Mengenal Budidaya Lele Sistem Bioflok

Pendahuluan

Secara umum pengertian bioflok adalah kumpu-lan dari berbagai organisme baik bakteri, jamur, protozoa, maupun algae yang tergabung dalam sebuah gumpalan (floc). Bioflok berasal dari kata “BIOS” yang berarti kehidupan dan “FLOC” yang artinya gumpalan. Pada awalnya teknologi bioflok merupakan teknologi pengolahan limbah berupa lumpur aktif yang melibatkan aktifitas mikro-organisme.
Kolam Bundar: Wadah budidaya yang biasa digunakan dalam budidaya lele sistem bioflok
Dalam penerapan pengolahan limbah, bahan or-ganik berupa limbah lumpur harus terus diaduk dan diaerasi. Tujuannya adalah agar limbah sela-lu dalam kondisi tersuspensi sehingga dapat di-uraikan oleh bakteri heterotrof secara aerobik menjadi senyawa anorganik.

Keharusan pengadukan dalam teknologi pengo-lahan limbah ini dikarenakan jika bahan organik mengendap, maka akan terjadi kondisi yang anaerob dimana bakteri  anaerob terangsang untuk mengurai bahan organik menjadi  senyawa yang lebih sederhana dan bersifat racun (ammonia, nitrit,  H2S, dan metana).

Dalam perkembangannya konsep teknologi bioflok tersebut diadopsi untuk kegiatan akuakul-tur. Awalnya konsep ini diterapkan dalam budidaya nila secara intensif di Thailand, kemudian berlanjut pada usaha budidaya udang. Seiring berjalannya waktu teknologi ini juga sudah diadopsi untuk budidaya lele dengan wadah kolam bundar.

Konsep teknologi bioflok dalam akuakultur adalah untuk mendaur ulang senyawa nitrogen anorganik (amonia yang bersifat racun) menjadi protein sel mikroba yang dapat dimakan oleh hewan pemakan detritus seperti nila, udang dan juga lele.

Persiapan Wadah Budidaya

Persiapan wadah budidaya merupakan tahapan awal dari semua proses budidaya, tidak terkecuali dengan teknologi bioflok. Tujuan utama dari per-siapan wadah budidaya adalah untuk memastikan bahwa wadah telah siap untuk digunakan dalam proses budidaya.

Keberhasilan kegiatan budidaya dengan sistem bioflok sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita mempersiapkan wadah budidaya. Sterilisasi wa-dah budidaya menjadi penting agar kontaminasi bakteri dan penyakit dari sisa budidaya pada siklus sebelumnya dapat dihilangkan. Pada kasus wadah budidaya yang baru dimana belum pernah dipergunakan untuk kegiatan budidaya maka sterilisasi dapat diabaikan, akan tetapi perlu diperhatikan agar sisa-sisa zat kimia sebagai ikutan dari bahan pembuatan wadah budidaya dapat hilangkan dengan treatment khusus.

Jika wadah budidaya telah dipergunkan sebelum-nya maka sterilisasi wajib dilakukan sebagai pra-syarat biosecurity. Sterilisasi dilakukan dengan cara merendam wadah budidaya mengunkan larutan klorin sebanyak 30 ppm. Caranya adalah dengan mengisi wadah budidaya dengan air hingga penuh kemudian masukkan klorin dengan dosis 30 ppm.

Setelah itu aerasi/ aduk dengan cara menyalakan aerasi secara penuh selama 1 jam kemudian biarkan selama 3 hari hingga bahan aktif klorin bereaksi secara sempurna. Bagian luar dari wadah yang memungkinkan masih bisa terkontaminasi juga harus disterilisasi dengan cara menyemprotkan klorin 30 ppm dan kemudian siram/ bilas dengan air bersih.

Pembentukan Air Media

Tahapan selanjutnya yang sangat penting dalam kegiatan budidaya dengan sistem bioflok adalah mempersiapkan air yang akan dipergunakan sebagai media pemeliharaan. Dikarenakan dalam sistem bioflok, air tidak hanya untuk memelihara ikan, tetapi juga untuk menumbuhkan bakteri/ mikroorganisme sebagai komponen pembentuk flok, maka media pemeliharaan harus dipersiap-kan dengan cermat dan tepat agar organisme yang kita harapkan bisa tumbuh dan mendomi-nasi media (air).
Pembentukan Air Media: Timbul busa dan air terasa licin
Pengkondisian media pemeliharaan menjadi salah satu poin kritis yang dapat menjadi penentu keberhasilan budidaya dengan sistem bioflok. Kegiatan budidaya dengan sistem bioflok bisa dikatakan gagal apabila kita tidak bisa mengkondisikan dan membentuk media pemeliharaan. Bukan kondisi baik yang muncul, tetapi justru kondisi beracun yang akan meracuni ikan yang akan dibudidayakan.

