisa mencapai 70% dan jumlah cacing pada seekor lumba-lumba bisa mencapai 1.200 ekor cacing. Survai yang pernah dilakukan pada 11 lumba-lumba Commerson (Cephalorhynchus commersonii) di perairan Atlantik Selatan menunjukkan bahwa nematoda dari spesies Anisakis memiliki prevalensi yang tinggi (100% di Patogonia bagian tengah dan 87% di Tiera del Fuego). Dengan demikian, nematoda zoonotik seperti Anisakis sp, memiliki potensi untuk dijadikan indikator perairan, atau kondisi kesehatan satwa liar yang ada di perairan tersebut.

Anisakis sp dan Makanan Kalengan

BPOM telah merilis temuan 27 produk ikan kemasan kaleng jenis makerel yang mengandung cacing dan 16 di antaranya berasal dari produk jadi ikan makarel kemasan kaleng dari Cina. Produk ikan makarel kaleng tersebut positif mengandung cacing parasit jenis Anisakis sp.

Dari 27 merek produk ikan makarel kaleng, 11 produk di antaranya merupakan produk dalam negeri. Sementara untuk produk lokalnya pun, bahan bakunya tetap berasal dari luar negeri. Bahan baku impor itu kemudian diolah di Indonesia.

Cacing Anisakis sp ini termasuk golongan Nematoda yang hidup dalam tubuh ikan air laut, sedangkan di Indonesia cacing ini punya habitat hidup di ikan kakap, kerapu, kembung, kuwe dan berbagai macam jenis ikan karnivora lainnya. Prevalensi cacing Anisakis sp dalam tubuh ikan sangat bervariasi, tergantung pada musim. Akibat pengaruh perubahan iklim global, diduga ikan-ikan yang hidup di belahan negara subtropis kemudian menular pada ikan-ikan dari daerah tropis.

Pada tubuh ikan, cacing Anisakis sp menempati lokasi yang bervariasi seperti dalam otot dan organ-organ dalam. Bila manusia makan ikan sarden atau makarel yang didalamnya terdapat cacing Anisakis, secara langsung tidak berakibat apa-apa, karena ikan sudah dimasak dengan pemanasan suhu tinggi. Dalam kondisi dipanaskan dalam suhu tinggi, cacing Anisakis sp sudah mati akibat proses memasak tersebut. Lain halnya jika ikan salmon hanya dimasak cepat seperti ditempel di wajan, hotplate, bila proses setengah matang, bisa jadi cacing tersebut masih tetap aktif.

Berbagai penelitian yang dilakukan sejak saat itu menunjukkan bahwa prevalensi Anisakis dari tahun ke tahun semakin meningkat.

Referensi:
Muhammad Zainul Muttaqin dan Nurlita Abdulgani., Prevalensi dan Derajat Infeksi Anisakis sp. pada Saluran Pencernaan Ikan Kakap Merah (Lutjanus malabaricus) di Tempat Pelelangan Ikan Brondong Lamongan, JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 2, No.1, (2013)

Prasetyarti Utami, Identifikasi Anisakis sp. Pada Beberapa Ikan Laut Di Beberapa Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Cilacap, Jurnal Matematika, Saint, dan Teknologi, Volume 15, Nomor 1
https://tirto.id/penjelasan-ahli-parasitologi-soal-cacing-anisakis-di-makarel-kaleng-cG1J

Previous
Next Post »

MarisaFood

MarisaFood
Produsen Olahan Ikan Air Tawar