![]() |
| Mata air di hulu sungai salah satu air permukaan sebagai sumber air untuk kegiatan budidaya ikan |
Dengan mengetahui kondisi dan komposisi air, maka pembudidaya dapat melakukan manipulasi dan treatment terhadap sumber air yang akan digunakan untuk budidaya agar kondisinya dapat disesuaikan dengan kondisi yang optimum bagi ikan. Berdasarkan asalnya, sumber air yang dapat digunakan untuk kegiatan budidaya ikan dikelompokkan menjadi dua yaitu air permukaan dan air tanah.
1. Air Permukaan
Air permukaan yaitu air hujan yang mengalami limpasan/ berakumulasi sementara ditempat-tempat yang rendah seperti air sungai, waduk, danau dan rawa. Dengan demikian, air permukaan dapat didefenisikan sebagai air yang berada disungai, danau, waduk, rawa dan badan air lainnya yang tidak mengalami infiltrasi kedalam.
Berdasarkan salinitasnya, air permukaan yang biasa digunakan untuk kegiatan budidaya ikan dibagi menjadi tiga, yaitu air tawar, air payau dan air laut. Air tawar adalah air yang memiliki kadar garam (salinitas) antara 0–5 ppt. Air payau adalah air yang memiliki kadar garam (salinitas) antara 6–29 ppt. Air laut adalah air yang memiliki kadar garam (salinitas) antara 30–35 ppt.
Ketiga jenis air ini dapat dipergunakan untuk kegiatan budidaya ikan dengan menyesuaikan komoditas yang akan dibudidayakan. Pada air tawar dipergunakan untuk membudidayakan ikan air tawar, pada air payau dipergunakan untuk membudidayakan ikan air payau dan air laut untuk membudidayakan ikan air laut.
Berdasarkan lamanya terakumulasi pada suatu tempat, air permukaan dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu perairan tergenang (Lentik) dan air permukaan mengalir (Lotik). Perairan lentik misalnya danau, waduk dan situ, sedangkan perairan lotik antara lain adalah sungai, saluran irigasi dan air laut.
2. Air Tanah
Air tanah yaitu air hujan yang mengendap atau air yang berada dibawah permukaan tanah. Air tanah yang saat ini digunakan untuk kegiatan budidaya dapat diperoleh melalui cara pengeboran tanah dengan kedalaman tertentu sampai diperoleh titik sumber air yang akan keluar dan dapat dipergunakan untuk kegiatan budidaya ikan.
Dalam kegiatan budidaya, sumber air yang berasal dari air tanah mempunyai kelebihan dalam hal kebersihannya, sedangkan kekurangannya adalah pada kandungan oksigen yang rendah, kadar karbondioksida yang tinggi dan kandungan besi yang relatif tinggi.
Jika pembudidaya harus menggunakan air tanah untuk kegiatan budidaya, maka air tanah harus ditreatment terlebih dahulu menggunakan aerator/ kincir air /blower untuk meningkatkan kandungan oksigen terlarut. Air tanah juga sebaiknya diinapkan minimal selama 12 jam sebelum digunakan. Hal ini dimaksudkan agar ion besi yang ada di dalam air tanah teroksidasi dan mengalami pengendapan.
Kandungan oksigen yang rendah pada air tanah dikarenakan pergerakannya di dalam tanah sangat lambat dan sangat dipengaruhi oleh porositas, permeabilitas dari lapisan tanah dan pengisian kembali air. Air tanah berdasarkan kandungan salinitasnya merupakan air tawar yang dapat dipergunakan untuk budidaya ikan air tawar.
3. Baku Mutu Air Untuk Usaha Budidaya Ikan
Air yang dapat dipergunakan untuk usaha budidaya ikan adalah air yang bersih, baik air permukaan maupun air tanah yang sesuai dengan strandar baku mutu air untuk kegiatan budidaya. Secara khusus, standar baku mutu air untuk kegiatan budidaya ikan merupakan parameter yang meliputi 3 karakteristik, yaitu karateristik fisik (suhu, debit air, kecerahan, salinitas), karateristik kimia (pH, alkalinitas, kadar oksigen, karbondioksida, amoniak, nitrit, fospat) dan karakteristik biologi (kerapatan plankton dan benthos).
Tabel dibawah ini merupakan contoh baku mutu air untuk budidaya beberapa jenis ikan yang biasa dipelihara di Indonesia.

Sebagian besar manajemen kualitas air ditujukan untuk memperbaiki kondisi kimia dan biologi dalam media budidaya. Faktor fisika sering tidak dapat dikontrol atau tergantung dengan pemilihan lokasi yang sesuai. Faktor fisika sangat tergantung dengan kondisi geologi dan iklim suatu tempat.
Air yang berasal dari danau, waduk dan situ merupakan sumber air tawar yang banyak digunakan untuk kegiatan budidaya ikan dengan metode budidaya di perairan umum yaitu karamba jaring apung. Pada perairan tergenang yang perlu diperhatikan adalah terjadinya stratifikasi secara vertikal yang diakibatkan oleh perbedaan intensitas cahaya dan perbedaan suhu secara vertikal pada kolom air.
Air yang digunakan untuk kegiatan budidaya ikan yang berasal dari air mengalir dan banyak dipergunakan oleh masyarakat adalah air sungai untuk budidaya ikan air tawar dan air laut untuk budidaya ikan air laut. Air sungai merupakan sumber air yang murah dan tidak memerlukan biaya tetapi sumber air ini memiliki kandungan lumpur yang cukup tinggi, sehingga dalam pemakaiannya sebaiknya dimasukkan terlebih dahulu pada bak pengendapan.
Keuntungan budidaya menggunakan sumber air mengalir adalah kandungan oksigen yang cukup tinggi. Walaupun sumber air tersebut berasal dari alam harus diperhatikan juga tentang kontinuitas ketersediaan air tersebut untuk kegiatan budidaya. Pada kegiatan budidaya ikan, jumlah air yang dibutuhkan tidak sedikit dan harus tersedia secara terus-menerus. Untuk persyaratan budidaya ikan, sumber air harus cukup dan tersedia sepanjang tahun karena karena akan dipergunakan untuk budidaya yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia.
Kebutuhan air pada wadah budidaya ikan harus disesuaikan dengan jumlah persediaan air sumber. Persediaan air sumber diukur dengan cara mengukur debit air saluran. Debit air saluran merupakan jumlah air yang mengalir dalam saluran yang dinyatakan dengan ukuran liter per detik.
4. Komponen Kualitas Air yang Mempengaruhi Kegiatan Budidaya Ikan
Indikator kualitas air yang biasa digunakan untuk menilai kelayakan untuk budidaya biasanya didasarkan pada faktor fisika dan kimia air pada kolom air. Faktor fisika air yang diamati antara lain suhu, kecerahan, dan partikel tersuspensi, sedangkan faktor kimia antara lain biological oxygen demand (BOD), chemical oxygen demand (COD), dissolved oxygen (DO), alkalinitas, bahan organik, amonia, fosfat, dan lain-lainnya.
Indikator kualitas air yang dewasa ini mulai banyak dikembangkan adalah indikator secara biologi, yaitu pengamatan terhadap organisme yang hidup dalam suatu perairan. Indikator ini dianggap sangat penting karena parameter fisika dan kimia air mempengaruhi keberadaan organisme yang hidup di perairan tersebut. Indikator biologi yang sering digunakan dalam menilai kualitas air adalah keberadaan organisme macrobenthic dan plankton.

ConversionConversion EmoticonEmoticon