Untuk menumbuhkan bakteri dan organisme pembentuk flok maka air perlu ditreatment dan diberikan perlakuan berupa penambahan garam krosok sebanyak 5 Kg/ M3, mollase 100 ml/ M3, Kapur 200 gr/ M3 serta aplikasi bakteri flocer. Sebelum diaplikasikan; garam, mollase, dan kapur diencerkan terlebih dahulu dan ditebar secara merata ke dalam kolam.

Setelah semua bahan diaplikasikan dan ditebar secara merata ke dalam kolam, kondisikan air dengan memberikan aerasi secara kuat selama 5-7 hari. Perubahan media pada masa persiapan air akan terlihat dengan berubahnya warna air menjadi hijau kecoklatan, timbul busa dipermukaan air dan jika dipegang air akan terasa licin. Setelah media pemeliharaan terbentuk dengan ciri-ciri diatas maka langkah selanjutnya adalah penebaran benih.

Pemilihan dan Penebaran Benih

Benih yang dipergunakan harus merupakan benih unggul dan berasal dari hatchery atau UPR yang terpercaya. Adapun ciri-ciri benih yang baik adalah sebagai berikut:
  • Ukuran benih seragam;
  • Warna benih seragam;
  • Gerakan lincah dan aktif;
  • Organ tubuh lengkap;
  • Benih berasal dari induk yang bersertifikat;
  • Usahakan benih dalam satu kolam berasal dari satu induk.

Langkah berikutnya setelah melakukan pemilihan dan seleksi benih adalah melakukan penebaran benih ke dalam wadah budidaya. Hal yang harus diperhatikan dengan baik saat penebaran benih adalah kondisi cuaca dan kondisi media pemeli-haraan. Jika kondisi media pemeliharaan belum terbentuk maka tebar benih harus ditunda. Hal yang perlu diperhatikan dalam penebaran benih:
  • Benih dalam kondisi puasa saat akan ditebar;
  • Hindari suhu ekstrim pada waktu penebaran benih (siang pada saat terik matahari);
  • Lakukan aklimatisasi dengan suhu kolam;
  • Penambahan probiotik/ dekomposer pada saat tebar benih;
  • Benih dipuasakan 2 hari, dengan tujuan agar proses adaptasi berlangsung cepat dan sempurna;
  • Pemberian pakan pertama kali sedikit (20% dari kapasitas) karena lambung dan organ pencernaan lainnya harus beradaptasi setelah puasa.

Manajemen Pemberian Pakan

Pemberian dan dosis pakan harus disesuaikan dengan perkembangan ikan yang dibudidayakan, Ukuran pakan harus diperhatikan agar sesuai dengan bukaan mulutnya. Dalam manajemen pakan sistem bioflok, fermentasi pakan mutlak diperlukan sebelum diberikan kepada ikan. Tujuan utama dari perlakuan fermentasi pakan adalah untuk meningkatkan daya cerna pakan sehingga pemberian pakan akan lebih efisien.

Cara melakukan fermentasi pakan adalah dengan mencampur 1 kg pakan, 300 ml air dan mollase sampai berwarna coklat tua. Kemudian diberi probiotik 2-5 cc dan aduk hingga merata. Peram selama 2 hari sebelum digunakan.

Dalam pemberian pakan hal-hal yang perli diperhatikan adalah sebagai berikut:
  • Porsi pakan disesuaikan dengan daya tumbuh optimum per hari (ADG);
  • Frekuensi pakan sesuai dengan waktu daya cerna ikan (metabolisme), yakni 2 kali perhari;
  • Porsi pakan 80% dari daya kenyang;
  • Waktu pemberian pakan harus sesuai rutinitas (tepat waktu);
  • Penggunaan pakan fermentasi untuk efisiensi pakan.

Manajemen Kualitas Air

Pengamatan dan pengukuran kualitas air secara berkaala pada budidaya lele sistem bioflok sangat dianjurkan untuk melakukan pemantauan secara real time sehingga jika terjadi anomali terhadap kualitas air dapat segera diatasi.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan manajemen kualitas air adalah sebagai berikut:
  • Pemberian probiotik secara berkala;
  • Pengapuran secara rutin untuk menjaga kualitas air (alkalinitas);
  • Pengapuran rutin untuk menghindari booming plankton (blue green algae);
  • Pembuangan endapan secara berkala untuk menghindari penumpukan limbah organik;
  • Penggantian air bawah maksimum 30%.

Sumber:

  • https://www.bagi-in.com/cara-budidaya-lele-bioflok/
  • https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4114222/cerita-komarudin-sukses-budidaya-lele-yang-tak-amis-dengan-bioflok
Newest
Previous
Next Post »

MarisaFood

MarisaFood
Produsen Olahan Ikan Air Tawar